Badan Otorita Danau Toba Tunggu Realisasi Investasi

Oleh: Ropesta Sitorus 18 Oktober 2018 | 20:10 WIB
Badan Otorita Danau Toba Tunggu Realisasi Investasi
Warga berada di dalam kapal motor saat akan bersandar di Pelabuhan Tigaras untuk membeli bahan kebutuhan, di Simalungun, Sumatra Utara, Rabu (20/6/2018). Kapal motor yang mampu mengangkut sekitar 40 orang penumpang tersebut merupakan salah satu alat transportasi warga dan wisatawan antar pulau di Danau Toba./ANTARA-Irsan Mulyadinz

Bisnis.com, MEDAN – Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo  berharap komitmen investasi Rp6,1 triliiun yang disepakati di sela-sela perhelatan IMF-WB dapat mulai direalisasikan pada akhir semester II/2018.

Nilai tersebut merupakan akumulasi investasi yang digunakan untuk membangun fasilitas akomodasi berupa hotel bintang 4 dan 5 di atas lahan yang dikelola BPODT di kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir.

Adapun skema investasinya berupa perjanjian sewa menyewa dengan hak guna bangunan untuk jangka panjang atau sekitar 30 tahun.

“Perjanjian ini melahirkan kewajiban di kedua pihak. Di sisi kami harus lebih serius menyusun detail planning dan feasibility study, serta menyiapkan infrastruktur seperti listrik, air dan internet. Di sisi investor dalam 6-8 bulan ini sudah harus bicara dengan hotel operator dan siapkan pendanaan sehingga target kami akhir semester II/2018 sudah ada hotel yang ground breaking,” paparnya saat ditemui di kantornya, Kamis (18/10/2018)

Dia memperkirakan lahan yang terokupansi dengan perjanjian investasi tersebut sekitar 75 hektar dengan proyeksi jumlah kamar baru sekitar 1.000 – 1.500.

Arie menuturkan pada dasarnya kebutuhan pengembangan amenitas di Danau Toba masih besar mengingat target jumlah wisman yang dibidik mencapai 1 juta.

Dari sisi supply, total luas lahan milik negara yang dikelola BPODT juga cukup luas yakni 600 hektar dengan luas lahan yang sudah clean and clear tahap I 386,7 hektar.

“Danau Toba perlu lebih banyak akomodasi karena selama jumlahnya hanya sedikit dan kita pernah kekurangan penginapan terutama saat peak season. Kamar eksisting sekitar 3.000 kamar hotel dan 5.000 kamar nonhotel, sebagian besar hanya menumpuk di Parapat dan Samosir.”

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya