RASTER : Kerja Sama Digencarkan tapi Tak Semua Dieksekusi

Oleh: Sarma Haratua 13 Agustus 2018 | 02:00 WIB
RASTER : Kerja Sama Digencarkan tapi Tak Semua Dieksekusi
Dirut Bright PLN Batam Dadan Kurniadipura/Bisnis-Istimewa

Sejumlah kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri di luar Kepri berniat menggandeng Bright PLN Batam untuk bekerja sama dalam hal pembangunan pembangkit dan penyediaan tenaga listrik.

Salah satu di antara kerja sama itu adalah dengan KEK Mandalika. PT PLN (Persero) hendak segera menugaskan Bright PLN Batam untuk membangun pembangkit dan mengelola kelistrikan di KEK Mandalika, Lombok. Saat ini, Bright PLN Batam masih mencoba menegosiasikan pola kerja sama.

“Kami sedang bernegosiasi dengan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) sebagai pengelola KEK Mandalika,” ujar Direktur utama Bright PLN Batam, Dadan Kurniadipura.

Menurut catatan Bisnis, KEK Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, diprediksi membutuhkan listrik sebesar 65 MW pada 2025 dan terus meningkat hingga 111 MW pada 2030.

Kendati PT PLN (Persero) sudah punya kalkulasi, Bright PLN Batam masih harus terus mendalami angka pasti dari kebutuhan listrik di KEK Mandalika. Menurut Dadan, perhitungan harus dilakukan dengan hati-hati, agar tidak terjadi over investment.

“Kami tak boleh salah prediksi dan berakhir tidak ekonomis. Kami bersedia sediakan pembangkit, tetapi jangan sampai idle terlalu lama,” paparnya.

Selain Mandalika, sejumlah KEK lainnya juga tertarik menjalin kerja sama dengan Bright PLN Batam. Beberapa di antarnya seperti KEK Tanjung Api-Api di Palembang dan KEK Bitung di Manado. Namun, perseroan tak bisa memenuhi semua permintaan, karena harus mempertimbangkan beberapa hal.

“Tak semua kerja sama kami ambil, terutama mempertimbangkan jarak yang tidak terlalu jauh. Dengan jarak yang jauh, mobilitas dan kontrol menjadi lebih sulit dan memakan biaya,” jelasnya.

Pengelola kawasan Industri Cikarang dan Purwakarta juga khusus mendatangi Bright PLN Batam untuk membicarakan kemungkinan kerja sama pembangunan pembangkit dan pengelolaan listrik. Kunjungan kedua kawasan industri tersebut ke perseroan dilakukan pada pertengahan Juli 2018.

Kawasan Industri Purwakarta membutuhkan pembangkit berkapasitas 150 MW. Adapun, Kawasan Industri Cikarang mengajukan kerja sama pembangunan pembangkit berkapasitas 50 MW dan akan terus ditingkatkan hingga 100 MW.

Bright PLN Batam telah menyanggupi permintaan tersebut. Saat ini, ujarnya, sudah ada pembahasan serius antara perseroan dan pengelola Industri Purwakarta serta Cikarang terkait dengan permintaan itu.

Bright PLN Batam juga akan ditugaskan untuk mengelola operasi dan perawatan pembangkit milik PT PLN (Persero) di Sumatra, khususnya pembangkit berkapasitas di bawah 100 MW. Pengalihan operasi dan perawatan ini akan mulai dilakukan bertahap mulai 2019.

“Adapun, pembangkit yang kapasitasnya di atas 100 MW akan diserahkan kepada PT Indonesia Power (IP) dan PT Pembangkitan Jawa Bali (PT PJB),” ujarnya. (k31)

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya