EDITORIAL : Cepat & Cermat Menyelamatkan Bank

Karena tak ada bisnis yang tanpa risiko, maka perusahaan keuangan menciptakan sebuah sistem rigid untuk menekannya. Namun, apapun cara yang sudah ditempuh, risiko kadang menjadi kenyataan dan kerugian tercipta.
Redaksi | 12 Juli 2018 02:00 WIB
Direktur Utama Bank KEB Hana Lee Hwa Soo memberikan kata sambutan sebelum menandatangani perjanjian kerja pemberian fasilitas pembiayaan melalui program Supply Chain Financing (SCF) di Jakarta, Rabu (4/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Ada banyak contoh di sekitar kita. Sebut saja, kredit perbankan. Sejak mula, para bankir dari tingkat pertama melakukan analisa mengenai kelayakan debitur, dari reputasi, kemampuan bayar, hingga prospek bisnis yang ditekuni. ‘Pagar’ sudah banyak dibangun, agar risiko cukup jadi risiko; takkan pernah terjadi.

Apapun yang dilakukan seperti tak pernah cukup. Ada kebocoran sana dan sini, ada saja kecurangan terjadi. Kerugian harus segera ditutupi, sebagian besar tak terlalu berarti karena larut dalam keuntungan perusahaan yang jauh lebih besar.

Risiko, lazimnya, harus terus dikendalikan agar bisnis perusahaan bisa tetap berjalan. Tanpa kendali yang cukup, mustahil perusahaan keuangan bisa beroperasi dengan normal, dan bisa menjalankan usaha secara berkelanjutan.

Namun, bagi perusahaan yang sedang sial, risiko yang nyata bisa menjadi ancaman serius. Seperti kredit bermasalah yang terus meningkat, sehingga memerlukan tambahan pencadangan. Ini akan menggerus modal.

Akibatnya, kesehatan bank terganggu, dan bank memerlukan campur tangan dari pihak luar, apalagi jika pemegang saham sudah tak sanggup menambah modal. Dengan karakter industri perbankan yang sangat padat dengan regulasi, peran regulator juga berpengaruh signifikan.

Selain padat regulasi, bank juga padat modal. Ciri utama perusahaan dalam industri perbankan yakni, bisnis tidak akan bisa tumbuh besar tanpa tambahan modal terus-menerus. Bila ingin bank menjadi besar, maka selain strategi diperlukan juha modal.

Konsen regulator dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak terbatas untuk menyelamatkan individu bank, tetapi sistem perbankan secara keseluruhan. Penekanan ini penting, karena perbankan menguasai 70% sistem keuangan di Tanah Air.

Bagi OJK, cepat dan cermat dalam menangani bank yang sakit adalah keniscayaan. OJK tak boleh berlama-lama membiarkan masalah berlarut-larut, semata-mata agar kepercayaan bagi industri ini terjaga.

Sebagai contoh, OJK saat ini tengah disibukkan dalam memfasilitasi transisi kepemilikan saham PT Bank Mualamat Tbk. Bank ini sudah lama menghadapi masalah permodalan, sejak 2015.

Puncak masalah terjadi pada 2017, karena rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 11,58%, menurun dari periode yang sama tahun sebelumnya 12,75%. Meskipun masih batas aman, konsesi Basel III untuk CAR minimal 12% untuk menyerap risiko.

Kinerja Bank Muamalat tergerus oleh lonjakan pembiayaan bermasalah (non-performing finance/NPF). NPF bank syariah itu sempat di atas 5%, lebih tinggi dari batas maksimal ketentuan regulator. Akan tetapi, pada kuartal I/2018 NPF bank tersebut membaik ke level 4,76%.

Calon pemegang saham Bank Muamalat datang silih berganti pada tahun ini. OJK tercatat pernah melakukan penolakan calon investor, karena dianggap tidak memenuhi syarat yang diperlukan, seperti sumber keuangan yang memadai.

Pekan ini, bank syariah pertama di Indonesia ini dikabarkan mendapat calon investor baru. Harapan baru tumbuh, dan publik banyak yang berharap agar masalah yang menimpa Bank Mualamat segera terselesaikan.

Tanpa terasa, sudah lebih dari dua tahun masalah ini belum ada solusi. Pengurus bank dan regulator sudah sewajarnya mengedepankan sikap cermat serta berhati-hati agar pada kemudian hari tidak mendatangkan masalah lagi. Cermat, tidak berarti mengabaikan kecepatan karena waktu tak pernah bisa dibeli.

Publik, menantikan kehadiran regulator yang lebih direktif dalam proses ini mengingat waktu sudah terlalu lama terbuang. Di lain pihak, pengurus bank juga harus menunjukkan keseriusan dalam menghadirkan pemilik baru kredibel, dan menjamin keberlanjutan bisnis bank di masa akan datang.

Kiranya konsolidasi komisioner OJK yang belum lama terpilih tersebut telah cukup. Saatnya otoritas ini menunjukkan kepada publik kinerja nyata sebagai sebuah lembaga yang kredibel dan disegani oleh segenap pelaku industri keuangan di Indonesia.

Tag : perbankan
Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top