OJK Dorong Perbankan Tekan NIM Melalui Teknologi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perbankan untuk memanfaatkan teknologi untuk efisiensi pembiayaan. OJK yakin pemanfaatan teknologi mampu memperkecil Net Of Interest Margin (NIM) perbankan di Indonesia.
Sarma Haratua Siregar | 28 Juni 2018 21:08 WIB

Bisnis.com, BATAM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perbankan untuk memanfaatkan teknologi untuk efisiensi pembiayaan. OJK yakin pemanfaatan teknologi mampu memperkecil Net Of Interest Margin (NIM) perbankan di Indonesia.

“Kedepan perbankan hanya perlu menggunakan teknologi jika inign membangun jaringan kantor. Ini bisa menekan Cost of Fund,” ujar Kepala OJK Kepri Iwan M. Ridwan, Kamis (28/6/2018).

Perbankan di Indonesia dinilai belum efisien bila dibanding dengan perbankan di sejumlah negara di Asean. Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya NIM perbankan Indonesia dibanding negara-negara lain. Menurut catatan BI, NIM perbankan berkisar di angka 5 persen.

Menurut Ridwan, tingginya NIM perbankan terjadi karena cost of fund yang terlalu tinggi. Perbankan perlu mengeluarkan modal tinggi agar bisa memasarkan produknya kepada masyarakat, baik dalam di pasar kredit atau pasar simpanan.

“Bank harus mengeluarkan biaya besar setiap kali membangun jaringan. Baik itu untuk SDM atau yang lain. Ini salah satu penyebab perbankan tidak efisien,” jelasnya.

Menurut Ridwan, biaya tinggi ini bisa ditekan dengan penggunaan teknologi secara terukur. Dengan pemanfaatan teknologi, perbankan tak perlu lagi membangun kantor untuk mendukung pemasaran produk hingga ke masyarakat.

Pemanfaatan teknologi untuk mendukung efisiensi perbankan sebenarnya sudah berjalan. Salah satunya melalui program Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai).

Program ini memungkinkan Bank membuka jaringan tanpa perlu membuka kantor cabang baru. Konsep yang digunakan adalah mengoptimalkan peran agen-agen, sehingga biaya yang dikeluarkan jauh lebih efisien.

“Cukup sederhana, hanya bermodalkan EDC Card,” jelasnya.

Laku Pandai juga memungkinkan Bank melayani nasabah tanpa dibatasi jam kerja. Agen bisa membuka jam layanan seuai dengan kebutuhan nasabah. “Program ini bisa membuat layanan efisien dan optimal,” jelasnya.

Penggunaan Financial Teknologi untuk menjangkau nasabah juga bisa menjadi solusi efisiensi perbankan. Kolaborasi dengan Financial Technologi (Fintech) memungkinkan Bank memperluas jangkauan kerja.

“Fintech punya teknologi, Industri jasa keuangan punya uangnya. Ini bisa jadi kolaborasi yang saling menguntungkan,” ujar jelasnya.

Dengan makin tingginya penetrasi telepon pintar di era milenial, membuat peran teknologi informasi di industri jasa keuangan jadi kebutuhan. Dengan hanya membuka aplikasi dan masuk di sejumlah menu yang disediakan, nasabah sudah langsung bisa mendapat layanan.

Cara ini dinilai lebih efektif bila dibandingkan dengan cara konvensional. Dimana marketing perlu hilir mudik mencari nasabah. Selain butuh waktu yang lama, juga membutuhkan biaya kerja yang tidak sedikit.

Bank Indonesia juga terus mendorong efisiensi perbankan. Lembaga pengawas moneter ini menargetkan NIM harus turun ke level 2,5 persen untuk menciptakan industri perbankan yang lebih efisien untuk masyarakat.

Tag : perbankan
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top