Antisipasi Kredit Melambat, Bank Sumut Kerja Sama dengan Fintech

Oleh: Ropesta Sitorus 24 Juli 2018 | 20:00 WIB
Bank Sumut/banksumut.com

Bisnis.com, MEDAN – Mengantisipasi potensi penurunan penyaluran kredit akibat tren kenaikan bunga, PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (Bank Sumut) melakukan beberapa strategi ekspansi bisnis.

Direktur Utama Bank Sumut Eddie Rizliyanto menjelaskan dari segi produk dan layanan, pihaknya akan mulai lebih aktif menggenjot kredit konsumsi, khususnya multiguna dan pensiunan.

“Tahun ini kami mau fokus meningkatkan bisnis pensiun yang sebenarnya sudah dimulai sejak tahun lalu. Taspen mengarahkan kredit pensiunan ke perbankan daerah karena jaringannya lebih banyak,” katanya saat berbincang dengan Bisnis di kantornya, Seleasa (24/7/2018).

Bicara potensi kredit penisunan di Sumatra Utara, menurut Eddie, jumlahnya cukup tinggi dengan asumsi jumlah pensiunan saat ini mencapai 150.000 orang.

Menurut perkiraannya, saat ini perseroan baru memiliki pangsa pasar sekitar 10% dari total nilai kredit penisunan sekitar Rp4 triliun.

Hingga akhir tahun, Bank Sumut membidik penyaluran kredit di segmen pensiunan dapat tumbuh hingga Rp850 miliar.

“Tahun depan kami mungkin bisa sampai Rp1,5 triliun. Sampai Juni ini kinerja kredit pensiunan masih on track,” tuturnya.

Di lihat dari penggunaannya, Bank Sumut juga masih akan memperkuat penyaluran kredit konsumsi yang selama ini mengambil porsi hingga 62% dari total portofolio.

Secara khusus, subsegmen yang bakal difokuskan yakni kredit multiguna, terutama kepada para pegawai negeri sipil.

Di sisi lain, perseroan juga juga lebih masif mengembangkan perbankan digital guna mengantisipasi perkembangan teknologi finansial.

Eddie mengatakan Bank Sumut telah menggandeng dua perusahaan fintech yakni Investree untuk penyaluran kredit secara online serta dengan Pinjam.co.id untuk bisnis gadai emas dan perhiaasan.

“Untuk investree, kami mengalokasikan sampai Rp200 miliar untuk pemberian kredit. Jadi selain individu, perusahaan juga dapat mengajukan kredit secara online dengan nilai plafon maksimal Rp2 miliar,” paparnya.

Dua bentuk kerja sama itu diyakini akan mempercepat proses pemberian kredit menjadi hanya 3-5 hari. Selain memacu kinerja, dua bentuk layanan baru tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan, baik bunga maupun pendapatan berbasis komisi (fee based income).

Sebagai bentuk mitigasi risiko, pihaknya juga bekerjasama dengan Pefindo ketika mengecek calon debitur korporasi. Selain itu, penyaluran kredit tetap dilakukan dengan mensyaratkan agunan.

Sementara itu, Eddie menuturkan permintaan kredit di Sumut masih belum terlalu pulih. Bahkan dalam awal semester II/2018, perseroan akhirnya memutuskan merevisi target pertumbuhan bisnis dari semula 10% menjadi 7% per akhir Desember mendatang.

“Tantangannya makin berat, karena suku bunga yang terus naik, dan kurs yang semakin tinggi.  Tiga tahun terakhir ini (permintaan kredit di Sumut) belum positif sekali. Realisasi tahun lalu juga di bawah target yang direncanakan,” ungkapnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya