Perbaikan Data Pertanian, Ini Strategi BPS Sumut

Oleh: Ropesta Sitorus 29 Oktober 2018 | 15:55 WIB
Perbaikan Data Pertanian, Ini Strategi BPS Sumut
Persawahan./Antara-Nyoman Budhiana

Bisnis.com, MEDAN – Badan Pusat Statistik memperkuat kapasitas koodinator statistik kecamatan di Sumatera Utara untuk mendukung pemantapan Statistik Pertanian dan Program Nasional Ketahanan Pangan 2018.

Kegiatan peningkatan kualitas koordinator statistik kecamatan (KSK) yang profesional dan berinovasi tersebut diselenggarakan di Medan, Sumatera Utara, Senin (29/10/2018).

Kepala BPS Pusat Suhariyanto menyatakan pengumpulan seluruh KSK di Provinsi Sumut dilakukan dengan tujuan untuk evaluasi kegiatan yang sudah berjalan pada 2018, sekaligus demi mendorong capacity building.

“Ada beberapa kegiatan yang sudah dijalankan pada 2018, seperti melakukan SUTAS 2018 atau survei pertanian antarsensus,” katanya sebelum pembukaan acara.

Suhariyanto menjelaskan, pada tahun ini BPS melakukan survei pertanian antarsensus (SUTAS), survei konversi dari gabah menjadi beras, survei ubinan yakni mengukur rata-rata produksi padi per ha lahan serta survei kerangka sampel area untuk mengukur potensi produksi padi.

Empat jenis survei tersebut, kata dia, diharapkan dapat memperbaiki data beras nasional agar angkanya lebih akurat. Dengan begitu diharapkan kebijakan yang diambil pemerintah menjadi lebih baik dan tepat sasaran, termasuk mengenai ekspor-impor serta terkait subsidi pupuk dan benih.

Salah satu hasil dari survei yang dilakukan BPS bersama Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaha Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), serta Badan Pertanahan Nasional / Kementerian Agraria dan Tata Ruang adalah terkait perubahan luas lahan sawah nasional.

Dalam survei pertanian tahun 2013 tercatat luas baku lahan sawah masih 7,75 juta hektar, kemudian datanya terkoreksi turun jadi 7,1 juta hektare pada 2018.

Dia menekankan metode penghitungan dalam Sutas 2018 pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan sensus pertanian periodik 10 tahun. Namun ada variable tertentu yang ditanyakan seperti terkait struktur ongkos dan permasalahan dalam pengusahaan tani. Modifikasi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan data.

“Jadi sekarang kita sudah punya data konversi luas lahan baku sawah yang baru untuk 2018. Memang ada juga pencetakan sawah tapi tidak secepat laju pengurangan lahan. Harus disadari bahwa ada kompetisi penggunaan lahan untuk pertanian dan untuk kepentingan industri, perumahan dan lain-lain,” ujarnya.

Di sisi lain, survei kerangka sampel area yang dilakukan pada periode Januari – September 2018 juga memberikan informasi soal gambaran ketahanan pangan di waktu yang akan datang.

Mengacu pada peta produksi bulanan, Suhariyanto menyebutkan produksi beras masih berpotensi surplus 2,85 juta ton dalam tiga bulan mendatang. Hal itu mengingat konsumsi beras turun menjadi sekitar 111,4 kilogram per kapita per tahun dari sebelumnya 114,6 kilogram per kapita per tahun.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya