PERKARA HUKUM : CIMB Niaga & Garuda Digugat ke Pengadilan

JAKARTA – Nasabah PT Bank CIMB Niaga Tbk. Tony Mampuk menggugat bank berkode saham BNGA itu atas perkara perbuatan melawan hukum ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
Yanuarius Viodeogo | 13 November 2018 02:00 WIB

JAKARTA – Nasabah PT Bank CIMB Niaga Tbk. Tony Mampuk menggugat bank berkode saham BNGA itu atas perkara perbuatan melawan hukum ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Selain CIMB Niaga, Tony juga menggugat PT Garuda Indonesia Tbk. dengan perkara yang sama, yang terdaftar dengan No. 624/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Pst, pada 8 November 2018.

David Tobing, kuasa hukum Tony Mampuk (penggugat) mengatakan bahwa gugatan tersebut dilayangkan kepada CIMB Niaga dan Garuda Indonesia (tergugat) karena adanya tagihan kartu kredit tanpa pemberitahuan kepada penggugat sebagai nasabah.

“Garuda Indonesia dan CIMB Niaga harus menjelaskan kenapa bisa terjadi penagihan kepada klien saya [dalam agenda mediasi pengadilan]. Sebelumnya, dia [Tony] sudah meminta kepada Garuda dan CIMB supaya memberikan penjelasan, tetapi pernyataan saling kontradiktif," kata David kepada Bisnis, Senin (12/11).

Dia menjelaskan, gugatan tersebut bermula ketika penggugat membeli tiket penerbangan kepada Garuda Indonesia. Namun, belakangan penggugat melakukan pembatalan penerbangan dan meminta kepada Garuda Indonesia untuk mengembalikan uang tiket (refund) senilai Rp52,79 juta.

Permintaan penggugat, kata David, disetujui oleh Garuda Indonesia dan uang pembelian tiket

sudah dikembalikan senilai Rp52,79 juta pada 12 Juli 2018. Pengembalian dana tersebut melalui sistem transfer ke rekening kartu kredit CIMB Niaga atas nama penggugat.

“Penggugat telah menggunakan uang refund tersebut untuk keperluan membayar tagihan-tagihan kartu kredit [lain] dan sebagian telah penggugat pindahkan ke rekening [bank lain] penggugat,” tuturnya.

Namun, lanjutnya, penggugat mendapatkan tagihan dari CIMB Niaga senilai Rp52,79 juta, padahal sebelumnya Garuda menyatakan telah mentransferkan uang refund tiket penggugat ke kartu kredit CIMB Niaga milik penggugat.

Di sisi lain, imbuhnya, pihak CIMB Niaga menyatakan bahwa tidak ada uang masuk senilai Rp52,79 juta dari pihak Garuda, seperti yang sudah disampaikan oleh penggugat kepada bank itu.

"Penggugat meminta konfirmasi kepada CIMB Niaga. Penggugat juga meminta kepada Garuda Indonesia dan CIMB Niaga untuk menjelaskan [soal] transaksi itu. Tapi, keduanya memberikan penjelasan kontradiktif," ujarnya.

David menjelaskan, pada akhirnya penggugat membayar tagihan kartu kredit dari CIMB Niaga senilai Rp52,79 juta agar terlepas dari bunga tagihan tersebut.

"Kecewa dengan jawaban tersebut [CIMB Niaga dan Garuda], dan [merasa] dirugikan [karena] terpaksa membayar tagihan itu, penggugat mengajukan gugatan,” kata dia.

David menilai, keduanya telah melanggar ketentuan Surat Edaran Bank Indonesia (SE BI) No. 14/17/DASP yang mewajibkan adanya pemberitahuan transaksi (transaction alert) kepada pemegang kartu kredit, baik itu melalui email, telepon atau sarana elektronik lainnya.

GANTI RUGI

Oleh karena itu, pihaknya menuntut ganti rugi materiel sebesar Rp52,79 juta dan ganti rugi immateriel Rp5,27 miliar. "Gugatan ini diajukan untuk dijadikan pembelajaran dan perbaikan bagi Garuda Indonesia dan CIMB Niaga agar mematuhi peraturan yang berlaku dan menghargai hak-hak konsumen serta menjalankan usaha dengan prinsip kehati-hatian," ujarnya.

Ketika dikonfirmasi, Sekretaris Perusahaan Garuda Indonesia Ikhsan Rosan menjelaskan, pihaknya kemudian melakukan penelusuran terhadap proses transaksi tersebut.

Menurut dia, Garuda Indonesia sudah menjalani prosedur pengembalian tiket kepada Tony Mampuk.

"Setelah kami telusuri, dia [Tony] membeli tiket dengan kartu A, sesuai permintaan dia kami mengembalikan refund ke kartu B. Ketika ada penagihan, mungkin di situ ada proses di luar Garuda ya," kata dia.

Secara terpisah, Head of Marketing, Brand and Communications Bank CIMB Niaga Toni Darusman mengatakan bahwa pihaknya bersimpati atas ketidaknyamanan yang dialami oleh nasabahnya, Tony Mampuk.

"CIMB Niaga bersimpati dan kami telah menghubungi nasabah dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Kami juga menghormati langkah hukum yang ditempuh nasabah," kata Toni.

Dalam petitum gugatan, selain meminta Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menghukum para tergugat secara tanggung renteng membayar ganti rugi, penggugat juga meminta pengadilan menyatakan sah dan berharga sita jaminan terhadap aseth-aset para tergugat.

Selanjutnya, menyatakan putusan dalam perkara itu dapat dijalankan terlebih dahulu (uitvoerbaar bij voorrad), meskipun ada upaya hukum verzet, banding, kasasi, maupun peninjauan kembali.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top