HARGA PANGAN : Gejala Kenaikan Terdeteksi

JAKARTA — Selepas Lebaran, harga sejumlah komoditas pangan terpantau mulai terkerek.
M. Richard & MG Noviarizal Fernandez | 11 Juli 2018 02:00 WIB

JAKARTA — Selepas Lebaran, harga sejumlah komoditas pangan terpantau mulai terkerek.

Gejala kenaikan harga tertinggi sepanjang sebulan terakhir terjadi pada komoditas daging dan telur ayam, serta cabai rawit.

Berdasarkan data Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (Ikappi), harga cabai merah, daging dan telur ayam di pasaran masing-masing mencapai rerata Rp67.000/kg, Rp38.000/kg, dan Rp28.000/kg.

Padahal, harga acuan yang ditetapkan Kementerian Perdagangan hanya Rp32.000/kg baik untuk cabai rawit merah maupun daging ayam, serta Rp22.000/kg untuk telur ayam.

Ketua Ikappi Abdullah Mansuri menjelaskan, kenaikan harga paling signifikan memang terjadi pada komoditas cabai rawit merah. Berdasarkan catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga komoditas pedas itu per Selasa (12/6) adalah Rp46.400/kg, tetapi per Selasa (10/7) melonjak menjadi Rp56.850/kg.

Dia mengatakan kenaikan harga yang menukik itu membuat banyak pedagang pasar mulai mengurangi pasokan penjualannya hingga 50%.

“Ya logikanya, kalau pedagang hanya punya Rp1 juta untuk beli 1 kuital [cabai rawit], ketika harga naik dua kali lipat, daya belinya akan berkurang dan penjualannya pun berkurang,” ujarnya, Selasa (10/7).

Dia memperingatkan harga cabai merah yang sudah cukup mahal saat ini masih berpotensi untuk naik lebih tinggi lagi dan menebus level Rp90.000/kg. Pasalnya, terjadi penurunan produksi di beberapa sentra seperti Lumajang, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo.

Menanggapi kenaikan harga daging ayam, Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi menjelaskan, harga komoditas protein hewani itu di pasaran relatif stabil tinggi.

“Kalau harga ayam hidup di Jabodetabek masih Rp23.000/kg. Untuk harga di pasarnya tinggal dikalikan 1,6 saja, jadi sekitar Rp35.000/kg—Rp40.000/kg,” ujarnya.

Menurutnya, penyebab kenaikan harga daging ayam adalah pasokan yang berkurang 10% terdampak libur Lebaran selama sepekan. Selain itu, larangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) membuat waktu produksi semakin lama dan berdampak pada perlambatan pemenuhan stok ayam hidup.

Bagaimanapun, Sugeng yakin masalah stok dan harga daging ayam bisa segera diselesaikan. “Lagipula pihak Kemendag sudah berkunjung dan melihat permasalahan di kandang-kandang. Semoga dalam waktu dekat permasalahannya selesai.”

Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) Enny Sri Hartati memaparkan, secara umum, gejolak harga pangan memang menjadi siklus tahunan akibat manajemen stok dan tata kelola niaga yang buruk.

Masalah tersebut, sebutnya, adalah penyebab tren inflasi tinggi pada pertengahan tahun tidak pernah selesai. Padahal, kenaikan harga komoditas pangan akan membuat harga komoditas lain ikut naik naik.

“Tidak diduga memang, efek dominonya. Satu [komoditas harganya] naik, yang lain itu ikut-ikutan,” katanya.

Meski tidak sepenuhnya disebabkan oleh kenaikan harga pangan, tren inflasi tinggi selalu terjadi pertengahan tahun. BPS mencatat pada 2015 inflasi tertinggi terjadi pada April—Agustus, 2016 pada Mei—Juli, 2017 pada Mei—Juli, dan 2018 sudah dimulai sejak Juni.

MENDAG MEMBANTAH

Dijumpai terpisah, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita membantah telah terjadi kenaikan harga yang cukup tajam pada sejumlah komoditas pangan. Dia juga enggan menanggapi ancaman Ikappi yang akan mengurangi stok penjualan hingga 50%.

“Kalau lihat data BPS [soal kenaikan harga pangan], mengancam bagaimana? Tidak ada itu. Kalau telur, harga masih tinggi karena harga pakan [ayam yang masih didominasi impor],” ujarnya seusai bertandang ke kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Selasa (10/7).

Ketua KPPU Kurnia Toha juga berjanji akan ikut memantau kenaikan harga bahan pangan strategis. Sejauh ini, dia belum menemukan indikasi praktik persaingan tidak sehat yang memengaruhi kenaikan harga tersebut.

“Kalau harganya di atas harga [acuan], kami akan telaah apakah naik karena ada praktik tidak sehat atau karena permintaan tinggi tapi stok sedikit,” tegasnya.

Sejauh ini, lanjutnya, KPPU telah melakukan pemetaan skema distribusi dari komoditas barang penting dan strategis termasuk pangan. Kurnia juga telah mengidentifikasi simpul distribusi yang berpotensi tinggi terjadi persaingan tidak sehat.

Dia pun mengidentifikasi pengusaha yang memiliki posisi dominan, sehingga berpeluang besar menyalahgunakan harga.

Tag : harga pangan
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top