15 Helikopter Jinakkan Kebakaran Hutan di Sumsel

Oleh: Dinda Wulandari 29 Agustus 2018 | 16:45 WIB
15 Helikopter Jinakkan Kebakaran Hutan di Sumsel
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kedua kiri) meninjau lokasi kebakaran lahan di Desa Pulo Keronggan, Kec Pedamaran Timur, Ogan Komering Ilir, Sumsel, Minggu (6/9). Presiden meminta Kapolri untuk menindak tegas pelaku dan perusahaan yang membakar lahan dengan sengaja./Antara

Bisnis.com, PALEMBANG – Sebanyak 15 helikopter  telah diterjunkan ke Sumatra Selatan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang mulai marak terjadi di daerah itu.

Ansori , Ketua Posko Media Satuan Tugas Kebakaran Lahan dan Hutan (Karhutla) Badan  Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, mengatakan 15 helikopter itu merupakan pinjaman dari BNPB sebanyak 11 unit, 3 unit dari APP Sinarmas serta 1 unit Kementerian Lingkungan Hidup dan  Kehutanan (KLHK).

"Semuanya standby di Lanud Palembang, dan beroperasi sesuai dengan arahan dari Satgas Karhutla. Saat ini fokus kita di OKI, OI, Muba dan Muara Enim," katanya, Rabu (29/8/2018).

Ansori mengatakan 15 helikopter itu memiliki fungsi berbeda-beda, ada yang digunakan untuk pemadaman (water bombing), ada pula yang dioperasikan untuk patroli udara.

Dia mengemukakan sarana untuk pemadaman disiapkan karena titik panas sudah banyak terdeteksi di Sumsel.

Berdasarkan catatan pihaknya, sepanjang Agustus 2018 sudah ada 240 titik panas yang banyak tersebar di Kabupaten Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir dan Muara Enim.

Selain dari waterbombing, pihaknya juga terbantu upaya memadamkan karhutla dengan teknik modifikasi cuaca.

"Terlihat beberapa hari ini sudah turun hujan. Setidaknya membantu memadamkan api, namun memang dari pantauan kita masih terjadi kebakaran lahan," ujarnya.

Sutrisno, Kepala Bidang Pelayanan Teknologi, Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca, BPPT mengatakan, kegiatan ini merupakan kelanjutan pelaksanaan TMC periode pertama tanggal 16 Mei sd 10 Juni 2018.

Pada periode kedua yang dimulai sejak tanggal 30 Juli pelaksanaan TMC didukung oleh 2 unit pesawat Casa 212-200 masing-masing dari 1 unit dari TNI Angkatan Udara dan 1 unit dari PT Pelita Air Service (PT PAS).

"Kegiatan TMC periode pertama ( tanggal 16 Mei – 9 Juni 2018 ) telah dilakukan 32 sorti penerbangan, 32 ton bahan semai, dan dengan hasil air 270 juta m3. Selama kegiatan periode pertama hampir setiap hari terjadi hujan dengan intensitas bervariasi dari hujan ringan hingga lebat," jelasnya.

Dia menjelaskan, adanya hujan maka partikel asap dan polutan lain menjadi bersih karena tersapu saat hujan jatuh. Kemudian hujan yang jatuh kalau mengenai hotspot, maka hotspot tersebut akan mati.

"Kalaupun hujan tersebut tidak mengenai hotspot, hujan tersebut tetap bermanfaat untuk menjaga kelembaban lahan sehingga akan meredam munculnya hotspot baru," katanya.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya