OJK: Kredit Juni Menguat 10,75% Didorong Sektor Perdagangan

Oleh: Ropesta Sitorus 25 Juli 2018 | 17:40 WIB
OJK: Kredit Juni Menguat 10,75% Didorong Sektor Perdagangan
Karyawati beraktivitas di call center Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di Jakarta, Senin (29/1/2018)./JIBI-Abdullah Azzam

Bisnis.com, MEDAN - Di tengah tekanan ke pasar keuangan domestik, penyaluran kredit perbankan pada Juni 2018 mampu tumbuh 10,75% secara year on year (yoy), menguat dibandingkan dengan pertumbuhan pada Mei sebesar 10,26% (yoy).

“Pertumbuhan kredit perbankan Juni 2018 mengalami peningkatan sebesar 10,75% yoy didorong oleh sektor perdangan besar & industri pengolahan,” kata Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sekar Putih Djarot kepada Bisnis, Rabu (25/7/2018).

Lebih lanjut, OJK menyatakan kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada Juni 2018 secara umum masih terjaga walaupun turut mengalami moderasi.

Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK Anto Prabowo mengungkapkan beberapa indikator masih menunjukkan pertumbuhan meski melambat dibanding tahun sebelumnya.

“Piutang pembiayaan sampai Juni 2018 tumbuh 5,18% yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan Mei 2018 sebesar 6,37% (yoy). Sedangkan premi asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi masing-masing tumbuh sebesar 29,4% (yoy) dan 15,9% (yoy),” kata Anto seperti dikutip dari keterangan resmi.

Sementara itu, untuk penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dilakukan perbankan tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 6,99% (yoy), juga lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan Mei 2018 sebesar 6,47% (yoy).

Di pasar modal, penghimpunan dana hingga Juni 2018 mencapai Rp108 triliun. Emiten baru tercatat sebanyak 31 perusahaan atau lebih banyak dibanding posisi Januari - Mei 2018 sebesar 18 perusahaan. Total dana kelolaan investasi hingga Juni 2018 mencapai Rp706,2 triliun.

Di tengah sentimen yang mewarnai pasar keuangan domestik, OJK menilai risiko Lembaga Jasa Keuangan, baik risiko kredit, pasar, dan likuiditas masih terjaga pada level yang manageable.

Hal ini ditunjukkan dari rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankansebesar 2,67%, turun dibandingkan dengan posisi NPL gross pada Mei 2018 sebesar 2,79% dan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 3,15%, menguat tipis dari posisi Mei 2018 sebesar 3,12%.

Sementara itu, permodalan LJK juga relatif terjaga yang ditunjukkan oleh rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan sebesar 21,91% serta RBC asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 333% dan 455%.

Anto menyatakan OJK terus memantau risiko yang akan muncul dari dinamika perekonomian global dan dampaknya terhadap likuiditas pasar keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan nasional.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya