Sinergi Megah Internusa (NUSA) Targetkan Akselerasi Pendapatan Usai IPO

Oleh: Emanuel B. Caesario 12 Juli 2018 | 16:21 WIB
Sinergi Megah Internusa (NUSA) Targetkan Akselerasi Pendapatan Usai IPO
Ilustrasi

 

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten hotel dan pariwisata yang baru saja tercatat di Bursa Efek Indonesia, PT Sinergi Megah Internusa Tbk. optimis akan mampu mengakselerasi kinerja perseroan dalam lima tahun ke depan setelah menjadi perusahaan terbuka.

Emiten dengan kode saham NUSA ini baru didirikan pada 2014 dan mulai beroperasi pada 2016 dengan menjalankan satu unit hotel Yogyakarta dengan memakai merek Lafayette Hotel dan mengangkat konsep boutique hotel.

Iwandono, Direktur Utama SInergi Megah Internusa, mengatakan bahwa hingga tahun ini perseroan masih akan hanya mengandalkan pendapatan dari operasional hotel. Setelah tahun lalu membukukan pendapatan Rp8,5 miliar, tahun ini perseroan menargetkan mampu mencapai Rp24,79 miliar.

Menurutnya, perseroan masih akan membukukan rugi bersih tahun ini, lantaran perseroan menanggung nilai depresiasi yang besar dari aset hotel perseroan. Namun, setelah mengantongi dana hasil penawaran umum perdana, perseroan siap untuk menggenjot lini bisnis properti.

Perseroan berhasil meraih dana Rp180 miliar melalui pelepasan 1,2 miliar saham baru perseroan dengan harga Rp150. Perseroan akan menggunakan dana tersebut 63,83% untuk membiayai belanja modal atau capital expenditure, 5,28% untuk modal kerja, dan 27,78% untuk melunasi utang perbankan.

Perseroan optimis pada 2019 nanti sudah mampu membukukan pendapatan senilai Rp218 miliar, atau meroket 780% dibandingkan dengan proyeksi capaian tahun ini. Pada 2021, pendapatan perseroan diproyeksikan mencapai Rp325 miliar.

Iwandono mengatakan, perseroan akan mencapai target tersebut dengan mengembangkan convention center di hotel perseroan untuk bisnis sewa bagi kegiatan meeting, incentives, convention & exhibition (MICE).

Selain itu, perseroan akan mulai masuk dalam bisnis properti tahun ini melalui anak usahanya, PT Mulia Manunggal Karsa. Perseroan akan membangun 180 unit villa mewah gaya Mediterania di atas lahan seluas 20 hektare milik perseroan di Batam.

Perseroan akan mengembangkan tiga tipe villa, yakni dengan perbandingan luas bangunan terhadap luas tanah (meter persegi/ m2) berturut-turut 350/400 seharga Rp5 miliar, 500/750 seharga Rp7 miliar, dan 700/1.000 seharga Rp10 miliar.

Perseroan akan membangunnya dalam lima tahun ke depan, berturut-turut 18 unit, 26 unit, 36 unit, 43 unit dan 57 unit. Selain itu, perseroan juga akan menambah cadangan lahan seluas 20 hektare lagi untuk mengganti lahan yang terjual.

“Sekarang kita masih minus, tetapi tahun 2019 nanti kita sudah bisa untung karena penjualan villa dan diharapkan akan positif terus setelahnya. Pada 2019 itu kami targetkan sudah bukukan net profit margin 22,9% dan pada tahun 2023 sudah 47,3%” katanya, Kamis (12/7/2018).

Di bisnis hotel sendiri perseroan optimis kinerjanya akan terus membaik. Sepanjang tahun ini, okupansi hotel perseroan rata-rata baru 52%, sedikit meningkat dibandingkan dengan tahun lalu sekitar 40%. Meski begitu, pada musim lebaran tahun ini okupansi sempat meningkat hingga 78%.

Dengan adanya convetion center, okupansi hotel pun diharapkan akan dapat lebih meningkat lagi. Perseroan mengalokasikan sekitar Rp20 miliar untuk pengembangan convention center tersebut. Selain itu, belanja modal untuk pengembangan villa di Batam mencapai Rp127miliar dengan alokasi tahun ini Rp13 miliar hingga Rp15 miliar.

Editor: Riendy Astria

Berita Terkini Lainnya