Dinkes Aceh Temukan 143 Kasus Difteri, Ada Penolakan Vaksinasi

Oleh: Abdul Hadi Firsawan 26 Juli 2018 | 16:46 WIB
Dinkes Aceh Temukan 143 Kasus Difteri, Ada Penolakan Vaksinasi
Imunisasi DT/TT untuk memberikan kekebalan anak terhadap penyakit difteri dan tetanus./JIBI-Burhan Aris Nugraha

Bisnis.com, BANDA ACEH - Dinas Kesehatan Aceh menyebutkan, hingga 25 Juni 2018 sebanyak 143 orang di Provinsi Aceh terjangkit difteri, meski belum ada yang meninggal. Namun jumlah itu meningkat jauh dari sebelumnya di sepanjang 2017 hanya 113 orang yang terkena difteri.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh Abdul Fatah mengatakan meningkatnya jumlah orang yang terkena difteri karena masih banyak masyarakat Aceh yang belum imunisasi. Pada 2017, persentase imunisasi dasar lengkap bayi di Aceh baru 60%, sedangkan desa yang mencapai UCI (Universal Child Immunization) baru 65%.

"Di Aceh, udah kita kena difteri, cakupan imunisasi juga masih banyak daerah yang merah karena adanya penolakan. Alasan anak tidak lengap imunisasi itu beragam," ujar Abdul Fatah di Banda Aceh, Rabu (25/7/2018).

Beberapa alasan penolakan imunisasi karena ditemukan vaksin palsu di Jawa, isu halal-haram terhadap imunisasi, dan tidak percayanya masyarakat kepada petugas, selian itu ada juga orang tua yang tidak mengizinkan anaknya diimunisasi. Pada 2018, dari 143 anak yang terjangkit difteri, 60% diderita oleh anak di bawah 14 tahun.

Fatah mengatakan imunisasi penting dilakukan untuk memutuskan mata rantai virus campak, difteri, dan rubella di masyarakat. Virus rubella sendiri berbahaya bagi ibu hamil karena menyerang janin. Nasib janin dari ibu hamil yang terkena rubella akan lahir cacat atau mengalami keguguran.

"Bagi ibu hamil, triwulan pertama itu bahaya jika terinfeksi rubella. Virus rubella menyebabkan cacat lahir dan ini tidak ada obatnya. Makanya pencegahan menjadi penting," ujar Abdul Fatah.

Karena itu, pada Agustus-September mendatang pihak kesehatan akan melakukan imunisasi terhadap anak agar mereka memiliki kekebalan tubuh terhadap campak, difteri, dan rubella. Kasus rubella sendiri sudah ditemukan di Aceh, seperti di Aceh Jaya dan Aceh Besar. (K33)

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya