KABAR PASAR 12 JULI: MTN Diatur Lebih Ketat, Perbankan Masuk Fase Ekspansi

Oleh: Renat Sofie Andriani 12 Juli 2018 | 08:00 WIB
Seorang wanita melintas di pintu masuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Senin (23/10)./ANTARA -Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Berita seputar upaya Otoritas Jasa Keuangan menertibkan penerbitan medium term notes (MTN) serta kondisi perbankan nasional menjadi sorotan media massa hari ini, Kamis (12/7/2018).

Berikut rincian topik utama di sejumlah media nasional hari ini:

MTN Diatur Lebih Ketat. Otoritas Jasa Keuangan akan memperketat proses penerbitan surat utang jangka waktu menengah atau medium term notes untuk menghindari kasus gagal bayar dan memperkuat transparansi. Dalam beberapa bulan terakhir, otoritas memang terus berusaha menertibkan penerbitan MTN. (Bisnis Indonesia)

Target Dividen BUMN Konservatif. Kementerian Badan Usaha Milik Negara mengusulkan target setoran dividen konservatif kepada pemerintah untuk tahun buku periode 2018, sejalan dengan tingginya kebutuhan pendanaan internal untuk sejumlah proyek yang dianggarkan. (Bisnis Indonesia)

Industri Tempuh Efisiensi. Pelaku industri dalam negeri tak punya pilihan lain kecuali melakukan berbagai efisiensi di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah untuk menjaga margin keuntungan. (Bisnis Indonesia)

Apresiasi Rupiah Terus Didorong. Kendati menguat ke level Rp14.385 per dolar AS pada Rabu (11/7), Bank Indonesia menilai nilai tukar rupiah masih dalam level undervalued, sehingga bank sentral akan terus mendorong apresiasi mata uang Garuda. (Bisnis Indonesia)

Perbankan Masuk Fase Ekspansi. Perbankan nasional kini memasuki fase ekspansi. Masa konsolidasi sudah berhasil dilewati. Tahun ini, kredit perbankan bisa di atas 12%. Hingga Juni 2018, year on year, kredit perbankan melaju 10,26%. Kondisi perbankan nasional kini dalam keadaan sehat walafiat. (Investor Daily)

Kredit Bermasalah untuk Ruko Melejit. Industri perbankan mulai mewaspadai penyaluran kredit ke properti, khususnya kredit rumah toko (ruko) atau rumah kantor. Seiring lesunya bisnis, rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) kredit bermasalah pada kredit ruko atau rukan menjulang tinggi, hampir mendekati angka 5%. (Kontan)

Editor: Mia Chitra Dinisari

Berita Terkini Lainnya