Tiga Komoditas Ini Diprediksi Picu Inflasi Juli di Medan

Oleh: Ropesta Sitorus 18 Juli 2018 | 18:45 WIB
Tiga Komoditas Ini Diprediksi Picu Inflasi Juli di Medan
Susana di pasar tradisional./ JIBI-Abdullah Azzam

Bisnis.com, MEDAN – Harga tiga bahan pangan yakni telur, daging dan cabai rawit yang stabil tinggi dalam beberapa waktu terakhir diperkirakan akan berpotensi memicu inflasi pada bulan Juli di Sumatra Utara (Sumut).

Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Gunawan Benjamin, menuturkan harga tiga bahan pangan tersebut masih mengalami kenaikan hingga Rabu (18/7/2018).

“Saya menilai telur, daging ayam, dan cabai kecil ini sangat berpeluang memicu inflasi pada bulan ini,” katanya dalam keterangan resmi.

Dia menjelaskan, harga telur telah mengalami kenaikan sejak pekan lalu dan masih bertahan mahal di level Rp24.000 per kg atau sekitar Rp1.400 – Rp1.600 per butir.

Menurutnya, tingginya harga telur tersebut disebabkan faktor prodduktivitas ayam petelur di mana banyak ayam yang masuk dalam kategori afkir. Hal itu membuat petani harus mengganti indukan ayam dan memicu terjadinya gangguan produktivitas ayam petelur.

“Saya pikir ini tidak akan belangsung lama, karena memang ada masa transisi. Saya yakin harga telur ini bisa stabil nantinya dalam kurun waktu sekitar 10 pekan,” katanya.

Di sisi lain, kenaikan harga telur dan daging ayam juga dipengaruhi faktor pelemahan mata uang rupiah. Pasalnya, melemahnya nilai tukar mata uang rupiah berdampak pada kenaikan pada harga bahan pakan yang diimpor dari negara lain dan memicu naiknya harga pakan ayam.

Sebagai gambaran, harga daging ayam saat ini sempat menyentuh Rp36.000 per kg, meskipun masih ada sejumlah pedagang yang menjual harga daging ayam di kisaran Rp33.000 per kg.

“Harga daging ayam sejauh ini sudah melampaui batas ambang Rp30.000, sehingga saya katakan harga daging ayam cukup mahal saat ini. Harga daging ayam tersebut juga linier dengan kenaikan harga telur ayam,” tuturnya.

Sementara itu, untuk harga cabai rawit atau cabai kecil di Medan juga mengalami kenaikan di kisaran harga Rp33.000 per kg.

Gunawan mengatakan potensi produksi tanaman cabai kecil lebih sulit dipetakan karena petani tidak menanamnya secara massal seperti halnya tanaman cabai merah. Hal itu bermuara pada kemampuan dalam memperkirakan jumlah produksi.

“Bisa dipastikan tidak ada petani cabai kecil yang memiliki lahan luas dengan kapasitas produksi di atas 5 kg sebab memang untuk tanaman cabai kecil ini memiliki biaya produksi yang mahal,” ungkapnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, pada Juni 2018 seluruh kota di Sumut mengalami inflasi, dengan tingkat tertinggi di Padang Sidempuan sebesar 0,38%, di Sibolga 0,29%, Pematangsiantar 0,10% dan Medan sebesar 0,01%. Dengan demikian Sumut secara umum mengalami inflasi sebesar 0,04%.

Khusus untuk Medan, komoditas utama penyumbang inflasi selama bulan lalu yakni antara lain angkutan udara, tomat buah, cabai rawit, angkutan antarkota, upah pembantu rumah tangga, kue basah dan telur ayam ras.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya