Realisasi Inflasi Sumut Inflasi 2,73%, Waspadai Potensi Lonjakan Pada Desember

Oleh: Ropesta Sitorus 03 November 2018 | 07:44 WIB
Realisasi Inflasi Sumut Inflasi 2,73%, Waspadai Potensi Lonjakan Pada Desember
Pedagang cabai rawit./Bloomberg-Dimas Ardian

Bisnis.com, MEDAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat seluruh kota indeks harga konsumen (IHK) di Sumatera Utara mengalami inflasi, yakni  Sibolga sebesar 1,24%, Pematangsiantar sebesar 0,80%, Medan 1,44% dan Padangsidempuan 0,11%.

“Gabungan 4 kota IHK di Sumut pada bulan Oktober mengalami inflasi 1,31% dengan peningkatan indeks harga dari 137,07 pada September 2018 menjadi 138,87. Inflasi tahun kalender 2018 sebesar 1,59% sedangkan inflasi secara year on year sebesar 2,73%,” kata Syech Suhaimi, Kepala BPS Sumut, seperti diakses dari situs resmi BPS, Sabtu (3/11/2018).

Di Kota Medan, terjadi inflasi sebesar 1,44% atau peningkatan indeks dari 137,28 pada September 2018 menjadi 139,26% pada bulan Oktober 2018 karena adanya peningkatan indeks harga pada seluruh kelompok pengeluaran.

Sebagai contoh, kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 4,20%, kelompok makan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,53%, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,71%, serta kelompok sandang sebesar 2,06%, kelompok kesehatan sebesar 0,09%, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,16% dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,25%.

“Komoditas utama penyumbang inflasi di Medan selama bulan Oktober 2018 adalah cabai merah, upah pembantu rumah tangga, ketupat/lontong sayur, bensin, sawi hijau, gaun/terusan serta cabai rawit,” katanya.

Lebih lanjut, dari 23 kota IHK di Pulau Sumatera, sebanyak 19 kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Medan sebesar 1,44%, dengan IHK sebesar 139,26 dan terendah di Bandar Lampung sebesar 0,02% dengan IHK sebesar 134,39.

Secara terpisah, Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut Gunawan Benjamin menyoroti laju tekanan inflasi Sumut Sumut yang mencapai 1,31%, jauh berbeda dengan inflasi nasional sebesar 0,28%.

Menurut Gunawan salah satu kontributornya akibat fluktuasi harga cabai yang tinggi. Di tingkat pedagang tradisional, harganya sempat menyentuh Rp47.000 per Kg, meski berangsur pulih ke kisaran Rp30.000 per kg, khususnya tiga hari terakhir bulan Oktober.

“Meski demikian, saya tetap berkeyakinan kalau harga cabai ke depan bisa lebih dikendalikan. Selama cuaca tidak memburuk, dan cabai bertahan tidak lebih dari Rp33.000, maka diharapkan pada November ini tekanan inflasi akan mereda,” katanya.  

Waspadai Potensi Lonjakan

Namun, harga sayur mayur masih perlu menjadi perhatian karena bertahan mahal dengan rata-rata kenaikan harga 30%-50% untuk komoditas sayur seperti kol, sawi pahit, wortel dan buncis.

Meskipun realisasi inflasi Sumut sejauh ini masih sebesar 2,73% (YoY) masih terbilang rendah, Gunawan menuturkan potensi lonjakan inflasi pada Desember patut diwaspadai. 

“Karena tinggal dua bulan sisa tahun 2018, perayaan Natal dan Tahun Baru sangat berpeluang menambah tekanan laju inflasi nantinya, diharapkan realisasi inflasi di Sumut nantinya tidak berada jauh di atas 3% untuk menjaga daya beli masyarakat,” ungkapnya.

Gunawan mendorong pemerintah agar lebih mampu mengendalikan harga kebutuhan pangan di Sumut dan mengantisipasi volatilitas harga kebutuhan pokok masyarakat akibat faktor cuaca. Menurutnya, laju tekanan inflasi di atas rata-rata nasional tersebut seharusnya tidak terjadi lagi di Sumut jelang penutupan akhir tahun.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya