Kenaikan Harga Rokok dan Angkutan Udara Pengaruhi Inflasi Palembang

Oleh: Dinda Wulandari 01 November 2018 | 14:25 WIB
Kenaikan Harga Rokok dan Angkutan Udara Pengaruhi Inflasi Palembang
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018)./ANTARA-Muhammad Adimaja

Bisnis.com, PALEMBANG – Kota Palembang tercatat mengalami inflasi sebesar 0,14% pada Oktober 2018, yang dipicu kenaikan harga sejumlah komoditas seperti rokok kretek filter dan tarif angkutan udara.
 
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Selatan (Sumsel) Endang Tri Wahyuningsih mengatakan terdapat lima komoditas tertinggi penyumbang inflasi pada bulan lalu.
 
“Selain harga rokok dan angkutan udara yang naik, ada pula kenaikan harga beras, emas perhiasan dan biaya akademi atau perguruan tinggi,” paparnya, Kamis (1/11/2018).

Bahkan, biaya kuliah tercatat sebagai penyumbang terbesar untuk inflasi Oktober 2018, dengan andil sebesar 0,07%.
 
Secara keseluruhan, ada 88 komoditas yang mengalami kenaikan harga dari 386 komoditas yang dipantau BPS pada periode tersebut. Sementara itu, 44 komoditas lainnya mengalami penurunan harga.
 
Selain Palembang, kota-kota lain di Sumsel yang disurvei BPS adalah Lubuk Linggau. Pada Oktober 2018, inflasi di kota itu sebesar 0,03%.  

Dengan demikian, Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,13% pada Oktober 2018, sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 1,62%.
 
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Sumsel Uzirman Irwandi menerangkan kenaikan harga tiket angkutan udara tidak terlepas dari harga avtur.
 
“Penerbangan itu sangat dipengaruhi harga avtur, jika harga bahan bakarnya naik maka bakal berdampak terhadap harga tiket,” ujarnya.

Mengacu pada data International Air Transport Association (IATA), per 26 Oktober 2018, harga avtur internasional adalah US$94,69 per barel atau naik 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya dan 32,3% secara year-on-year (yoy). Adapun harga rata-rata sepanjang tahun ini sebesar US$87,7 per barel.
 

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya