DISRUPSI DIGITAL : Perusahaan Teknologi Ancam Bisnis Bank

Oleh: Muhammad Khadafi 11 Juli 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA – Disrupsi digital membuat Indonesia tengah berada pada era membanjirnya perusahaan teknologi. Bahkan, perusahaan yang memiliki produk teknologi finansial dianggap menjadi ancaman bagi bisnis perbankan konvensional.

Berdasarkan survei terbaru dari PwC Indonesia, 72% reponden menganggap perusahaan transportasi daring, seperti Go-Jek, sebagai satu kompetitor baru dengan fasilitas teknologi pembayaran Go-Pay.

Sekitar 62% bankir di negara ini juga yakin Alipay milik Alibaba merupakan kekuatan besar yang dapat muncul dalam waktu dekat.

Technology and Risk Consulting Leader PwC Indonesia Chairil Tarunajaya mengatakan, ada dua hal yang menjadi kepastian pada masa akan datang, yaitu persaingan ketat menyediakan layanan finansial atau kolaborasi antara perusahaan teknologi dan perbankan.

“Kondisi sekarang konsumen bank sudah banyak diambil, tapi perusahaan teknologi masih banyak kekurangan,” katanya usai pemaparan riset PwC Indonesia yang bertajuk Global Economic Crime and Fraud Survei di Jakarta, Selasa (10/7).

Dia melanjutkan, cara paling mudah bagi perusahaan teknologi untuk beradaptasi bergabung dengan bank yang sudah punya sistem keuangan kuat. Begitu juga dengan bank yang perlu menyerap ilmu perusahaan teknologi yang memiliki banyak konsumen generasi muda.

Satu keunggulan perusahaan teknologi adalah memiliki basis data konsumen yang kuat. Go-Jek dengan mudah mengetahui kebiasaan konsumsi konsumen. Dari data itu bisa menjadi landasan bagi perbankan memberikan fasilitas pembiayaan.

Lebih jauh, PwC Indonesia Consulting Director Santoso Widjaja menilai fasilitas perbankan konvensional tidak akan hilang. Responden menilai 70% consumer experience terbaik masih diberikan oleh kantor cabang. Di bawahnya diikuti oleh mobile banking dan internet banking.

Dari riset PwC, tercatat belum sampai separuh bank milik negara dan bank umum kelompok usaha (BUKU) IV yang memasukan strategi digital sebagai bagian dari transformasi masa depan. Hanya 38% bank BUMN yang sudah memulai transformasi digital, sedangkan total BUKU IV sebesar 44%. Hasil survei juga mengindikasikan ponsel pintar akan menjadi komponen penting.

“Namun ini indikasi yang baik, karena artinya bank-bank besar telah memulai perjalanan menuju transformasi digital,” katanya.

Sementara itu, PwC Indonesia mencatat keamanan siber akan menjadi isu bagi digitalisasi perbankan dalam 2—3 tahun ke depan. Data perusahaan dan konsumen rentan terhadap kejahatan siber yang sudah masuk fase matang.

Pudja Unggul Kartiman, dari Indonesia Cyber Forum mengatakan bahwa regulasi mengenai keamanan siber perbankan perlu dipersiapkan. “Jadi bukan hanya infrastruktur untuk mendukung perbankan saja,” katanya.

//FUNGSI INTERMEDIASI//

Di kesempatan yang sama, Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Erwin Haryono mengatakan, disrupsi teknologi tidak akan menghapus fungsi intermediasi bank. Kondisinya saat ini bank belum terlalu antusias.

“Kalau dari riset, 66% responden telah mengembangkan strategi digital, tapi itu strategi utama atau bukan? Saya rasa tidak,” katanya.

Perusahaan teknologi, menurutnya, akan membuat perubahan besar di Indonesia. Akan tetapi, mereka tetap tidak akan memiliki fungsi bank secara utuh. Erwin menilai, ke depan kolaborasi antara bank dengan perusahaan teknologi akan semakin banyak terjadi.

Adapun survei yang dilakukan PwC tentang bank digital melibatkan 52 responden dan 43 bank di Indonesia. Sebanyak 90% di antaranya merupakan perusahaan yang masuk 10 besar dalam bisnis perbankan dalam negeri.

Editor: Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkini Lainnya