Baca Peluang Perang Dagang, Batam Gaet Investor Tiongkok

Oleh: Sarma Haratua Siregar 29 Oktober 2018 | 18:50 WIB
Baca Peluang Perang Dagang, Batam Gaet Investor Tiongkok
Jembatan Tengku Fisabilillah atau dikenal dengan Jembatan Barelang terlihat dari udara di Batam, Kepulauan Riau, Minggu (9/4/2017)./JIBI-Dwi Prasetya

Bisnis.com, BATAM – Himpunan Kawasan Industri (HKI) mendorong otoritas FTZ Batam menggaet investasi baru dari negara-negara yang terlibat perang dagang dengan Amerika Serikat. Mulai Januari 2019 pemerintah Amerika kembali menaikan tarif sebesar 25% bagi produk asal Tiongkok

Wakil Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hoeing mengatakan, beberapa perusahaan Batam yang memiliki Plant Manufacture di Tiongkok sedang melihat peluang menggeser usahanya sepenuhnya ke Batam. Pertimbangan utamanya adalah agar hasil produksi mereka tetap bisa masuk ke pasar USA tanpa dikenai beban pajak yang tinggi.

Batam dinilai memiliki sejumlah keunggulan dibanding kawasan lain di Asean, terutama karena adanya Free Trade Agreement (FTA) antara pemerintah Indonesia dengan Amerika. Perjanjian dagang kedua negara ini memungkinkan produk Indonesia masuk ke pasar Amerika tanpa dikenai pajak.

“Ini kesempatan yang baik bagi Batam untuk menarik sebanyak mungkin investasi masuk ke Batam,” Ujar Ayung, Senin (29/10).

Salah satu syarat mendapatkan tarif preferensi 0 persen tersebut adalah penggunaan konten lokal minimal 35 persen. Persentase tersebut membut nilai tambah produk industri yang diekspor ke Amerika nantinya lebih tinggi.

Otoritas kawasan FTZ Batam harus mulai mengambil langkah menyikapi kondisi ini. Salah satunya membuat daftar PMA di Batam yang memiliki Plant Manufacture di Tiongkok. Promosi keunggulan Batam juga harus mulai disuaraka lebih gencar, agar industri tersebut yakin untuk memindahkan plantnya ke Batam.

“Buatkan simulasinya dan yakinkan mereka supaya move plantnya di plant Batam. Jangan sampai mereka masuk di plant lainnya di regional ASEAN,” jelas Tjaw.

Selain itu, pemeritah jgua harus konsisten memberikan kemudahan kepada industri-industri yang akan masuk ke Batam. Salah satunya dengan mendelegasikan sejumlah kewenangan perizinan kepada BP Batam sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di Batam.

Saat ini, masih banyak peraturan menteri terkait import bahan baku yang masih memerlukan rekomendasi dan Persetujuan import. Setiap tahun, industri harus mengurus perpanjangan persetujuan import di kantor Kementerian Perdagangan di Pusat.

Beberapa barang yang termasuk pengadaan, distribusi dan pengawasan bahan berbahaya (B2) juga hanya dapat dilakukan melalui pelabuhan tujuan yang ditunjuk sesuai peraturan menteri, dimana Pelabuhan Laut Batam tidak termasuk di dalamnya.

“Padahal bahan bahan baku tersebut diimport untuk keperluan produksi, bukan untuk diperjual belikan, kemudian importnya dari Singapore. Masak kita harus kirim dulu ke Jakarta, kemudian diteruskan ke Batam. Ini sangat tidak logis,” jelasnya.

Sementara itu, sejumlah perusahaan manufaktur di Batam sudah mulai melakukan ekspansi untuk merambah pasar Amerika dan Eropa. PT. Flo-Bend Indonesia misalnya, menggelontorkan investasi sebesar USD 4 juta hingga USD 6 juta untuk memperluas usaha dan meningkatkan produksi.

“Kemungkinan akan terus bertambah jika permintaan pasar semakin meningkat,” ujar Presiden Direktur PT. Flo-Bend Indonesia, Adam M Ambielli.

Produsen Fitting besi dan Baja itu akan mulai meningkatkan ekspor di akhir tahun. Menurut Adam, peluang perluasan pasar bagi produk besi dan baja Indonesia terbuka lebar di Amerika dan Eropa terbuka lebar. Terutama setelah pemerintah Amerika dan sejumlah negara di Eropa menerapkan tarif tinggi bagi produk dari sejmlah negara, termasuk India dan Tiongkok.

Setelah dikenakan tarif tinggi, harga produk besi dan baja asal India, Tiongkok bahkan Vietnam jadi tidak kompetitif di pasar Amerika dan Eropa. Sementara harga produk asal Indonesi jadi lebih murah, karena tak terkena kebijakan pajak tersebut.

Pemerintah Amerika dan Eropa menaikan tarif pajak impor produk-produk dari sejumlah negara, seperti Cina dan India. Akibat pengenaan pajak yang tinggi, produk-produk dari negera tersebut tidak lagi kompetitif di Eropa dan Amerika.

“Situasi yang ada saat ini sangat menguntungkan Indonesia. Karena dalam kondisi perang tarif ini, Produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di Amerika dan Eropa. Perluasan pasar ekspor, terutama untuk produk besi dan baja akan semakin terbuka,” ujarnya.

Selain meningkatkan investasi untuk mendongkrak produksi, perusahaan ini juga tengah menjajaki peningktan konten lokal dalam produknya. Flo-Bend Indonesia tengah berupaya meminta bantuan pemerintah daerah dan otoritas kawasan FTZ Batam untuk memetakan konten lokal apa saja yang bisa dioptimalkan dalam produksi Fitting Besi dan Baja.

Masih terait konten lokal, perusahaan ini juga tengah menjajaki peluang kerjasama pengadaan bahan baku besi dan baja dari produsen dalam negeri. Namun sampai saat ini belum ada produsen dalam negeri yang memenuhi standart bahan baku yang dibutuhkan.

Flo Bend Indonesia telah mendapat sertifikasi ISO 9001: 2015 untuk memproduksi baja karbon, baja paduan dan peralatan baja tahan karat. Semua material dapat dilacak selama proses pembuatan dengan prosedur QA dan QC yang ketat.

Selain itu, kualitas bahan baku ayng digunakan dalam setiap produksi harus melalui persetujuan client yang mayoritas berada di Amerika dan Eropa. Biasanya produk PT. Flo-Bend Indonesia digunakan utnuk keperluan jaringan pipa gas, perkapalan, petrokimia, kimia, energi dan industri lepas pantai.

Selama ini kebutuhan bahan baku masih dipasok oleh Tianjin Pipe Corporation Limited (TCPO) Tiongkok. Namun jika Indonesia bisa menyediakan bahan baku sesuai standar yang dibutuhkan, maka distribusi akan dilakukan melalui produsen dalam negeri.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya