Inflasi Sumut Terjaga di Level Rendah

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Utara mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) empat kota di Sumut mengalami penurunan harga atau deflasi 0,51% secara bulanan pada November 2018.
Ropesta Sitorus | 03 Desember 2018 20:48 WIB
Susana di pasar tradisional - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, MEDAN - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Utara mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) empat kota di Sumut mengalami penurunan harga atau deflasi 0,51% secara bulanan pada November 2018.

Kondisi itu lebih rendah dibandingkan dengan realisasi inflasi bulan lalu sebesar 1,31% (month to month).

Kabid Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Bismark SP Sitinjak menuturkan deflasi Sumut pada November terjadi karena didorong deflasi di tiga dari empat kota yang dijadikan IHK.

Di Medan misalnya terjadi deflasi 0,64%, Sibolga 0,28% dan Pematangsiantar 0,01%. Adapun kota yang mengalami inflasi hanya Padangsidempuan sebesar 0,50%.

Penurunan harga bahan makanan menggiring inflasi November ke level yang rendah terutama pada komoditas utama seperti cabai merah dan cabai rawit. Adapun, inflasi kelompok pengeluaran lainnya relatif stabil.

“Terjadinya deflasi di tiga kota IHK antara lain didorong penurunan harga cabai merah dan gula pasir. Di Medan misalnya harga kelompok bahan makanan turun 3,30%, kelompok sandang 0,24% dan kesehatan 0,10%,” katanya.

Bismark menuturkan secara tahun berjalan, Sumut mengalami inflasi 1,07% dan secara tahunan sebesar 1,77%. Kondisi ini di bawah inflasi nasional sebesar 0,27% pada November 2018 atau 2,50% secara tahun berjalan maupun inflasi tahunan sebesar 3,23%.

Sementara itu, Bank Indonesia menyatakan inflasi tahunan Sumut sebesar 1,77% year on year (YoY) lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya 2,73% (YoY) serta berada di bawah rata-rata historis 5 tahun terakhir sebesar 6,21% (YoY)

“Penurunan harga bahan makanan diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau,” kata Pjs Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut Hilman Tisnawan pada kesempatan yang berbeda.

Sementara itu, tekanan inflasi terjadi pada kelompok perumahan dan transportasi. Hal ini sejalan dengan kenaikan harga semen, beton, sewa rumah dan angkutan udara.

“Kenaikan harga pada kedua kelompok ini mengindikasikan adanya kenaikan permintaan dan konsumsi masyarakat yang relatif masih baik serta diharapkan masih kondusif bagi perkembangan dunia usaha ke depan,” paparnya.

Prestasi inflasi yang rendah tersebut masih dibayangi oleh potensi kenaikan harga pangan strategis. Apalagi secara historis, pada akhir tahun kenaikan harg aakan dibayangi oleh beberapa risiko sejumlah komoditas pangan tertentu khususnya menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Selain karena faktor permintaan dan pasokan, kondisi curah hujan dan gelombang laut yang tinggi akan menjadi problem yang mempengaruhi jalur distribusi.

Kendati demikian, Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi Sumut pada akhir tahun diperkirakan berada di bawah sasaran yakni 3,5%±1% (yoy) dengan bias bawah.

“Berdasarkan pola historisnya, inflasi Desember selama 3 tahun terakhir mencapai 0,77%. Dengan asumsi demikian, inflasi akhir tahun 2018 diperkirakan berada dibatas bawah sasaran.”

Dalam rangka pengelolaan inflasi, KPw Bank Indonesia Sumut dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumut berkomitmen mengawal inflasi rendah untuk menjaga daya beli masyarakat.

Akhir bulan lalu, TPID Sumut juga menyepakati pembentukan roadmap pengendalian inflasi tahun 2019-2021 yang fokus pada keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi serta komunikasi yang efektif.

Tag : Inflasi, sumut
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top