RASTER : Jalan Tol, Solusi Atau Masalah Baru di Sumbar?

Jalan lintas PadangBukittinggi, Sumatra Barat, tak pernah lepas dari kemacetan saat Lebaran. Tahun ini saja misalnya, saat momen Lebaran, macetnya bisa melebihi 8 jam dari yang normalnya hanya 2,5 jam.
Heri Faisal | 13 Juli 2018 02:00 WIB
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) di sela-sela peresmian pembangunan jalan tol Padang-Sicincin, di Jalan Bypass Kilometer 0, Padang, Sumatra Barat, Jumat (9/2/2018). - Setkab/Anggun

Jalan lintas Padang—Bukittinggi, Sumatra Barat, tak pernah lepas dari kemacetan saat Lebaran. Tahun ini saja misalnya, saat momen Lebaran, macetnya bisa melebihi 8 jam dari yang normalnya hanya 2,5 jam.

Seperti yang dialami Fitri (36), warga Padang, dirinya harus terjebak macet berjam – jam di rute Padang menuju Bukittinggi pada Senin (17/6) atau H+3 Lebaran.

Dia yang bermaksud pergi libur Lebaran bersama keluarganya harus terjebak macet di kawasan Lembah Anai, salah satu objek wisata yang ramai dikunjungi masyarakat di rute tersebut.

Sebenarnya, ada jalur alternatif yang bisa dia dilewati yakni jalur Padang– Malalak–Bukittinggi. Namun, Fitri lebih memilih melewati jalur biasa, karena pemandangan yang bagus di sepanjang jalan. Selain, tentu saja jarak tempuh jalur biasa lebih singkat.

“Mau lewat Malalak, agak takut juga kan sering longsor, ya lebih baik lewat jalur biasa, pemandangannya juga bagus,” katanya, kepada Bisnis, belum lama ini.

Rute Padang–Bukittinggi memang langganan kemacetan di Sumbar. Tidak hanya momen Lebaran, libur akhir pekan saja jalur itu juga selalu mengalami kemacetan.

Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah (Polda) Sumatra Barat Kombes Pol. Singgamata mengatakan di jalur Padang–Bukittinggi, setidaknya ada empat titik rawan kemacetan, yang disebabkan parkir yang tidak teratur dan adanya pasar.

“Kami petakan ada empat titik rawan macet, yaitu Pasar Lubuk Alung, Lembah Anai, Pasar Koto Baru, dan Padang Lua,” katanya.

Persoalan kemacetan di empat titik itu berbeda, tetapi umumnya didominasi karena banyaknya masyarakat yang memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan. Solusinya, kata Singgamata, kepolisian menurunkan tim yang mengatur lalu lintas serta melarang pemilik kendaraan memarkirkan kendaraannya di badan jalan.

JALUR UTAMA

Namun, macet di Sumbar kini tidak hanya didominasi jalur laten Padang—Bukittinggi. Hampir sebagian besar jalur utama daerah itu rentan macet saat Lebaran, terutama yang dekat dengan objek wisata populer.

Berkaca pada Lebaran lalu misalnya, kemacetan di rute Padang—Painan juga terbilang cukup tinggi. Selama libur Lebaran jarak tempuh yang biasanya hanya 2 jam, harus ditempuh pengendara hingga 8 jam.

Begitu juga, jalan Bukittinggi—Payakumbuh, dari normalnya hanya 45 menit, saat puncak arus mudik dan libur Lebaran bisa memakan waktu hingga 3 jam.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit bahkan sempat berujar kemacetan di Sumbar tahun ini adalah yang paling parah, karena tingginya volume kendaraan yang masuk Sumbar.

“Tahun ini [macetnya] parah, karena volume kendaraan yang masuk ke Sumbar juga tinggi. Perlu kita evaluasi bersama dan diantisipasi dengan baik ke depannya,” ujar Mantan Bupati Pesisir Selatan itu.

Dia mengatakan kemacetan yang terjadi di Sumbar umumnya berada di lokasi wisata atau yang menghubungkan destinasi – destinasi wisata daerah itu, sehingga bisa disimpulkan ada peningkatan kunjungan wisatawan.

“Artinya, objek wisata Sumbar sudah diminati wisatawan dari berbagai daerah, ini perlu keseriusan bersama untuk pembenahan dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung,” ujarnya.

Sebelumnya, untuk mengantisipasi kemacetan selama libur Lebaran, Kepala Dinas Perhubungan Sumbar Amran meminta pengendara memilih jalur alternatif guna terhindar dari kemacetan.

