Cabai Hingga Cat Tembok Sumbang Inflasi di Medan

Oleh: Ropesta Sitorus 04 September 2018 | 15:15 WIB
Cabai Hingga Cat Tembok Sumbang Inflasi di Medan
Ilustrasi/Bisnis.com

Bisnis.com, MEDAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara mencatat pada Agustus 2018 terjadi inflasi 0,00%, berlawanan arah dengan perkembangan ekonomi nasional yang mengalami deflasi 0,05%.  

Adapun secara year on year tingkat inflasi di Sumut sebesar 2,57% sedangkan secara tahunan kalender (Januari – Agustus) sebesar 0,21%, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi tahun kalender nasional sebesar 2,13% dan inflasi year on year 3,2%.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sumut Bismark Saor Pardamean Sitinjak menjelaskan dari tujuh kelompok pengeluaran yang ada, ada tiga kelompok yang mengalami deflasi yakni sandang; kesehatan; serta transportasi, komunikasi dan jasa keuangan masing-masing 1,13%, 0,02% dan 0,36%.

Adapun empat sektor yang mengalami inflasi yakni bahan makanan; makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; serta pendidikan, rekreasi dan olahraga.

“Dilihat dari andilnya, penyumbang inflasi yakni bahan makanan; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau ; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar,” katanya di Medan, Senin (3/9/2018).

Adapun, di Medan yang mengalami inflasi sebesar 0,01% atau terjadi peningkatan indeks dari 137,14 pada Juli 2018 menjadi 137,15 pada Agustus 2018 juga dipicu oleh naiknya indeks lima kelompok pengeluaran.

Kelimanya yakni bahan makanan sebesar 0,20%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,29%, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,31%, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,01%. Sementara itu kelompok yang mengalami penurunan indeks yakni sandang sebesar 1,30%, kesehatan 0,05%, serta transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,44%.

“Komoditas utama penyumbang inflasi di Medan selama bulan Agustus 2018 antara lain cabai merah, cabai rawit, beras, roti manis, dencis, daun singkong dan cat tembok,” ungkap Bismark.

Sebagai perbandingan antarkota, dari empat kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumut, hanya satu kota yang mengalami deflasi pada Agustus yakni Sibolga sebesar 0,37%. Tiga kota lainnya yang mengalami inflasi yakni Pematangsiantar sebesar 0,07%, Medan sebesar 0,01%, dan Padangsidempuan 0,01%.

Secara kumulatif (Agustus 2018 terhadap Desember 2018) Sibolga mengalami inflasi 1,38%, Pematangsiantar inflasi 1,20%, Medan deflasi 0,01%, dan Padangsidempuan inflasi sebesar 1,15%.

Secara regional, dari 23 kota IHK di Pulau Sumatra, sebanyak 13 kota mengalami inflasi. Inflasi yang tertinggi di Banda Aceh dan Tanjung Pandan yakni sebesar 0,50%, masing-masing dengan IHK 127,56 dan 143,46. Sementara itu, yang terendah terjadi di Medan dan Padangsidempuan sebesar 0,01% dengan IHK masing-masing 137,15 dan 131,65.

PERLU DIEVALUASI 

Sementara itu, Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut Gunawan Benjamin menilai perkembangan ekonomi di Medan seharusnya sudah mencatatkan deflasi. Hal itu dikatakannya dengan mengacu pada harga sejumlah bahan pangan yang terpantau telah turun pada Juli lalu.  

“Saya menilai seharusnya sejumlah kota termasuk Medan itu mengalami deflasi, karena berdasarkan pantauan harga kebutuhan pokok masyarakat, banyak komoditas utama yang mengalami penurunan,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (3/9/2018).

Dia mengatakan, hasil pemantauan sehari-hari di lapangan menunjukkan harga cabai rawit dan sayur-sayuran memang masih mengalami kenaikan.

Namun, untuk cabai merah yang menurut BPS mengalami kenaikan harga justru terpantau mulai turun.

“Mungkin teknik pengambilan sampel harga atau sudut pandang BPS yang tidak sepenuhnya kita pahami, tapi memang beberapa wilayah yang disebut mengalami inflasi, perlu dievaluasi. Seperti untuk cabai merah, BPS Sumut tidak menjelaskan kapan diambil sampel dan berapa harganya.” 

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya