EKSPANSI PERUSAHAAN RINTISAN : Bukalapak Akuisisi Prelo

JAKARTA — Bukalapak mengakuisisi perusahaan dagang-el penyedia platform pasar daring barang bekas pakai, Prelo, dengan tujuan memperkuat tenaga kerja perusahaan.
N. Nuriman Jayabuana
N. Nuriman Jayabuana - Bisnis.com 16 Oktober 2018  |  02:00 WIB

JAKARTA — Bukalapak mengakuisisi perusahaan dagang-el penyedia platform pasar daring barang bekas pakai, Prelo, dengan tujuan memperkuat tenaga kerja perusahaan.

Chief Strategy Officer Bukalapak Teddy Oetomo mengungkapkan, kesepakatan akuisisi dengan tujuan merekrut sumber daya manusia atau acquihire yang dilakukan Bukalapak adalah langkah strategis perusahaan untuk menambah barisan talenta.

Dalam proses acquihire biasanya perusahaan yang mengakuisisi sepakat untuk mempertahankan komposisi inti tim di dalam perusahaan yang dicaplok.

“Kami mengakuisisi talenta-talenta dari Prelo yang memiliki talenta unik dan istimewa yang sesuai dengan kebutuhan Bukalapak,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (15/10).

Melalui kesepakatan tersebut, Bukalapak turut mempercayakan pendiri Prelo, Fransiska Hadiwidjana, untuk mengemban tugas baru sebagai Head of Business Bukalapak.

Teddy enggan memaparkan secara detail langkah yang akan dilakukan Bukalapak selanjutnya setelah merampungkan kesepakatan tersebut. Belum diketahui apakah Prelo akan tetap beroperasi secara independen atau melebur ke dalam platform Bukalapak.

Sebelumnya, pendiri sekaligus CEO Bukalapak Achmad Zaky kepada Bisnis di sela pertemuan tahunan IMF-World Bank, Nusa Dua, Bali pekan lalu menyebutkan telah merampungkan dua kesepakatan acquihire.

Zaky menyatakan langkah akuisisi merupakan salah satu strategi yang dilakukan perusahaan agar dapat terus lincah mengembangkan produk inovatif terbaru, termasuk berbagai bidang yang berada di luar keahliannya.

Dalam mengembangkan suatu produk inovatif, Bukalapak biasanya mengutamakan talenta dan sumber daya yang sudah dimiliki perusahaan. Meski pun demikian, Zaky menyatakan tetap membuka peluang untuk mempercepat pengembangan inovasi termasuk dengan bermitra atau mengakuisisi perusahaan lain.

“Biasanya memang Bukalapak develop semua produknya sendiri, tapi baru saja kami akuisisi dua startup dengan model acquihire,” ujarnya.

Prelo merupakan platform pasar daring barang bekas pakai yang menjalankan model bisnis C2C (consumer-to-consumer) seperti halnya Bukalapak. Perusahaan itu secara spesifik memiliki visi untuk memerangi peredaran barang palsu dengan menghadirkan platform jual beli barang tangan kedua bagi penggunanya.

Prelo berkantor pusat di Bandung, lokasi pusat riset dan pengembangan yang direncanakan oleh Bukalapak.

Investasi ke Crowde

Sementara itu, perusahaan rintisan teknologi finansial untuk bidang pertanian, Crowde, memperoleh pendanaan tahap awal dari perusahaan modal ventura asal Jepang, Gree Ventures.

CEO Crowde Yohanes Sugihtononugroho ingin mempergunakan pendanaan tersebut untuk mendukung misi perusahaan mendigitalisasi proses pertanian dari hulu ke hilir dengan memperluas akses modal bagi petani.

“Dana tambahan ini akan kami gunakan untuk meningkatkan jumlah petani yang dapat memperoleh tambahan modal karena kami menyadari masih banyak petani yang sulit mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan,” ujarnya, Senin (15/10).

Crowde merupakan platform yang membentuk ekosistem pertanian berkelanjutan dengan mempertemukan pelaku usaha tani dengan berbagai pihak yang dapat berinvestasi langsung pada suatu proyek pertanian.

Per kuartal III/2018, Crowde telah menyalurkan dana senilai Rp30 miliar yang terdistribusi kepada sekitar 10.000 petani di 276 desa di Indonesia. Dana yang terkumpul berasal dari sekitar 24.000 investor ritel yang mengakses platform Crowde.^(N. NUriman Jayabuana)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
e-commerce

Editor : Demis Rizky Gosta
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top