Konversi Kebun Rakyat Ancam Pabrik Karet di Sumut

Oleh: Ropesta Sitorus 29 Oktober 2018 | 18:39 WIB
Konversi Kebun Rakyat Ancam Pabrik Karet di Sumut
Getah pohon karet/Istimewa

Bisnis.com, MEDAN – Penurunan produksi karet rakyat di Sumatera Utara yang terus terjadi mulai menggganggu produktivitas pabrik karet remah dan bahkan membuat sejumlah pabrik terancam tutup.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah mengatakan hampir 92%  bahan olah karet (bokar) yang digunakan pabrik karet remah (crumb rubber) bersumber dari lahan rakyat.

Akan tetapi, dalam lima tahun belakangan produksi karet rakyat semakin menurun seiring dengan harga yang cenderung terus melemah. Penurunan produksi itu antara lain disebabkan penebangan pohon karet serta konversi ke tanaman lain seperti sawit dan ubi.

Faktor penyebab lain adalah peralihan profesi menjadi pekerja di subsektor lainnya. Dia mencontohkan, ketika seorang petani karet tidak lagi mendapatkan pemasukan sekitar Rp50.000 per hari, maka kebun karetnya akan ditinggalkan mencari pekerjaan lain, misalnya kuli bangunan yang penghasilannya Rp70.000 per hari.

“Masalah utama terjadinya konversi tanaman karet ke tanaman lainnya dan peralihan profesi dari petani karet ke pekerja lainnya adalah harga yang tidak lagi menguntungkan dan cenderung menurun,” katanya, Senin (29/10/2018).

Penurunan produksi karet rakyat tersebut membuat operasional sejumlah pabrik menjadi semakin terganggu.

“Sebanyak 30 unit pabrik karet remah di Sumatera sumber bahan bakunya 90% dari karet rakyat. Dengan keadaan produksi karet rakyat yang terus menurun, menimbulkan potensi pabrik-pabrik terancam tutup satu per satu,” ujarnya.

Sebagai solusi, sejumlah pelaku usaha pabrik karet di Sumut mau tak mau mencari pasokan bahan baku dari provinsi lain seperti Aceh, Lampung, Kalimantan hingga Sulawesi. Saat ini, porsi penggunaan bahan baku dari luar Sumut berkisar 50%, padahal pada tahun sebelumnya, porsinya hanya sekitar 30%.

“Kondisi saat ini, pabrik yang biasanya beroperasi 3 shift sehari menjadi 1 shift dan masih 6 hari kerja dalam seminggu. Sedangkan yang beroperasi dua shift menjadi 1 shift dengan hari kerja 3-4 hari. Yang paling parah, yang biasanya 1 shift saat ini hanya beroperasi 1 kali dalam seminggu,” ungkap Edy.

Sejalan dengan penurunan produktivitas pabrik-pabrik crumb rubber, tren penurunan volume ekspor karet dari Sumut juga masih berlanjut.

Gapkindo Sumut mencatat ekspor karet remah pada September 2018 turun 2,3% menjadi 39.018 ton dari bulan sebelumnya 40.018 ton.

“Pertama, ini sejalan dengan berkurangnya permintaan dari negara-negara konsumen utama dan  faktor kedua yakni penundaan pengiriman oleh sejumlah eksportir karena pasokan yang berkurang,”

Di sisi lain, lanjut Edy, berkurangnya pasokan karet dari Sumut dan provinsi lain tidak berdampak pada peningkatan harga di pasar global.

Edy juga mempertanyakan peran dari mitra pembeli karet dalam meminimalisir konversi lahan dan alih profesi para petani karet. Di pasar global, para mitra pembeli dari industri ban, misalnya, tengah menjalankan program karet berkelanjutan.

“Tapi akan lebih baik kalau petani karet disejahterakan lebih dulu dengan adanya jaminan harga dasar, setelah itu program sustainable rubber. Faktanya saat ini mereka sudah beralih profesi, dengan keadaan seperti ini apa yang dapat sustain?,” kata dia.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya