TALITA SETYADI : Jaya Berkat Keseriusan

Seperti layaknya komposisi pada musik jaz, membuat roti, dan kue juga memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Anda boleh saja mengatakan pendapat di atas terlalu berlebihan, tetapi hal itulah yang dikatakan oleh Talita Setyadi, Pendiri BEAU (dibaca Bo) Bakery.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 10 Agustus 2018  |  02:00 WIB

Seperti layaknya komposisi pada musik jaz, membuat roti, dan kue juga memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Anda boleh saja mengatakan pendapat di atas terlalu berlebihan, tetapi hal itulah yang dikatakan oleh Talita Setyadi, Pendiri BEAU (dibaca Bo) Bakery.

Perempuan yang lama tinggal di Selandia Baru ini melihat benang merah antara musik jaz dan patisserie. “Dalam membuat komposisi musik jaz, kita akan terlibat dari proses awal hingga akhir. Hanya dari notasi sederhana, kemudian berkembang menjadi lagu. Semua itu melibatkan ide dan pesan secara personal, sama seperti membuat patisserie,” ungkapnya.

Kesamaan itulah yang membuatnya yakin untuk mempelajari ilmu tata boga hingga ke Prancis, Amerika Serikat, dan Italia. Gelar sarjana musik jaz dari The Auckland University, School of Music yang diraihnya seakan belum memuaskan dahaganya untuk menuntut ilmu lebih tinggi lagi.

“Rasanya excited saja sih, seperti mengikuti panggilan hati. Sebenarnya cara pikirnya adalah sama [antara membuat musik jaz dan membuat kue]. Buat saya rasanya sama,” tuturnya.

Pilihanya terbukti tepat. Setelah menyelesaikan serangkaian studi tata boganya pada 2015, dia mendirikan BEAU Bakery di Jakarta. Tidak butuh waktu lama agar bisnis kudapan milik Talita ini dapat dikenal oleh khalayak.

Kerja keras Talita untuk menuntut ilmu tidak sia-sia. Saat ini, BEAU menjadi salah satu pemain besar di sektor penganan. Lebih dari 100 kedai kopi dan toko roti menjadi mitra BEAU.

Tidak berlebihan jika BEAU Bakery disebut sebagai salah satu toko kue premium terbaik yang beroperasi di Ibu Kota. Kreasi tangan Talita mulai dari roti artisan, viennoiseries, entremets (dibaca ontrome), hingga haute patisserie terbukti punya kualitas sama baiknya dengan produk asli Perancis.

Keberhasilannya ini, membuat Talita terpilih menjadi salah satu wajah muda Indonesia yang masuk dalam daftar 30 Under 30 Asia 2018 versi majalah Forbes. Tak sekadar menjadi pastry chef yang andal, Talita juga berhasil mengukuhkan namanya sebagai pengusaha muda yang sukses.

Meski terdengar sebagai sebuah kesuksesan, tetapi Talita masih merasa bahwa capaiannya saat ini baru permulaan. Dia masih memiliki keinginan yang lebih besar dan tidak terbatas untuk BEAU, tetapi juga bagi industri roti dan ke di Indonesia. Dalam rencana besarnya, langkahnya kali ini baru langkah pertama dari tiga langkah besar yang dirancangnya.

Fase pertama adalah fase di mana BEAU menjadi contoh bagi para pelaku industri kue dan roti di Indonesia. Dia tak keberatan sama sekali jika ada pesaing baru yang muncul di segmen pasar yang sama. Menurutnya, hal itu justru akan membantu industri semakin kuat dan utuh.

Selanjutnya, pada fase kedua, dia ingin mulai memproduksi roti artisannya dalam bentuk fast moving consumming product. Dia menyadari bahwa harga yang ditawarkannya pada saat ini masih di atas kemampuan ekonomi mayoritas masyarakat Indonesia.

“Saya tidak mau melupakan bangsa sendiri, karena makanan yang sehat seperti ini juga harus bisa dinikmati bangsa saya sendiri. Nantinya, saya ingin ke produk kami bisa diakses oleh semua masyarakat, tetapi tetapi dijaga tidak menjadi mass product,” jelasnya.

Pada fase terakhir, dia mengharapkan BEAU menjadi penyedia jasa pendidikan di bidang tata boga pada 2023. Dia menyadari tingginya biaya pendidikan tata boga di luar negeri masih menghambat lahirnya juru masak, ataupun ahli tata boga berkualitas di Indonesia.

“Pada akhirnya saya berharap BEAU bisa membantu masyarkat Indonesia untuk mengembangkan industri ini juga. Untuk mendapatkan gelarku aku butuh 30.000 Euro, dan itu sangat mahal. What we are trying to do here is make education more affordable,” jelasnya.

Terlihat jelas bahwa tujuan besar Talita tidak hanya soal mendapatkan keuntungan semata. Dia mengakui, sejak awal tujuannya mendirikan BEAU untuk mengedepankan kepentingan industri dan perkembangan dunia seni tata boga secara luas di Indonesia.

“Sejak awal saya frustasi melihat perkembangan dunia patisserie di Indonesia yang cenderung stagnan. Saya tidak boleh diam saja, kalau begitu Indonesia akan semakin jauh tertinggal dari negara lain di mana industri tata boganya sudah sangat baik,” katanya.

PARADIGMA BARU

Talita mengatakan, salah satu kunci suksesnya dalam memimpin BEAU adalah kegigihannya untuk menjaga bisnisnya tersebut. Tak seperti muda-mudi pada umumnya yang berbisnis dengan modal iseng, Talita mempersiapkan semuanya dengan begitu matang.

“Makanya saya berani memasukkan nama saya di brand ini menjadi BEAU by Talita Setyadi. Ada perasaan ownership yang tinggi kepada BEAU, sehingga saya tidak bisa main-main. Saya harus menjaga dan mengembangkannya dengan serius,” katanya.

Hal itu dipelajarinya dari para pelaku industri makanan dan minuman di luar negeri. Menurutnya, di sana mereka sudah menganggap bahwa industri makanan dan minuman adalah satu kesatuan dengan kreativitas. Namanya, menjadi garansi atas rasa dan kualitas yang harus dia jaga kepada konsumen.

Meski banyak belajar dari luar negeri, Talita tidak mengambil semua nilai dan cara kerja yang berkembang di luar negeri. Tidak seperti juru masak pada umumnya yang begitu keras memimpin anak buahnya, Talita justru menerapkan cara memimpin dengan perilaku lembut.

“Bagi saya itu [chef harus keras] adalah paradigma lama yang harus ditinggalkan. Saya sudah merasakan itu di sana, saya merasakan seksisme dan rasisme yang buruk. Saya ingin memimpin dengan paradigma baru di sini,” tuturnya.

Prinsip itu membuatnya begitu terbuka dan menaruh kepercayaan tinggi kepada para karyawanya. Dia akan dengan senang hati mengajari karyawannya untuk mempelajari teknik membuat kue. Selain itu, dia juga selalu menaruh rasa hormat yang sama kepada setiap anggota ‘keluarga’ BEAU.

Jika suatu saat ada karyawannya yang memutuskan untuk hengkang ke tempat lain atau membuka bisnisnya sendiri, Talita justru akan menerimanya dengan senang hati. Dia berpendapat hal itu justru akan berdampak positif terhadap industri kue dan roti Tanah Air.

“My vision is bigger than a bakery.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
entrepreneur, entrepreneurship, bakery

Editor : Diena Lestari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top