PENGHILIRAN BATU BARA : Gasifikasi di Peranap Bisa Lebih Cepat

Oleh: Anitana W. Puspa 09 November 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA — PT Bukit Asam Tbk. memperkirakan proyek gasifikasi batu bara di Peranap, Riau akan terealisasi terlebih dahulu dibandingkan dengan proyek sejenis yang berlokasi Tanjung Enim, Sumatra Selatan.

Sekretaris Perusahaan PTBA Suherman mengatakan bahwa perusahaan belum merealisasikan proyek percontohan gasifikasi batu bara. Dalam proyek itu, batu bara akan diolah menjadi dimethyl ether (DME) dan synthetic natural gas (SNG).

Suherman menekankan, melalui kerja sama gasifikasi batu bara di lokasi baru dengan Air Products and Chemicals Inc., PTBA akan melanjutkan penyusunan studi kelayakan.

“Bisa jadi proyek ini [gasifikasi batu bara di Peranap] akan meluncur lebih dulu, tapi untuk nilai investasinya belum ada karena masih harus studi kelayakan dulu,” katanya kepada Bisnis, Kamis (8/11).

Pada Desember 2017, PTBA telah menandatangani perjanjian awal dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. untuk mengembangkan gasifikasi batu bara.

PTBA sedang menyelesaikan studi kelayakan bank untuk proyek tersebut.

Teknologi gasifikasi akan mengonversi batu bara muda menjadi syngas yang merupakan bahan baku yang dapat diproses lanjut menjadi dimethyl ether untuk bahan bakar, urea untuk membuat pupuk, dan polipropilena untuk bahan baku plastik.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meyakini kerja sama yang dijalin PT Bukit Asam Tbk dengan mitra justru bisa lebih kompetitif.

Sementara itu, Menteri ESDM Igansius Jonan mengatakan, mulai tahun ini dan tahun depan, pemanfaatan produksi batu bara akan diubah menjadi dimethyl ether melalui proses gasifikasi untuk mengganti elpiji (liquefied petroleum gas/LPG.

Jonan tak menampik salah satu upaya yang sedang dilakukan adalah kerja sama sejumlah BUMN dengan swasta untuk pemanfaaatan teknologi penghiliran batu bara.

Dia meyakini, jika selama ini persoalan keekonomian yang banyak disebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menunda proyek penghiliran tersebut. Selain itu, Jonan berharap agar mitra swasta yang dapat berperan lebih aktif untuk mempercepat proses kerja sama dengan BUMN supaya tetap sesuai dengan rencana awal.

“Kalau [gasifikasi] mau dikerjakan dalam skala yang cukup mestinya bisa kompetitif. Modalnya batu bara bukan gas. Biaya produksi batu baranya saja jauh lebih rendah daripada produksi gas. Masa itu bisa lebih mahal,” katanya dalam wawancara dengan Bisnis belum lama ini.

PTBA juga menjalin kerja sama strategis dalam pengembangan produk batu bara dengan Air Products and Chemicals Inc. Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu telah mengakuisisi hak paten/teknologi gasifikasi batu bara Shell pada tahun ini.

Kerja sama ini nantinya meliputi pengembangan gasifikasi batu bara di Peranap, Riau.

Penandatanganan kerja sama tersebut dilaksanakan di Allentown, Amerika Serikat pada Rabu (7/11).

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, dan Chairman, President & CEO Air Products Seifi Ghasemi, juga disaksikan langsung oleh Menteri BUMN Rini Soemarno.

Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin mengungkapkan, penghiliran yang dilakukan PTBA ini diperkuat dengan sumber daya batu bara 8,3 miliar ton dan cadangan 3,3 miliar ton.

Pabrik gasifikasi di Peranap ini diharapkan dapat mulai beroperasi pada 2022. Kapasitas pabrik itu 400.000 ton DME per tahun dan 50 MMscfd SNG.

Nicke Widyawati menegaskan, kerja sama Pertamina dengan Bukit Asam serta Air Products adalah langkah strategis bagi semua pihak, untuk meningkatkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional.

“Sekitar 70% LPG masih diimpor, pada 2017 Indonesia mengonsumsi tidak kurang dari 7 juta ton LPG. Pabrik gasifikasi batu bara ini adalah proyek yang sangat strategis secara nasional,” ujar Nicke. (Anitana W. Puspa)

Editor: Sepudin Zuhri

Berita Terkini Lainnya