Pertamina MOR I Sebut Kenaikan Harga BBM Belum Picu Peralihan Konsumsi

Oleh: Ropesta Sitorus 16 Oktober 2018 | 19:05 WIB
Pertamina MOR I Sebut Kenaikan Harga BBM Belum Picu Peralihan Konsumsi
Pengendara mengisi bahan bakar di SPBU/JIBI-Dwi Prasetya

Bisnis.com, MEDAN – PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) I menyatakan penyesuaian harga bahan bakar minyak khususnya yang nonsubsidi belum berdampak signifikan terhadap peralihan konsumsi produk.

Seperti diketahui, mulai awal Oktober beberapa produk bahan bakar minyak nonsubsidi seperti pertamax, pertamax turbo, dexlite, pertamina dex mengalami kenaikan harga. Sedangkan produk nonsubsidi Pertalite tidak mengalami penyesuaian harga.

Menurut General Manager Pertamina MOR I Joko Pitoyo besarnya dampak perubahan harga tersebut terhadap peralihan pengguna ke produk yang lebih murah seperti Pertalite dan Premium akan dapat terungkap pada akhir bulan.

“Tapi dari laporan harian sejauh ini sepertinya [tingkat peralihannya] hanya sedikit. Komposisinya tidak berubah antara pengguna nonsubsidi maupun subsidi untuk produk gasoline. Akhir bulan lalu porsi gasoline untuk nonsubsidi sekitar 58% dan subsidi 42%,” katanya di sela-sela kegiatan Silaturahmi Bersama Media di Medan, Selasa (16/10/2018).

Dia menekankan, persentase penyaluran BBM jenis premium - yang termasuk dalam kategori jenis bahan bakar tertentu (JPBT) yang bersifat penugasan – masih berkisar 42%, tidak mengalami perubahan dari akhir kuartal II/2018.

Sebagai gambaran, pada akhir kuartal I/2018, perbandingan penyaluran gasoline nonsubsidi dan subsidi sebesar 70% : 30%, kemudian pada akhir Juni lalu persentasenya berubah menjadi 58% : 42%. Adapun sejak akhir Juni hingga akhir September, komposisinya masih belum mengalami perubahan yang berarti.

“Kalaupun ada peralihan ke produk yang harganya lebih murah karena ada kenaikan harga produk Pertamax series dan Dex series, itu dilakukan oleh konsumen yang sensitif terhadap harga. Tapi harapan kami konsumen sudah lebih memperhatikan kualitas dan tidak mudah beralih ke produk yang kualitasnya lebih rendah,” ujarnya.

Joko mengungkapkan komposisi konsumsi BBM khusus Sumut masih didominasi oleh gasoline khususnya jenis Pertalite dengan porsi 40% dengan rata-rata konsumsi 3.100 – 3.400 KL per hari. Selanjutnya untuk Premium yang porsi awalnya 30% - kini menjadi 42% dengan rata-rata 1.200 KL per hari.

Lebih lanjut, untuk konsumsi harian gasoline jenis Pertamax di Sumut belum begitu besar yakni mencapai 400 KL per hari, sedangkan Pertamax Turbo stagnan di angka 30 KL per hari.

Adapun untuk kategori gasoil, permintaan tertinggi terjadi pada jenis Solar yang disubsidi pemerintah, yakni sebesar 2.500 KL per hari. Konsumsi untuk gasoil lainnya yakni Dexlite dan Pertamina Dex, masing-masing mencapai 110 KL per hari dan 10 KL per hari.

Secara keseluruhan, kata Joko, Sumut menempati peringkat teratas dalam konsumsi gasoline, dengan persentase sebesar 50% dari jumlah total yang disalurkan Pertamina MOR I. Sementara itu, 50% lainnya terserap di empat provinsi lain yakni Aceh, Sumbar, Riau, dan Kepulauan Riau.

“Alhamdullilah masyarakat Sumut orientasinya sudah pada produk berkualitas tinggi. Mereka lebih banyak gunakan Pertalite meskipun di awal triwulan II ada kenaikan harga,” katanya.

Kendati begitu, dia tak menampik belakangan ini terjadi antrian yang lebih panjang di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum untuk pembelian premium dan pertalite karena sejumlah konsumen beralih ke produk yang lebih murah.

Namun, dia memastikan perseroan telah melakukan antisipasi kenaikan permintaan yang berujung pada kelangkaan BBM.

“Kami telah menyiapkan stok sejak satu hingga dua bulan [sebelum penyesuaian harga]. Jadi supply BBM sudah sesuai dengan program sehingga kalaupun ada SPBU yang mengalami kekosongan salah satu produk, itu bisa diantisipasi,” ujarnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya