GERBANG PEMBAYARAN NASIONAL : Transaksi Debit Melonjak Drastis

JAKARTA – Setelah program Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) digulirkan pada akhir tahun lalu, nilai transaksi interkoneksi debit domestik melonjak signifikan.
Nirmala Aninda & Abdul Rahman | 13 Juli 2018 02:00 WIB

JAKARTA – Setelah program Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) digulirkan pada akhir tahun lalu, nilai transaksi interkoneksi debit domestik melonjak signifikan.

Kepala Departemen Elektronifikasi dan Gerbang Pembayaran Nasional Bank Indonesia (BI) Pungky Wibowo mengatakan, peningkatan yang terjadi sebesar 107,48%.

Data tersebut diperoleh dari empat perusahaan switching yang terkoneksi dengan sistem GPN yakni PT Jalin Pembayaran Nusantara, PT Artajasa Pembayaran Elektronis, PT Rintis Sejahtera (PRIMA), dan PT Daya Network Lestari (Alto).

“Peningkatan tersebut merupakan indikasi bahwa pelaku industri sistem pembayaran ritel di Indonesia menggunakan infrastruktur GPN,” katanya di Jakarta, Kamis (12/7).

Saat ini jumlah kartu debet yang beredar di Indonesia sebanyak 173 juta keping. BI menargetkan, 30% dari total kartu yang beredar sudah menggunakan logo GPN tahun ini.

Proses penerbitan kartu berlogo GPN oleh bank sudah dimulai sejak 31 Maret 2018. Pungky mengatakan, hingga Mei 2018 sudah tercapai 10% dari target akhir tahun ini.

"Sampai Mei 2018 sudah 937.000 kartu tercetak dan 497.000 kartu berlogo NSICCS bisa terdistribusi," imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Artajasa Anthoni Morris mengatakan, sejak November tahun lalu nilai transaksi yang diproses melalui Artajasa meningkat tajam. “Nilainya mencapai Rp6,5 triliun sejak November tahun lalu,” ujarnya.

Dengan diberlakukan GBN, sistem pembayaran Indonesia diklaim berhemat Rp7,23 miliar per hari. Menurut Pungky, efisiensi tersebut berasal dari dua komponen, yaitu penyesuaian biaya merchant discount rate (MDR) dan penurunan biaya lisensi penggunaan logo internasional.

"Tinggi sekali minat untuk menggunakan kartu GPN. Potensi net savings adalah Rp7,23 miliar per hari," katanya.

Dia menguraikan, nilai tersebut berasal dari selisih antara peningkatan biaya MDR untuk transaksi on us sebesar Rp24,23 miliar dan penurunan biaya transaksi off us sebesar Rp17 miliar.

Transaksi on us adalah transaksi kartu debit pada mesin (ATM atau EDC) milik bank yang sama. Sedangkan transaksi off us adalah kebalikannya, yakni penggunaan kartu debit pada mesin bank lain.

Selain itu, kewajiban penggunaan logo nasional GPN pada kartu ATM dan debit dengan tidak mengikutsertakan logo prinsipal internasional juga menurunkan porsi komisi yang harus dibayarkan ke prinsipal luar negeri.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menargetkan distribusi kartu GPN sebanyak 3 juta kartu pada tahun ini. Sampai dengan Mei 2018, kartu berlogo GPN yang didistribusikan baru mencapai 7.055 kartu.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas menyampaikan perseroan tidak memiliki strategi khusus selain meningkatkan pesanan kartu mengingat jumlah kartu debit Mandiri eksisting saat ini mencapai 17 juta kartu.

"Sekarang seluruh pembukaan rekening baru dan penggantian kartu tabungan sudah dengan kartu GPN," ujarnya kepada Bisnis.

Sebelumnya, Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan, kartu Mandiri debit berlogo GPN ini akan menjadi kartu utama yang ditawarkan kepada nasabah pada saat pembukaan rekening atau penggantian kartu.

Penggantian kartu dilakukan secara bertahap dengan target penerbitan kartu berlogo GPN sampai dengan akhir tahun ini sekitar 3 juta keping.

Nantinya kartu ini dapat digunakan untuk transaksi domestik, baik menggunakan mesin EDC milik Bank Mandiri maupun EDC bank lain yang sudah terimplementasi GPN.

Di samping itu, Bank Mandiri juga tengah melakukan transisi kartu debit berbasis pita magnetik menjadi kartu chip.

Tahun ini bank berkode emiten BMRI tersebut menyiapkan 7 juta keping kartu debit berbasis chip sebagai langkah antisipasi meminimalisir risiko pencurian data nasabah. (Abdul Rahman/Nirmala Aninda)

Tag : perbankan
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top