Dia mengatakan kemacetan di Sumbar dibagi dua, yaitu di wilayah utara mulai dari Pasar Lubuk Alung, Pasar Sicincin, Lembah Anai, Rumah Makan Pak Datuak, Sate Mak Syukur, Pasar Kota Baru, Pasar Padang Luar, Pasar Baso, dan Simpang Piladang.

Adapun di jalur selatan, kemacetan terjadi di Simpang Gaung Teluk Bayur, Tarusan, dan Pasar Kambang.

Untuk pengendara yang menuju wilayah utara dari Kota Padang menuju Bukittinggi atau Payakumbuh bisa memilih jalur alternatif melewati Ketaping, Padang Pariaman, dan jalur alternatif via Malalak.

“Kami ingatkan pengendara untuk memanfaatkan jalur-jalur alternatif supaya terhindar dari kemacetan,” ujar Amran.

Adapun, Polda Sumbar menurunkan sedikitnya 6.097 personel gabungan dari kepolisian, TNI, dan instansi lainnya untuk pengamanan arus mudik dan balik Lebaran 2018.

Kapolda Sumbar Irjen Pol. Fakhrizal mengklaim upaya pengamanan arus mudik dan balik Lebaran di daerah itu berjalan lancar, dan bahkan lebih baik dari penanganan pada tahun - tahun sebelumnya.

“Dari evaluasi kami, tahun ini jauh lebih baik. Petugas jauh lebih siap, dan angka kecelakaan juga menurun,” katanya.

Dia mengatakan angka kecelakaan di Sumbar selama arus mudik dan balik turun hingga 31% atau hanya 107 kecelakaan lalu lintas dari tahun sebelumnya yang mencapai 153 kecelakaan.

Dari jumlah kecelakaan selama periode arus mudik dan balik Lebaran itu, sebanyak 24 orang meninggal dunia dan 11 orang luka berat. Adapun pada tahun sebelumnya, terdapat sebanyak 41 orang meninggal dan 53 orang luka berat.

Fakhrizal mengatakan macet tahunan di Sumbar saat momen Lebaran didominasi pemudik atau ramainya warga Sumbar yang pulang kampung. Selain itu juga wisatawan yang datang dari provinsi tetangga, seperti Riau, Jambi, Sumut, dan Sumsel.

“Dari segi pengamanan sudah berjalan dengan baik, tetapi persoalannya memang infrastruktur jalan belum memadai,” katanya.

KENDALA INFRASTRUKTUR

Menurutnya, volume kendaraan yang masuk ke Sumbar selama periode itu tidak mampu ditampung oleh ketersediaan jalan, sehingga terjadi kemacetan panjang.

Dia mengatakan dibandingkan dengan kondisi 2017, jumlah kendaraan yang masuk ke Sumbar naik hingga 15%, bahkan dibandingkan hari biasa, peningkatannya mencapai 200%.

Mau tidak mau, imbuhnya, infrastruktur jalan harus ditingkatkan, termasuk mempercepat pembangunan tol Padang—Pekanbaru yang diharapkan bisa menjadi solusi mengatasi macet di daerah itu.

Selain itu, tentu saja memperlebar jalan kabupaten maupun jalan provinsi yang ada di wilayah rentan macet, dan perlu juga pembangunan jalan baru.

Sebelumnya, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyebutkan tol Padang—Pekanbaru diprioritaskan untuk meningkatkan mobilitas dua provinsi Sumbar dan Riau, serta tentu saja upaya mengatasi macet di rute Padang—Bukittinggi.

Menurutnya, kehadiran tol Padang—Pekanbaru sudah mendesak, mengingat kemacetan di jalur itu terjadi setiap pekannya, karena infrastruktur jalan yang ada saat ini sudah tidak mampu menampung banyaknya kendaraan.

“Kami di provinsi terus berkomitmen untuk mempercepat pembangunan tol Padang—Pekanbaru, sehingga bisa mempercepat jarak tempuh,” katanya.

Adapun, tol Padang—Pekanbaru dibangun sepanjang 248,5 kilometer yang diklaim bakal mempersingkat jarak tempuh dari ibukota Sumbar ke Riau menjadi hanya 3 jam dari waktu tempuh saat ini yang mencapai 9 jam perjalanan.

Kehadiran jalan bebas hambatan tersebut, diyakini akan menjadi solusi permanen mengatasi macet di wilayah utara Sumbar. Bukan malah memindah kemacetan ke tempat yang baru. Sementara itu, di bagian selatan, pemerintah sudah membangun jalan alternatif Padang—Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan.

Jalan alternatif itu dinilai mempersingkat jarak tempuh wisatawan dari Padang menuju Kawasan Wisata Mandeh, sehingga tidak perlu lagi melewati jalur Padang—Painan yang juga berpotensi macet di akhir pekan.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag : infrastruktur, sumbar, kemacetan
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top