Kredit di Sumut Hanya Tumbuh 5,41% pada Kuartal III/2018

Oleh: Ropesta Sitorus 02 November 2018 | 19:19 WIB
Kredit di Sumut Hanya Tumbuh 5,41% pada Kuartal III/2018
Sejumlah siswa melihat proses pembuatan tenunan kain songket Batubara saat berkunjung di Batubara, Sumatera Utara./Antara-Septianda Perdana

Bisnis.com, MEDAN – Realisasi tingkat pertumbuhan kredit di Sumatera Utara pada kuartal III/2018 hanya mencapai satu digit, meleset dari target dua digit dan jauh tertinggal dari realisasi loan growth nasional.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumatera Bagian Utara Lukdir Gultom, mengatakan penyaluran kredit dan pembiayaan, khususnya di Sumatra Utara, masih perlu terus ditingkatkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, hingga akhir September 2018 kredit dan pembiayaan di Sumut hanya mampu tumbuh 5,41% secara year on year (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara nasional, kinerja intermediasi perbankan mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit 12,91% (YoY), yang mana tercatat sebagai pertumbuhan yang tertinggi secara YoY sejak 2015.

Pertumbuhan yang lebih rendah juga terjadi pada sisi penghimpunan pendanaan. Total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan di Sumut hanya tumbuh 3,73%, juga di bawah rata-rata nasional yang relatif stagnan di level 6,25% (YoY).

"Untuk menjawab tantangan target pertumbuhan ekonomi nasional, maka kinerja 2 komponen utama intermediasi ini masih perlu di sisa tahun 2018,” kata Lukdir.

Lebih lanjut, ketika ditanya faktor penyebab rendahnya pertumbuhan penyaluran kredit di Sumut yang jauh di bawah realisasi nasional, Lukdir mengaku tidak paham.

“Saya juga kurang paham penyebabnya, bukan hanya di Sumut tapi hampir di seluruh pulau Sumatra pertumbuhan kredit itu agak melambat, termasuk provinsi Riau, Kepulauan Riau, Aceh. Tapi dibandingkan dengan area Sumatra bagian utara, growth di Sumut masih agak lebih tinggi. Saya tidak tahu penyebabnya,” tuturnya dalam acara Media Gathering 2018 di Pematangsiantar, Sumatera Utara, Jumat (2/11/2018).

Lukdir yang menjabat sebagai pimpinan OJK Regional 5 Sumut selama dua tahun tiga bulan terakhir menduga lambannya intermediasi perbankan akibat faktor permintaan kredit yang masih rendah.

“Menurut saya bukan di sisi supply atau dari industri jasa keuangan yang kurang agresif, tapi demand yang turun. Nah saya tidak tahu, harusnya ditanya ke Pemda karena tugas Pemda kenapa permintaan masyarakat tidak kuat,” lanjutnya.

Lukdir beralasan selama ini OJK bersama lembaga jasa keuagan cukup rutin melakukan sosialisasi terkait produk-produk perbankan bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), yang merupakan forum koordinasi antarinstansi dan stakeholders untuk meningkatkan percepatan akses keuangan di daerah.

Dia mencontohkan, OJK kerap menggandeng Bank Sumut yang memiliki alokasi Kredit Usaha Rakyat Rp750 miliar untuk mensosialisasikan penyaluran KUR dengan tingkat bunga 7% tersebut.

Alasan lainnya, kata Lukdir, akibat kondisi permodalan perbankan di Sumut sehingga bank menjadi lebih terbatas dari sisi ekspansi kredit.

“Kalau di Sumut ini kan kebanyakan bank BUKU I dan II, pertumbuhannya ya segitu-gitu saja. Seperti Bank Mestika Dharma tumbuh di bawah 7%, sementara bank-bank besar BUKU III dan IV pusatnya di Jakarta,” tuturnya.

OJK mencatat total aset perbankan di Sumut per akhir September mencapai Rp248 triliun, tumbuh 4,41% secara tahunan.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya