Harga Pangan Berfluktuasi, Oktober Sumut Diprediksi Inflasi 0,3%

Oleh: Ropesta Sitorus 29 Oktober 2018 | 16:03 WIB
Harga Pangan Berfluktuasi, Oktober Sumut Diprediksi Inflasi 0,3%
Ilustrasi: Petani panen bawang merah. Bawang merah merupakan salh satu komoditas penyumbang inflasi di Sumatra Utara./Antara-Saiful Bahri

Bisnis.com, MEDAN – Sumatra Utara diprediksi mengalami inflasi di kisaran 0,3% pada Oktober akibat harga sejumlah komoditas pangan berfluktuasi.

Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut Gunawan Benjamin menuturkan dalam sebulan terakhir, fluktuasi harga yang cukup tajam terjadi pada beberapa komoditas seperti bawang putih, bawang merah, telur, daging, sayur-sayuran, serta cabai.

“Mengacu kepada perubahan harga selama bulan berjalan Oktober ini, saya memperkirakan Oktober akan terjadi inflasi, sejauh ini menurut hemat saya besaran inflasinya masih dikisaran 0,3%,” ujarnya di Medan pada Senin (29/10/2018).

Dia mencontohkan harga bawang putih yang sebelumnya sempat melonjak ke level Rp30.000 per kg, saat ini berbalik ke level Rp22.000 per kg. Begitu juga dengan harga cabai merah yang sebelumnya sempat mendekati Rp50.000 per kg, saat ini dijual dalam rentang Rp30.000 - Rp35.000 per kg.

Fluktuasi harga pangan belakangan ini, lanjutnya, lebih dipengaruhi oleh faktor cuaca. Perbaikan harga kebutuhan pokok mulai membaik menjelang akhir bulan sejalan dengan kondisi cuaca yang mulai bersahabat.

Sementara itu, untuk bawang merah yang sempat turun di bawah Rp15.000 per kg, saat ini dijual di kisaran Rp22.000 per kg. Adapun, untuk telur ayam harganya masih stabil di kisaran Rp21.000 per kg sedangkan harga daging ayam turun di Rp28.000 per kg.

“Kita akan amati terus perkembangan harga hingga akhir bulan nanti dan akan melihat seberapa besar fluktuasi harga pangan di tengah cuaca dengan intensitas hujan yang cukup lebat belakangan ini,” ujarnya.

Sementara itu, faktor pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini masih berpengaruh kepada pakan ternak yang harganya memang mengalami kenaikan. Kenaikan harga pakan ternak tersebut menjadi penyebab sulitnya harga telur ayam untuk melanjutkan tren penurunan.

“Kondisi ini diperkirakan tidak begitu mengganggu harga, karena pada dasarnya tren perubahan harga yang terjadi lebih dipengaruhi oleh cuaca,” ujar Gunawan.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya