Industri di Batam Antisipasi Terus Melemahnya Rupiah

Oleh: Sarma Haratua Siregar 05 September 2018 | 17:50 WIB
Industri di Batam Antisipasi Terus Melemahnya Rupiah
Pemandangan satu sudut Kota Batam/Reuters-Edgar Su

Bisnis.com, BATAM – Industri di Batam telah melakukan sejumlah langkah antisipatif terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.

Kendati terkena imbas negatif, namun dampak yang dihadapi industri di Batam tak terlalu besar. “Para pengusaha sudah melakukan langkah-langkah antisipatif sebelum ini.

Makanya walaupun terkena dampak, namun dampaknya kurang,” ujar Ketua Kadin Batam Jadi Rajagukguk.

Menurut Jadi, fundamental ekonomi Kepri, khususnya Batam cukup kokoh untuk menghadapi pelemahan nilai tukar Rupiah. Hampir semua indikator ekonomi Makro menunjukan tren positif, sehingga aktifitas ekonomi masih berjalan dengan baik. Industri di Batam telah berkali-kali menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Dengan pengalaman-pengalaman yang ada, industri telah mempersiapkan langkah antisipasi agar tetap berproduksi. Pengaruh nila tukar Rupiah terhadap dolar AS di Batam cukup tinggi.

Pasalnya pengusaha di Batam mengunakan lebih satu mata uang (multi currency) sebagai acuan transaksinya. Selain Rupiah, Dollar Singapura dan Dolar Amerika merupakan acuan tansaksi di Batam.

Kondisi ini menuntut pelaku indutri dan pengusaha di Batam kreatif memilik strategi dalam rangka efektifitas agar usahanya tetap berjalan. Penghematan ongkos produksi menjadi salah satu cara yang ditempuh, agar produk tetap kompetitif.

“Dengan bahan baku yang lebih efisien, tapi mamp menghasilkan produk yang tetap kompetitif,” ujar Jadi. Kadin Batam masih optimis langkah yang diambil oleh pemerintah dalam mengendalikan nilai tukar akan membuahkan hasil.

Dia juga mendorong peran dari dunia usaha untuk membantu program pemerintah dalam mengendalikan nilai tukar, dan memperkokoh fundamental ekonomi dalam negeri. “Kami akan berikan masukan-masukan kepada pemerintah, agar kinerja ekonomi di kawasan FTZ bisa mendongkrak stabilitas ekonomi dalam negeri. Termasuk mengenai upaya memperkecil Current Acount Defisit (CAD),” jelas Jadi.

Sementara itu Kepala perwakilan Bank Indonesia di Kepri Gusti Raizal Eka Putra menuturkan, hingga periode triwulan II-2018, ekonomi Kepri masih relatif cukup baik dengan pertumbuhan 4,51% (yoy) dan inflasi masih terkenedali dalam kisaran target 3,5+/-1% yaitu pada Agustus sebesar 3,79% (yoy).

Pelemahan Rupiah saat ini akibat sentimen negatif dari luar negeri disebabkan krisis global yang melanda Argentina, Turki Dan Venezuela. Ditambah dengan kondisi current account yang mengalami defisit, meskipun indikator lain masih positif.

BI dalam hal ini akan serius mencermati perkembangan gejolak global dengan memperkuat kordinasi dengan pemerintah dan OJK. BI tetap terus menjaga gejolak pasar valas dengan melakukan intervensi yang terukur, membeli SBN dari pasar sekunder dan membuka FX Swap untuk mendorong capital inflow.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya