HSBC: Pasar China Menjanjikan

Oleh: Sarma Haratua Siregar 06 November 2018 | 17:28 WIB

Bisnis.com, BATAM – Survei HSBC bertajuk Navigator: Made for China mengungkap, pelaku usaha internasional yakin bahwa kualitas produk mereka akan menarik bagi konsumen Cina, dimana prinsip distribusi melalui kemitraan dan platform e-commerce menjadi kunci keberhasilan di pasar.

China tidak lagi dianggap sekedar pabrik dunia. Pasar konsumennya yang bertumbuh cepat, mendorong pelaku usaha internasional untuk mengevaluasi kembali cara dan komoditas yang mereka jual ke Cina,.

“Target pasar yang disasar adalah konsumen berusia di bawah 40 tahun, dengan daya beli yang sedang bertumbuh,” ujar Stuart Tait, Regional Head, Commercial Banking, HSBC Asia Pacific.

Sementara barang-barang buatan Cina ditemukan di toko dan secara online di seluruh dunia, perkembangan pesat ekonomi China menunjukkan bahwa konsumen Cina membentuk strategi bisnis internasional.

“Perusahaan-perusahaan ini membutuhkan pedoman baru: ‘Buatan Cina’ tidak lagi cukup; mereka dan produknya harus ‘Dibuat untuk Cina," ujar Tait.

Survei HSBC Navigator ini meneliti persinggungan antara ambisi pertumbuhan pelaku usaha internasional dengan konsumen Cina yang semakin makmur dan mapan. Pada bulan September, survei tersebut meneliti pandangan 1.205 perusahaan kecil dan besar di 11 ekonomi global utama yang sudah mengekspor ke Cina atau sedang mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sama.

Dari responden perusahaan yang saat ini berjualan di Cina, 37% diantaranya mengidentifikasikan bahwa mereka mampu menyediakan produk dan layanan yang berbeda, atau lebih unggul sebagai faktor utama yang akan mendorong pertumbuhan penjualan mereka di sana.

“Sementara para responden Eropa sangat yakin tentang daya tarik produknya, dimana 45% dari mereka memilih hal ini sebagai pendorong utama,” jelasnya.

Sekitar 30 persen exportir ke Cina menyoroti tingkat kesejahteraan yang semakin bagus dan kenaikan pendapatan konsumen China sebagai pendorong utama pertumbuhan penjualan perusahaan.

Menurut perkiraan pemerintah, Cina akan mengimpor barang senilai 8 triliun dolar Amerika Serikat selama 5 tahun, dari tahun 2018 sampai tahun 2022. Ini sama dengan rata-rata 1,6 triliun dolar Amerika Serikat, atau nilai PDB Kanada atau Korea Selatan pada tahun 2017.

Konsumen Cina yang semakin kuat sama-sama memberi perhatian pada harga dan kualitas barang. Hal tersebut menandakan bahwa mereka mencari harga yang kompetitif (40%), kualitas dan keamanan (40%), dan jasa atau barang dengan tekonologi yang mumpuni (30%) saat mereka melakukan jual beli.

Dunia bisnis internasional juga meyakini bahwa produk dan jasa teknologi akan tumbuh paling tinggi di Cina. Hal ini mencerminkan kecanggihan konsumen Cina dan permintaan mereka terhadap barang yang bisa meningkatkan gaya hidup mereka.

Secara global, 38% responden berkata bahwa ekspor di bidang jasa teknologi (TI, teknologi biomedis, big data, dan artificial intelligence) akan tumbuh palingh tinggi. Barang elektronik (27%) dan peralatan canggih tingkat tinggi seperti yang ditemukan dalam ‘Internet of Things’ (25%) juga dikategorikan sebagai ujung tombak pertumbuhan ekspor ke China.

Konsumen China bukan lagi sekadar kaya, mereka menjadi semakin sadar akan kesehatan, semakin peduli terhadap lingkungan dan semakin bisa membedakan merek dan kualitas barang yang mereka beli.

“Ini berbicara mengenai kelas menengah yang sedang bertumbuh yang hobi membeli buah alpukat dan gadget yang bisa dipakai di badan – seperti halnya kelas menengah di Eropa atau Amerika Utara,” ujar Helen Wong, Chief Executive Officer, HSBC Greater China.

Millennial, platform dan kemitraan

Sebagian besar bisnis yang disurvei mengatakan bahwa konsumen Cina yang berusia di bawah 40 tahun akan mendorong permintaan konsumen Cina untuk tahun-tahun mendatang: 39% percaya bahwa mereka yang lahir pada tahun 1990an akan memberikan pertumbuhan penjualan terkuat, sementara 23% percaya bahwa pertumbuhan didorong mereka yang lahir di tahun 1980an dan 23% lainnya percaya itu akan didorong oleh mereka yang lahir di tahun 2000-an.

Bisnis yang sudah menjual ke Cina meng-identifikasi pentingnya kehadiran fisik dan online untuk menjangkau target konsumen mereka. Strategi yang paling umum digunakan untuk mengakses pasar Cina adalah mengembangkan jaringan distributor lokal (51%), usaha patungan (47%) dan penjualan langsung melalui e-commerce dan m-commerce (46%).

Pentingnya e-commerce bagi demografi di bawah 40 (tahun) sudah jelas. Konsumen ini tumbuh bersama dengan ekspansi platform belanja online yang fenomenal, yang mencatat penjualan lebih dari USD1 triliun pada tahun 2017. Bisnis di Asia Pasifik dan Amerika Utara secara khusus melihat platform e-commerce sebagai kunci untuk terhubung dengan konsumen

Memahami budaya bisnis lokal menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh perusahaan asing yang telah berjualan ke Cina - kekhawatiran paling dirasakan di antara perusahaan-perusahaan Eropa (43%) tetapi kurang begitu dirasakan oleh perusahaan dari inggris (28%) dan Amerika Serikat (33%). Beradaptasi dengan selera lokal, memungkinkan lebih banyak waktu untuk mematuhi peraturan lokal (keduanya 35%) dan menetapkan harga produk dan layanan secara lebih kompetitif (31%) dipandang sebagai tantangan selanjutnya.

Tiga tantangan teratas bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan penjualan di Cina adalah menemukan mitra lokal yang tepat (34%), beradaptasi dengan selera Cina (33%) dan persaingan dengan perusahaan asing lainnya (32%).

Bisnis mencari cara untuk mengatasi tantangan ini dengan mendirikan kemitraan lokal (32%), meningkatkan jaringan distribusi atau hubungan distributor mereka sendiri (31%) dan meningkatkan keterampilan karyawan lokal mereka (29%).

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya