Pengangguran di Sumut Bertambah 19.000 Orang pada Agustus 2018

Oleh: Ropesta Sitorus 05 November 2018 | 17:56 WIB
Pengangguran di Sumut Bertambah 19.000 Orang pada Agustus 2018
Pencari kerja mendaftar di salah satu stan perusahaan di sebuah job fair./ANTARA-Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, MEDAN – Jumlah tenaga kerja menganggur di Sumatra Utara mengalami kenaikan pada Agustus 2018, akibat penyerapan tenaga kerja yang lebih sedikit dibandingkan dengan penambahan angkatan kerja.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Utara (Sumut) mencatat angka pengangguran di provinsi itu bertambah 19.000 orang atau 5,04% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni dari 377.000 menjadi 396.000 orang.

Adapun jumlah angkatan kerja di Sumut pada Agustus 2018 bertambah sebesar 381.000 orang menjadi 7,12 juta orang, sedangkan penambahan angkatan kerja yang bekerja naik 362.000 orang menjadi 6,73 juta orang.

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sumut Mukhamad Mukhanif menjelaskan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2018 turun 4 basis poin (bps) menjadi 5,56% dari 5,6% pada Agustus 2017.

TPT adalah indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja.

Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT yang paling tinggi yakni untuk lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 9,65%, diikuti dengan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 7,19%.

“Artinya, ada penawaran tenaga kerja yang berlebih terutama pada tingkat pendidikan SMK dan SMA. Lulusan SMK memiliki tingkat pengangguran tertinggi yang belum tertampung di pekerjaan mereka tidak bisa serta merta tertampung di pekerjaan karena ada lag antara kurikulum yang dipelajari dengan kebutuhan dunia kerja,” katanya di Medan, Senin (5/11/2018).

Hanif menambahkan para pengambil keputusan perlu memperhatikan ketersediaan lapangan kerja. Pasalnya, selain para penganggur, masih ada komponen pekerja yang masih setengah menganggur.

“Artinya, mereka bekerja tapi setengah menganggur, masih kekurangan jam kerja. Persentase pekerja tidak penuh waktu pada Agustus 2018 sebesar 31,92%, terdiri dari pekerja paruh waktu 23,52% dan pekerja setengah penganggur sebesar 8,38%. Hanya 68,08% penduduk bekerja yang jadi pekerja penuh dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu," paparnya.

Di sisi lain, angkatan kerja dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja. Hal itu tampak dari TPT SD yang paling kecil di antara semua tingkat pendidikan yakni sebesar 2,8%.

Dibandingkan dengan kondisi tahun lalu, peningkatan TPT terjadi pada tingkat SMK, diploma I/II/III, sedangkan tingkat pendidikan lainnya mengalami penurunan.

Sementara itu, dilihat dari tempat tinggalnya, TPT di perkotaan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan perdesaan. TPT di perkotaan sebesar 7,03% turun 34 bps dari Agustus 2017, sedangkan di pedesaan sebesar 3,92% naik 25 bps secara year-on-year (yoy).

Pada perkembangan lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Agustus 2018 mengalami kenaikan 2,94% menjadi 71,82%, sejalan dengan naiknya jumlah angkatan kerja.

Dilihat dari lapangan pekerjaan utama, bidang yang mengalami peningkatan persentase penduduk bekerja antara lain industri pengolahan, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta jasa pendidikan. Adapun bidang pekerjaan yang mengalami penurunan persentase penduduk bekerja antara lain pertanian, jasa perusahaan, dan bidang konstruksi.

Dari 6,73 juta penduduk bekerja, mayoritas atau 56,72% bergerak di bidang informal, yakni 3,82 juta penduduk. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pekerja informal mengalami kenaikan jumlah yakni dari 3, 69 juta, tapi secara persentase turun 118 bps.
 

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya