Bankir Ketar-ketir Gojek Cs Gerogoti Bisnis Bank

Oleh: Muhammad Khadafi 10 Juli 2018 | 21:57 WIB
Ilustrasi kantor PricewaterhouseCoopers LLP. /Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Disrupsi digital membuat Indonesia tengah berada pada era membanjirnya perusahaan teknologi. Bahkan, perusahaan yang memiliki produk teknologi finansial dianggap menjadi ancaman bagi bisnis perbankan konvensional.

Berdasarkan survei terbaru dari PwC Indonesia, 72% reponden menganggap perusahaan transportasi daring, seperti Go-Jek, sebagai satu kompetitor baru dengan fasilitas teknologi pembayaran Go-Pay.

Sekitar 62% bankir di negara ini juga yakin Alipay milik Alibaba merupakan kekuatan besar yang dapat muncul dalam waktu dekat.

Technology and Risk Consulting Leader PwC Indonesia Chairil Tarunajaya mengatakan, ada dua hal yang menjadi kepastian pada masa akan datang, yaitu persaingan ketat menyediakan layanan finansial atau kolaborasi antara perusahaan teknologi dan perbankan.

“Kondisi sekarang konsumen bank sudah banyak diambil, tapi perusahaan teknologi masih banyak kekurangan,” katanya usai pemaparan riset PwC Indonesia yang bertajuk Global Economic Crime and Fraud Survei di Jakarta, Selasa (10/7).

Dia melanjutkan, cara paling mudah bagi perusahaan teknologi untuk beradaptasi bergabung dengan bank yang sudah punya sistem keuangan kuat. Begitu juga dengan bank yang perlu menyerap ilmu perusahaan teknologi yang memiliki banyak konsumen generasi muda.

Satu keunggulan perusahaan teknologi adalah memiliki basis data konsumen yang kuat. Go-Jek dengan mudah mengetahui kebiasaan konsumsi konsumen. Dari data itu bisa menjadi landasan bagi perbankan memberikan fasilitas pembiayaan.

Lebih jauh, PwC Indonesia Consulting Director Santoso Widjaja menilai fasilitas perbankan konvensional tidak akan hilang. