Agresif Pacu Jaringan, Indosat Ooredoo Estimasi Belanja Modal US$2 Miliar

Oleh: Ropesta Sitorus 22 Oktober 2018 | 20:45 WIB
Agresif Pacu Jaringan, Indosat Ooredoo Estimasi Belanja Modal US$2 Miliar
Komisaris Utama PT Indosat Ooredoo Tbk Waleed Mohamed Ebrahim Alsayed (tengah) berpegangan tangan dengan pejabat baru Direktur Utama Chris Kanter (kanan), dan pejabat lama Direktur Utama Joy Wahjudi, usai RUPSLB, di Jakarta, Rabu (17/10/2018)./JIBI-Dedi Gunawan

Bisnis.com, MEDAN - Direktur Utama PT Indosat Ooredoo Tbk. (ISAT) Chris Kanter menyatakan sudah menyiapkan rencana pengembangan bisnis untuk menghadapi kompetisi, dinamika pasar dan tren teknologi.

Chris, yang dalam 8 tahun sebelumnya merupakan komisaris Indosat Ooredo, baru ditunjuk sebagai CEO lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (17/10) pekan lalu.

Salah satu fokus strategi yang dilakukan yakni perseroan akan meningkatkan jaringan secara lebih masif dan ekspansif. Chris mengungkapkan perseroan akan menggelontorkan belanja modal yang cukup besar untuk memperluas jaringan

“Kenyataannya ekspansi dalam beberapa tahun terakhir terlalu pelan, antara lain karena cara membuat prioritas ekspansi yang kurang tepat. Makanya kami akan fokus pada dua hal yakni 4G overlay dan penambahan jaringan, tahun depan pengembangan tower minimal 4.000-an dan tahun berikutnya 5.000-an,” ujarnya di Medan, Senin (22/10/2018).  

Chris memperkirakan pengembangan jaringan tersebut akan menelan biaya belanja modal paling sedikit US$2 miliar.

“Ini pekerjaan besar dan butuh capex yang besar, kami sudah ready dengan US$2 miliar, tapi angkanya masih perlu dihitung lagi,” paparnya.

Selain aspek bisnis, Chris mengungkapkan strategi manajemen baru juga akan difokuskan dalam transformasi pada dua aspek lainnya yakni sumber daya manusia dan proses.

Penguatan sumber daya manusia dilakukan dengan menyiapkan tenaga kerja lokal andal yang punya tingkat keahlian yang sama dengan tenaga kerja asing.

Di sisi proses kerja, perseroan juga menyewa konsultan internasional dengan biaya puluhan juta Dolar demi mendukung transformasi menyeluruh baik dari sisi budaya kerja, SDM, teknologi hingga pengelolaan biaya operasional.

Lebih lanjut, dia juga menyebutkan peningkatakan pelayanan merupakan hal yang tak kalah penting dan masih perlu ditingkatkan guna mewujudkan target perseroan menjadi perusahaan telekomunikasi digital terbesar kedua secara nasional yang mendukung akses dan konektivitas bagi setiap orang dan bisnis.

Chris tak menampik adanya keluhan pelanggan akibat layanan yang lambat dan rumitnya proses registrasi sehingga membuat pelanggan merasa dirugikan.

“Itu akan diperbaiki juga supaya tidak ada lagi yang dirugikan, sekarang zamannya teknologi segala sesuatu berbasis daya dan kecepatan dan kemudahan. Jadi tidak bisa dibikin complicated, kalau bisa langsung nyambung paketnya agar jangan ada lagi pulsa yang hilang. Semua itu akan kami perhatikan,” katanya.

Sebagai informasi, hingga akhir semester I/2018, ISAT memiliki 75,3 juta pelanggan dan mencatatkan peningkatan traffic data sebesar 79,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya