BANK PEMBANGUNAN DAERAH : Beban Bertambah, Bunga Kredit Naik

Oleh: Muhammad Khadafi 11 Oktober 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA – Sejumlah bank pembangunan daerah mulai menaikkan suku bunga dasar kredit guna mengimbangi kenaikan beban pada penghimpunan dana pihak ketiga. Hampir seluruh segmen kredit tercatat mengalami kenaikan bunga per September 2018.

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (Bank Jatim) misalnya, yang menaikan suku bunga dasar kredit (SBDK) kredit korporasi, ritel, mikro, dan non kredit pemilikan rumah (KPR).

Bahkan, hingga akhir tahun, perseroan masih memiliki rencana untuk melakukan penyesuaian bunga kredit terkait dengan tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. “[Naik atau turun] masih kami kaji dengan komisi di internal,” Direktur Keuangan Bank Jatim Ferdian Timur kepada Bisnis, Rabu (10/10).

Seperti diketahui, saat ini suku bunga acuan Bank Indonesia terus merangkak naik. Kondisi eksternal memaksa bank sentral menaikan BI 7-DRR sebanyak 125 basis poin dari 4,25% menjadi 5,5%.

Ferdian melanjutkan, kenaikan SBDK Bank Jatim cenderung kecil atau hanya berkisar 2 basis poin (bps) sampai dengan 25 bps. Kredit mikro mengalami kenaikan paling tinggi, sedangkan korporasi paling sedikit.

Bank Jatim melakukan penyesuaian SBDK berdasarkan perhitungan beban dana (cost of fund/COF), biaya operasional (overhead cost/OHC), dan margin bunga.

Perseroan tidak agresif menaikkan SBDK karena memiliki beban dana yang terbilang kecil. Sekitar 65% dana pihak ketiga (DPK) perseroan ditopang oleh dana murah. “COF per Agustus 2018 sebesar 3,25%,” kata Ferdian.

Tidak semua produk pendanaan Bank Jatim naik. Perseroan menurunkan SBDK pada KPR per September 2018 sebesar 5 bps. Alasannya, OHC pendanaan sektor itu turun, bukan karena pelemahan permintaan nasabah.

“Target pertumbuhan KPR tahun ini 12% yoy. Per Agustus 2018 pertumbuhan sudah melebihi, 12,3% [yoy],” kata Ferdian.

Dia pun optimistis kenaikan SBDK sejumlah produk pendanaan tidak akan banyak mengganggu permintaan kredit kuartal terakhir tahun ini. Akan tetapi, perseroan telah merevisi target pertumbuhan kredit.

Pada awalnya Bank Jatim membidik kredit naik 10,65% tahun ini. Setelah melihat kondisi pasar perseroan pun merevisi menjadi 8%.

Berdasarkan catatan Bisnis, selain Bank Jatim, PT Bank Sulselbar dan PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat (Bank Kalbar) juga telah melakukan penyesuaian SBDK. Bank Kalbar tercatat menaikan SBDK paling tinggi, atau 59 bps hingga 115 bps. Sementara itu, SBDK Bank Sulselbar naik 36 bps sampai dengan 50 bps.

//PENDAPATAN TERGERUS//

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede mengatakan semua bank, termasuk bank pembangunan daerah (BPD) pada akhirnya harus menyesuaikan SBDK. Tren kenaikan suku bunga acuan akan menggerus pendapatan bunga apabila tidak ada penyesuaian.

Namun, BPD dalam hal itu memilik tantantangan lain. Bank daerah perlu memerhitungkan permintaan penyaluran kredit di masing-masing wilayahnya.

“Konsekuensinya memang permintaan berpotensi melambat, tapi mungkin ini akan sangat bervariasi di setiap daerah,” katanya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran pendanaan oleh BPD kepada pihak ketiga pada kuartal III/2018 mulai melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Per Juli 2018, penyaluran kredit bank daerah naik 8,2% secara tahunan menjadi Rp403,5 triliun.

Padahal sejak awal tahun pertumbuhan kredit yang disalurkan BPD bergerak agresif. Sepanjang Januari—Mei 2018, posisi pertumbuhan tahunan setiap bulan selalu di atas 9%.

Kendati demikian, Josua menilai dampak kenaikan SBDK tidak akan berpengaruh terlampau besar. Proyek-proyek pemerintah daerah akan memberikan stimulus positif bagi bank daerah.

Josua mengamini, sejauh ini peran BPD di luar Jawa, dalam menyalurkan kredit belum maksimal. Permintaan kredit perbankan masih didominasi oleh debitur dari Jawa. Dengan demikian, penyesuaian SBDK akan berdampak pada permintaan kredit di seputar Jawa.

Mengutip data OJK per Juli 2018, Jawa berkontribusi sebesar 74,6% dari total kredit yang disalurkan bank kepada pihak ketiga.

Sumatra menjadi wilayah penyaluran pendanaan kedua terbesar dengan total 11,7%. Pada periode yang sama daerah lain di timur Indonesia hanya memberikan sumbangsih kurang dari 5%.

Capaian tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi 4 tahun lalu. Pertumbuhan kredit di luar Jawa sempat berakselerasi lebih kencang sepanjang 2015—2017. Akan tetapi, sepanjang semester I/2018, pertumbuhan kredit mulai melambat.

Pada 2015—2017, secara akumulasi, kredit di Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nusa Tenggara Barat (NTB) tumbuh dua digit, bahkan sempat menyentuh 24,5%. Per Juli 2018, kredit di wilayah tersebut naik kurang dari 10%.

Editor: Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkini Lainnya