Pertama di Asia, Listrik Biomasa Bakal Diresmikan di Mentawai

Oleh: Heri Faisal 05 September 2018 | 01:11 WIB
Pertama di Asia, Listrik Biomasa Bakal Diresmikan di Mentawai
Listrik biomassa/Istimewa

Bisnis.com, TUAPEJAT— Pemerintah bakal meresmikan tiga unit pembangkit listrik tenaga biomasa (PLTBM) berkapasitas total 700 kw di Tuapejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai pada Rabu (5/8/2018).

Hari Kristijo, PPK Satker MCC Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan pembangunan pembangkit listrik itu merupakan hibah dari MCC, Amerika Serikat yang digunakan untuk program pengembangan listrik di daerah terluar.

“Programnya sudah selesai, dan segera kami serahkan ke pemda [Kabupaten Kepulauan Mentawai]. Nanti pemda yang akan operasikan lewat perusda untuk dijual ke PLN,” ujarnya, Selasa (4/9/2018).

Dia mengatakan pembangunan pembangkit listrik tenaga biomasa itu sebagai upaya mempercepat program Mentawai terang sekaligus terpenuhinya elektrifikasi 100% di daerah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia itu.

Menurutnya, kehadiran pembangkit itu akan memenuhi kebutuhan daya di Mentawai, sehingga bakal mempercepat setiap desa menggunakan listrik.

Hari mengklaim, PLTBM adalah pembangkit ramah lingkungan, karena sumber bahan baku yang digunakan adalah bambu, sehingga dinilai memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat dan berkelanjutan.

Selain ramah lingkungan, sumber bahan baku bambu juga bakal memberikan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat, karena akan ditanam sendiri oleh masyarakat untuk dijual ke perusahaan pengelola PLTBM.

Dalam prosesnya, bambu dipotong kecil – kecil dan dibakar, kemudian gas hasil pembakaran itu dikelola menjadi sumber energi listrik. Sisa pembakaran bambu berupa arang juga bisa dijual kembali dan dijadikan pupuk.

Dia menuturkan pembangkit listrik biomasa di Mentawai merupakan yang pertama di Tanah Air, bahkan diyakini juga di seluruh Asia.

“PLTBM ini yang pertama di Indonesia, bahkan di Asia. Ini memang inovasi baru yang ramah lingkungan, karena sumber dayanya juga banyak sekali di Mentawai,” ujarnya.

Adapun, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyebutkan eletrifikasi di Mentawai baru menyentuh 46% dan menargetkan secara total terpenuhi 100% hingga pelosok Mentawai pada 2021.

Manager Perencanaan PLN Wilayah Sumbar Agus Prasetyo menyebutkan minimnya infrastruktur jalan raya dan transportasi antar pulau menyebabkan percepatan pembangunan listrik Mentawai menjadi terhambat.

“Persoalan kami di infrastruktur, kalau sudah terpenuhi itu kami bisa mengikuti. Makanya target kami 2021, sudah terpenuhi 100% hingga pelosok – pelosok,” katanya.

Menurutnya, kebutuhan listrik untuk warga Mentawai hanya sekitar 6.000 kw, dan kapasitas daya yang ada sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan lsitrik daerah itu. Tinggal, imbuhnya, di pembangunan jaringan listrik ke dusun – dusun mengikuti pembangunan infrastruktur.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya