Ini Penjelasan Dirut Baru Indosat Ooredoo Soal Aksi Konsolidasi

Oleh: Ropesta Sitorus 23 Oktober 2018 | 06:22 WIB
Ini Penjelasan Dirut Baru Indosat Ooredoo Soal Aksi Konsolidasi
Joy Wahjudi (kiri) dan CEO Indosat Tbk. Chris Kanter di acara pisah sambut dewan direksi Indosat Ooredoo/Bisnis-Duwi Setiya Ariyanti

Bisnis.com, MEDAN -  Direksi PT Indosat Ooredoo Tbk. (ISAT) angkat bicara terkait rencana konsolidasi lewat skema merger dan akuisis dengan perusahaan operator telekomunikasi digital lain.

Chris Kanter, Direktur Utama dan CEO Indosat Ooredoo yang baru ditunjuk lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada pekan lalu, tidak menampik adanya rencana aksi korporasi tersebut.

Hal itu sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis untuk menghadapi kompetisi, dinamika pasar dan tren teknologi. Beberapa nama yang disebut-sebut masuk dalam rencana  konsolidasi Indosat Ooredoo yakni PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dan Hutchison 3 Indonesia (Tri).

Namun ketika dikonfirmasi terkait dua nama perusahaan itu, Chris tidak menjawab secara pasti. Dia juga enggan memerinci nama perusahaan maupun mekanisme konsolidasi dengan alasan jajaran direksi yang baru belum melakukan persiapan dan penjajakan. 

“Bahwa nature saya sebagai pengusaha serta terbiasa dengan merger dan akuisisi didukung Qatar [selaku pemegang saham mayoritas Indosat Ooredoo] juga punya uang, tentu opsi ini tidak tertutup walau sekarang kami belum berpikir ke arah itu. Tapi saya tidak mau bohong, saya gak bilang bahwa kami bukan mau ke situ,” katanya, di Medan, Senin (22/10/2018).

Dia menambahkan gagasan untuk akuisisi dan merger tersebut telah ada sejak dua tahun lalu. Akan tetapi, menurutnya, pembicaraan tersebut terhenti karena perseroan ingin fokus dalam tiga hal yakni penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), transformasi proses dan bisnis.  

Indosat Ooredoo akan menambah jaringan 4G secara lebih masif dan ekspansif sehingga cakupannya dapat meningkat menjadi 100%. Chris memperkirakan penambahan jaringan dan penguatan bisnis dalam dua tahun ke depan akan menelan belanja modal yang cukup besar yakni berkisar US$2 miliar.

“SDM dan bisnis mesti beres dalam dua ini. Kalau akuisisi dan merger itu nanti tergantung peluangnya, itu bisa tidak terjadi atau bisa terjadi sesudah ini beres. Tapi kalau kami lihat ada peluang harus dilakukan tahun depan, ya bisa saja terjadi tahun depan,” tuturnya.

Editor: Nancy Junita

Berita Terkini Lainnya