Efek Asian Games : UMKM Palembang Merasa Cuma jadi Penonton

Oleh: Dinda Wulandari 02 Agustus 2018 | 11:40 WIB
Efek Asian Games : UMKM Palembang Merasa Cuma jadi Penonton
Jakabaring Sport City di Palembang, Sumatra Selatan/Antara-Nova Wahyudi

Bisnis.com, PALEMBANG – Perhelatan Asian Games 2018 tinggal menghitung hari, berbagai persiapan sudah diklaim matang, mesin euforia pesta olahraga itu juga terus dinyalakan pemerintah dan panitia terutama di kota tuan rumah, yakni DKI Jakarta dan Palembang.

Sebanyak 16.000 atlet dan ofisial dari 45 negara bakal menuju kedua kota itu untuk berlaga selama 16 hari. Kedatangan ribuan tamu tersebut tentu menjadi peluang pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Harapannya tentu saja produk yang dijual bisa laris-manis diserbu wisatawan mancanegara.

Namun sayangnya, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Kota Palembang mengaku perhelatan Asian Games belum berdampak terhadap usaha yang mereka jalani.

Pasalnya, sebagian pelaku menilai panitia penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc) tidak melibatkan UMKM untuk penyediaan suvenir atau merchandise.

Gabungan Pengusaha Handycraft, Makanan dan Minuman (Gapehamm) Sumsel, misalnya menyebut tidak ada satu pun dari 250 anggota asosiasi UMKM dan IKM itu yang kebagian pesanan suvenir Asian Games.

Ketua Gapehamm Sumsel Komariah mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait keterlibatan UMKM untuk pesta olahraga terbesar di Asia itu.

“Tidak ada tawaran dari Inasgoc. Kami, pelaku UMKM di Palembang seolah jadi penonton saja padahal Palembang tuan rumah, kesannya yang dapat [pesanan suvenir] hanya [pelaku usaha] besar saja,” katanya saat dihubungi bisnis.com, Kamis (2/8/2018).

Dia mengatakan pihaknya sebetulnya ingin menjadi UMKM penyedia suvenir atau produknya mendapat branding Asian Games. Namun demikian, pemerintah daerah mengaku tidak bisa berbuat banyak karena yang mengatur Inasgoc.

“Kami ini hanya menunggu seharusnya pemerintah yang bergerak mencari peluang tersebut. Ini kalau kami pasang logo Asian Games tanpa izin panitia nanti disanksi,” katanya.

Oleh karena itu, kata Komariah, anggota Gapehham tidak ada yang memasang target peningkatan penjualan selama Asian Games berlangsung.

Dia mengatakan pelaku masih berspekulasi apakah produk yang dijual bakal lebih laris atau sama seperti kondisi normal.

“Penjualan tidak bisa diprediksi, gimana mau perbanyak stok, takut gak laku. Kami tidak berani,” katanya.

Memang, pemerintah daerah berupaya memberi ruang untuk pelaku UMKM menjual produk dengan menggelar sejumlah pameran saat Asian Games di beberapa titik. Seperti di Dekranasda Jakabaring, Taman Bawah Jembatan Ampera bahkan di mal.

Komariah mengaku pemda juga memberikan fasilitas berupa sewa stan gratis saat pameran untuk mendukung UMKM.

“Namun kondisinya seperti pameran biasa, tidak ada jaminan apakah peserta Asian Games pasti membeli produk kami. Panitia bilang hanya mengarahkan peserta ke pameran, itu saja,” katanya.

Sementara jika ingin berjualan di Jakabaring Sport City, kata Komariah, pelaku harus membayar sewa sehingga yang bisa berjualan hanya pelaku yang telah menyiapkan modal lebih.

Senada, Ketua Asosiasi UKM-IKM Nusantara Palembang, Ruda, mengatakan Inasgoc hanya memberikan penawaran sewa stan di beberapa venue yang ada di JSC.

“Harganya bervariasi seperti untuk craft sewa stan Rp5 juta sementara kuliner Rp30 juta. Tidak ada perjanjian pemesanan dari Inasgoc, sistemnya jual-beli biasa,” katanya.

Banjir di Hulu

Sementara Anggota Komunitas Wirausaha Muda Kampung (Kowum) Kain Tenun Tuan Kentang, Athoilah, mengatakan terjadi peningkatan pesanan kain selama 3—4 bulan terakhir.

“Sebetulnya kami tidak tambah pegawai tetapi pesanan cepat habis,belum selesai buat sudah ditunggu. Bisa dibilang pesanan meningkat dua kali lipat,” katanya.

Dia mengatakan pengrajin di sentra kain tenun Tuan Kentang mayoritas menjual kain setengah jadi atau bukan produk fesyen. Banjir pesanan datang dari produsen produk berbahan kain khas Palembang itu.

“Kebanyakan butik-butik yang ramai pesan mereka untuk stok persiapan Asian Games,” katanya.

Sebelumnya, Anggota DPD/MPR RI Abdul Aziz mengatakan ruang gerak pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk menangkap peluang usaha cinderamata Asian Games di kota itu menjadi terbatas karena regulasi dari panitia penyelenggara (INASGOC).

“Ekonomi kreatif tidak bergerak, seharusnya ada euforia Asian Games di tingkat UMKM namun  tidak ada karena kebijakan pusat, UMKM tidak bisa mencantumkan logo Asian Games diproduknya tanpa seizin INASGOC,” katanya saat kunjungan kerja komite III DPD RI di Palembang, Kamis (28/6/2018).

Dia menjelaskan kebijakan yang sentralistis itu membuat partisipasi masyarakat Sumsel menjadi rendah untuk memeriahkan Asian Games 2018.

“Jadi yang dapat dampaknya Cuma usaha pempek dan kain songket, sementara produk lain yang bisa jadi suvenir Asian Games tidak,” katanya.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sumsel, Akhmad Najib, mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Inasgoc terkait keterlibatan UMKM untuk suvenir Asian Games.

“Namun memang katanya harus ada persetujuan Inasgoc untuk dapat logo dan tulisan Asian Games,” katanya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya