Kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang Berpotensi Jadi Ekowisata

Oleh: Dinda Wulandari 24 Juli 2018 | 16:45 WIB
Kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang Berpotensi Jadi Ekowisata
Dirjen Konservasi SDA KLHK Wiratno (kedua kanan) berbincang dengan Gubernur Sumsel Alex Noerdin saat acara acara sidang ke-30 dari "The Man and Biosphere International Co-ordinating Council (MAB-ICC) UNESCO./Bisnis-Dinda Wulandari

Bisnis.com, PALEMBANG – Kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang di Sumatra Selatan yang baru saja diajukan menjadi cagar biosfer berpotensi menjadi destinasi ekowisata sehingga dapat memberdayakan masyarakat sekitar.

Dirjen Konservasi SDA Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno, mengatakan untuk menjadikan cagar biosfer menjadi ekowisata perlu dukungan semua pihak terkait.

"Harus ada sinkronisasi program antara pemerintah daerah, pusat dan swasta yang mendukung cagar biosfer tersebut," katanya saat acara sidang ke-30 dari "The Man and Biosphere International Co-ordinating Council (MAB-ICC) UNESCO” di Palembang, Selasa (24/7/2018).

Dia mengemukakan Kawasan Berbak Sembilang memiliki potensi untuk eco tourism tersebut dengan daya tarik susur sungai, burung migran dan lahan gambut yang bisa menjadi wawasan sekaligus wisata untuk pengunjung.

Hanya saja, kata dia, perlu ada persiapan matang dan pendampingan program untuk menjadikan sebuah cagar biosfer menjadi eco tourism. Pasalnya, Wiratno menilai Kawasan Berbak Sembilang memilki kendala di akses yang mana harus menggunakan kapal cepat (speed boat).

"Harus dipikirkan akses ke situ susah atau tidak karena setahu saya untuk ke Sembilang harus menggunakan kapal khusus," katanya.

Dia mencontohkan ekowisata yang sudah berjalan dan berdampak riil terhadap masyarakat sekitar adalah Tangkahan yang berada di Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Menurut Wiratno, Kawasan Tangkahan bisa menghasilkan nilai ekonomi Rp12 miliar per tahun karena didukung pula infrastruktur yang memadai, seperti akses jalan raya dari Kota Medan yang bisa ditempuh sekitar 3 jam.

"Ada juga Kawasan Kali Biru di Yogyakarta yang bisa menghasilkan Rp6 miliar per tahun untuk jadi pusat 'selfie' saja oleh wisatawan," katanya.

Sementara itu Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subiyanto mengatakan untuk menjadikan kawasan ekowisata perlu mengubah pola pikir masyarakat sekitar.

"Perlu ada perubahan mind set sehingga nanti masyarakat yang seringkali jadi pembalak liar bisa berubah profesi jadi pemandu wisata," katanya.

Diketahui, Kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang berada di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan dan Jambi dengan luasan 205.750 hektare.

Kawasan tersebut kaya akan keanekaragaman hiyati dan aktivitas burung migran dari Siberia pada Bulan Oktober dan seringkali jadi objek fotografi.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya