Volume Penjualan CPO MGRO Mulai Tumbuh, Kerugian Juni 2018 Turun Jadi Rp18 Miliar

Oleh: Ropesta Sitorus 20 Agustus 2018 | 17:56 WIB
Volume Penjualan CPO MGRO Mulai Tumbuh, Kerugian Juni 2018 Turun Jadi Rp18 Miliar
Direktur Utama PT Mahkota Group Tbk. Usli Asri (ketiga kanan), Direktur PT Mahkota Group Tbk. Fuad Halimoen (kedua kanan), Direktur PT Mahkota Group Tbk. Usman Asri (paling kiri), Direktur PT Mahkota Group Tbk. Nagian Toni (paling kanan) dan jajaran direksi lainnya berfoto bersama usai due diligence di JW Marriott Hotel, Medan, Rabu (4/7)./Bisnis-Ropesta Sitorus

Bisnis.com, MEDAN – PT Mahkota Group Tbk. (MGRO), emiten kelapa sawit asal Sumatra Utara mencatatkan peningkatan kinerja yang positif sepanjang semester I/2018. Kendati belum membukukan laba bersih, perseroan mulai mampu menekan kerugian seiring dengan naiknya pendapatan.

Dalam laporan yang dilansir PT Panin Sekuritas Tbk, total pendapatan MGRO sepanjang Januari – Juni 2018 tumbuh 10,8% secara year on year (yoy) menjadi Rp837 miliar. Mayoritas atau sebesar 74,5% dari pendapatan MGRO ditopang oleh penjualan CPO (crude palm oil), dan sisanya dari penjualan PK (palm kernel), jasa sewa tangki timbun, penjualan cangkan serta dari produk turunan lainnya.

Adapun total kerugian bersih sebesar Rp18 miliar, membaik dibandingkan semester I/2017 yang juga mengalami kerugian sebesar Rp25 miliar.

Laba kotor meningkat 6% (yoy), meski marjin laba kotor masih mengalami tekanan di level 6,4% yang disebabkan oleh meningkatnya pembelian bahan baku sebesar 14,9% (yoy).

Sementara itu, perseroan juga mampu menekan beban administrasi dan umum sebesar 1,1% (yoy) yang berdampak pada tumbuhnya laba operasi sebesar 33,9% (yoy) menjadi Rp7 miliar.

Perbaikan kinerja perusahaan pada paruh pertama tahun 2018 tersebut didukung oleh peningkatan volume penjualan CPO sebesar 23,1% secara tahunan dan membantu meng-offset penurunan harga jual rata-rata CPO sebesar 8% (yoy).

“Kami memprediksi peningkatan produksi CPO pada semester II/2018 akibat faktor seasonality dan harga CPO yang stabil didorong oleh katalis positif dari kebijakan pemerintah Indonesia untuk memperluas penggunaan biodesel (B20) ke sektor non-PSO,” demikian dilaporkan Panin Sekuritas seperti dikutip Bisnis, Minggu (19/8/2018).

Perusahaan sekuritas tersebut juga memperkirakan laba MGRO akan kembali tererek pada paruh kedua tahun 2018 sejalan dengan potensi kenaikan volume penjualan dan lebih stabilnya harga CPO nasional.

“Kami mengestimasi pendapatan perseroan pada 2018 akan tumbuh 11% (yoy) menjadi Rp1,96 triliun dan laba bersih berpotensi tumbuh 223% (yoy) ke level Rp40 miliar didorong membaiknya marjin akibat cost efficiency.”

Selain merekomendasikan pembelian saham di MGRO dengan target harga Rp450, perusahaan sekuritas tersebut juga mengingatkan investor untuk mewaspadai risiko gangguan produksi CPO akibat cuaca buruk dan volatilitas harga global CPO.

MGRO yang pada Juli 2018 resmi melantai di Bursa Efek Indonesia juga menyatakan akan semakin ekspansif dalam industri kelapa sawit, mulai dari hulu sampai ke hilir.

Suntikan dana dari hasil penawaran saham perdana tersebut akan digunakan untuk lebih memacu bisnis pada industri hilir. “Sebanyak 60% dana dari hasil IPO akan digunakan untuk membangun beberapa pabrik seperti refinery (untuk produk minyak goreng dan turunan lainnya) dan Kernel Crushing Plant (pabrik inti kelapa sawit) lewat anak usaha,” kata Direktur Utama Mahkota Group Usli Asri.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya