VOLUME PENJAMINAN : Jamkrindo Bidik Kenaikan 19% Tahun Depan

Oleh: Azizah Nur Alfi 05 November 2018 | 02:00 WIB

BOGOR - Perusahaan Umum (Perum) Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) optimistis volume penjaminan masih tumbuh dua digit pada 2019 seiring dengan strategi pengembangan database usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan sinergi BUMN.

Direktur MSDM, Umum dan Kepatuhan Perum Jamkrindo Sulis Usdoko menyatakan, perseroan menargetkan volume penjaminan akan menembus Rp186,83 triliun pada tahun depan atau tumbuh 19% dibandingkan dengan target tahun ini sebesar Rp157 triliun.

Hingga September 2018, volume penjaminan tercatat sebesar Rp126,48 triliun atau tercapai 80,56% dari target tahun ini. Angka ini tumbuh sebesar 14,98% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp110 triliun.

Penjaminan non-KUR menjadi kontributor terbesar terhadap realisasi volume penjaminan per kuartal III/2018 yakni, sebesar 80% atau Rp 85,18 triliun. Adapun, 20% sisanya berasal dari penjaminan KUR yakni sebesar Rp 41,30 triliun.

Sementara itu, total aset perseroan per September 2018 tercatat sebesar Rp15,51 triliun, dengan jumlah ekuitas sebesar Rp11,09 triliun.

“Sesuai dengan rencana kerja perseroan, volume penjaminan akan tumbuh 18%-19% dari prognosa 2018,” katanya di sela-sela kegiatan media gathering 2018, Sabtu (3/11).

Dia menjelaskan, target ini mengacu pada kondisi makro ekonomi nasional, pertumbuhan industri perbankan, serta inisiatif-inisiatif baru yang dilakukan perseroan di antaranya pengembangan database UMKM yang dilakukan mulai tahun ini. Di samping itu, sinergi BUMN turut mendorong pertumbuhan volume penjaminan secara signifikan.

“Yang signifikan adalah sinergi BUMN. Kami melaksanakan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2018 tentang peran Perusahaan Umum (Perum) Jaminan Kredit Indonesia,” imbuhnya.

Berdasarkan regulasi tersebut, pemerintah melanjutkan penugasan kepada Perum Jamkrindo untuk melakukan usaha penjaminan bagi UMKM dan Koperasi. Di samping itu, pemerintah dapat memberikan penugasan lain kepada perseroan dengan tetap memperhatikan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perusahaan.

Sulis menjelaskan, hal itu sebagai salah satu diversifikasi yang dilakukan oleh perseroan. Sebelumnya, penugasan kepada Jamkrindo hanya terbatas pada UMKM. Perseroan menjaga porsi penjaminan kepada selain UMKM yakni sebesar 30%.

“Kami boleh melepas batasan UMKM untuk sinergi BUMN. Di luar UMKM maksimal 30%. Itu salah satu diversifikasi yang kami lakukan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Sulis optimistis pengembangan database penjaminan yang dilakukan mulai tahun ini bakal mendorong pertumbuhan volume penjaminan secara signifikan dalam 4 tahun mendatang. Untuk mendukung upaya pengembangan database UMKM, perseroan telah bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri, biro kredit, dan perbankan.

Dia mengatakan, semakin besar perseroan menguasai data UMKM, maka akan semakin besar data terjamin yang dapat diusulkan ke bank. Dengan demikian, hal ini akan mendorong pertumbuhan volume penjaminan.

Di sisi lain, Sulis juga mengatakan perseroan sebagai leader di industri penjaminan memiiki tugas untuk menjalankan Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL). Dia menjelaskan, selain memberikan pinjaman usaha, perusahaan juga melakukan pendampingan usaha dan membantu UMKM memperluas pasar dengan cara memfasilitasi pelaku usaha ikut dalam pameran-pameran, baik skala nasional maupun internasional. ^(Azizah Nur Alfi)

Editor: Gita Arwana Cakti

Berita Terkini Lainnya