Sumut Janjikan Kemudahan Investasi Asal Jepang

Oleh: Ropesta Sitorus 23 Oktober 2018 | 20:18 WIB
Sumut Janjikan Kemudahan Investasi Asal Jepang
Wisatawan melihat panorama Danau Toba dari puncak "one tree hills" Taman Simalem Resort, di Karo, Sumatera Utara, Sabtu (20/10/2018). Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Kementerian Pariwisata dan tujuh investor melakukan perjanjian kerja sama investasi pengembangan Danau Toba, senilai 400 juta dolar AS atau setara Rp6,1 triliun pada lahan seluas 77,5 hektare./Antara-Irsan Mulyadi

Bisnis.com, MEDAN – Pemerintah Sumatera Utara berharap hubungan kerja sama antara Sumut dengan Jepang semakin meningkat untuk memaksimalkan pertumbuhan kedua pihak.

Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah mengundang perusahaan-perusahaan Jepang untuk menambah investasi di Sumut, khususnya yang berbasis teknologi. Beberapa sektor potensial yang ditawarkan yakni pariwisata, pertanian, serta pengelolaan sampah.

Menurutnya, dengan penggunaan teknologi untuk pertanian akan dapat membantu Sumut mewujudkan target swasembda beberapa komoditas seperti padi, cabai, jagung dan keledai.

“Kami berharap dari pemerintah Jepang dan pengusaha Jepang untuk bisa memanfaatkan potensi sumber daya manusia (SDM) di Sumut. Kami juga berharap bantuan pengusaha Jepang yang secara teknologi sudah lebih maju,” tuturnya dalam dalam acara 60 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Jepang, di Hotel Aryaduta Medan, Selasa (23/10/2018).

Ijeck, begitu dia biasa disapa, menjelaskan pemerintah Sumut cukup serius untuk meningkatkan kerja sama dengan Jepang. Untuk itu, pemprov Sumut menegaskan akan memudahkan proses investasi serta mengatasi pungutan-pungutan liar.

Hal itu juga telah disampaikan dalam pertemuan dengan para pengusaha Jepang yang tergabung dalam ASEAN Nagoya Club di Jakarta, Minggu (21/10) yang juga membahas terkait pengembangan pendidikan, kesehatan, pertanian, dan pengelolaan sampah.

“Saat ini, kami sedang concern dengan teknologi pengelolaan sampah. Kita ingin belajar dari Jepang bagaimana agar sampah-sampah di Sumut ini bisa terkelola dengan baik, misalnya mengubah sampah menjadi energi atau produk bernilai guna lainnya,” tuturnya.

Program lainnya yang juga direncanakan yakni di bidang pendidikan. Pelajar dan mahasiswa berprestasi di Sumut akan dikirim ke beberapa negara maju untuk studi, salah satunya ke Jepang.

“Ini masih dalam perencanaan, dengan harapan program seperti ini bisa memberi perkspektif baru bagi generasi muda Sumut yakni menggali ilmu dari negara-negara maju dan pulang berbuat sesuatu untuk daerah Sumut,” kata Ijeck.

Acara peringatan 60 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Jepang juga dibarengi dengan Simposium Bisnis dan Teknologi. Medan merupakan kota keempat tempat digelarnya Simposium yang menampilkan presentasi dari perusahaan-perusahaan teknologi di Jepang.

Norihisa Tsukamoto, Direktur Jenderal The Japan Foundation sekaligus Perwakilan Komite Pelaksana Peringatan 60 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Jepang, menyampaikan simpsosium tersebut digelar untuk menjangkau daerah-daerah di luar Jakarta.

“Sumut merupakan salah satu daerah yang kaya potensi, seperti harapan Bapak Wakil Gubernur, kita juga berharap lebih banyak kerja sama antara Jepang dan Sumut terjadi di masa depan,” jelasnya.

Turut hadir dalam acara tersebut Konsul Jenderal Jepang di Medan Takeshi Ishii, Wakil Ketua Umum Kadin Jonner Napitupulu, Direktur Utama PT Sagami Indonesia Noboru Kamei, Pejabat Eksekutif Optim Corporation Keiichi Yokoyama, serta Executive Vice President & Deputy General Manager Jakarta Branch MUFG Bank.

Naboru Kamei, Direktur Utama PT Sagami Indonesia Noboru Kamei, menjelaskan perusahaan tersebut memproduksi material elektronik untuk kebutuhan perusahaan besar yang bergerak di bidang otomotif dan elektronika di Asean, Jepang, China, Eropa dan Amerika.

Saat ini basis produksi Sagami ada di tiga negara yakni China, Malaysia dan Indonesia. Sedangkan pusat pemasarannya terletak di China, Singapura dan Amerika Serikat dengan tingkat penjualan sekitar US$7.500 juta.

“Mulai 2013 pabrik kami di Indonesia tepatnya di Medan berdiri dan menjadi yang pabrik yang terbesar kedua setelah China, dengan jumlah produksi 5,2 juta pieces per bulan dan jumlah tenaga kerja 1.800 orang,” tuturnya.

Dia menjelaskan wilayah Medan dipilih sebagai pusat produksi karena jarak tempuh yang relatif lebih dekat ke Malaysia. Sagami menyatakan melihat potensi permintaan yang tinggi, pihaknya berniat menambah investasi dengan membangun pabrik baru berkapasitas sama di wilayah Binjai, Sumut.

“Jumlah tenaga kerja dan target produksinya kurang lebih sama dengan yang ada di kawasan industri Tanjung Morawa. Target kami pabrik baru tersebut dimulai pada 2020. Untuk nilai investasinya masih belum bisa kami sampaikan,” katanya.

Sementara itu, Optim Corporation yang bergerak di bidang pemanfaatan teknologi informasi untuk industri pertanian, menyatakan minatnya untuk memulai investasi di Sumut.

Keiichi Yokoyama menuturkan pihaknya telah memulai ujicoba di sejumlah lokasi seperti di perkebunan stroberi, Kabupaten Berastagi.

“Produk kami dinamakan smart agriculture karena pemanfaatan IT dan bigdata untuk pertanian akan bisa mengurangi biaya produksi, memudahkan orang bekerja secara jarak jauh, serta menghindari penggunaan pestisida yang berlebih. Ini sudah kami terapkan di Jepang dan akan kami coba bawa masuk ke Indonesia,” kata Yokoyama.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya