Inflasi Terjaga, Angka Kemiskinan di Sumut Turun Jadi 9,22%

Oleh: Ropesta Sitorus 17 Juli 2018 | 14:39 WIB
Inflasi Terjaga, Angka Kemiskinan di Sumut Turun Jadi 9,22%
Ilustrasi./Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Selaras dengan penurunan persentase penduduk miskin nasional, jumlah penduduk miskin di Sumatra Utara mengalami penurunan akibat tingkat inflasi yang relatif terjaga.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Utara, jumlah penduduk miskin di Sumut tercatat 1,325 juta jiwa per Maret 2018, atau sebesar 9,22%. Persentase tersebut turun tipis dibandingkan dengan periode September 2017 sebesar 9,28% atau sebesar 1,326 juta jiwa.  

Angka kemiskinan di Sumut juga sedikit di bawah persentase penduduk miskin nasional sebesar 9,82%, yang turun dibandingkan dengan September 2017 sebesar 10,12%, serta terpaut 1,17% dari angka kemiskinan di Pulau Sumatra yang mencapai 10,39%.

Menurut Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Pemprovsu Mukhamad Mukhanif, jumlah penduduk miskin di Sumut masih berada pada level yang moderat dibandingkan dengan provinsi lain di Sumatra.

“Kalau untuk disparitas kemiskinan perkotaan dan perdesaan di Sumut hampir tidak terjadi. Persentase penduduk miskin di kota 9,15% dan di desa 9,30%, [disparitas] kecil sekali, bahkan terkecil secara nasional,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (17/7/2018).

Kondisi tersebut sedikit berbeda dengan potret kemiskinan nasional, di mana disparitas kemiskinan antara perkotaan dan pedesaan masih sangat tinggi. Secara nasional, penduduk miskin di kota sebesar 7,02% sedangkan di desa mencapai 13,20%.

Hanif, begitu dia biasa disapa, menjelaskan penurunan jumlah penduduk miskin di Sumut didorong tingkat inflasi umum yang terkendali di level 1,72% pada periode September 2017 – Maret 2018.

“Faktor lainnya karena pertumbuhan ekonomi juga mengalami percepatan dari 4,5% pada kuartal I/2017 menjadi 4,73% pada kuartal I/2018,” katanya.

Sejalan dengan inflasi yang rendah, garis kemiskinan tercatat mengalami sedikit kenaikan menjadi Rp435.970 per kapita per bulan.

Dibandingkan dengan Maret 2017 sebesar Rp411.345, garis kemiskinan tersebut naik 5,9% serta tumbuh 2,8% dibandingkan dengan posisi September 2017 yang mencapai Rp423.696.

Garis kemiskinan di Sumut juga lebih tinggi dibandingkan dengan garis kemiskinan nasional sebesar Rp401.220 per kapita per bulan.

Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan mencapai 73,48%, jauh lebih besar dibandingkan dengan peranan komoditas bukan makanan (26,52%).

Tiga komoditas makanan yang menjadi kontributor terbesar kenaikan garis kemiskinan di Sumut yakni beras, rokok kretek filter, dan cabe merah. Adapun, komoditas nonmakanan dengan kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan yakni perumahan, bahan bakar dan listrik.

Sementara itu berdasarkan data BPS, kenaikan harga beras yang cukup tinggi yakni mencapai 8,57% pada periode September 2017 – Maret 2018 disinyalir menjadi faktor yang membuat penurunan kemiskinan secara nasional tidak secepat periode Maret 2017 – September 2017. Pasalnya, pada periode tersebut harga beras relatif tidak berubah.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya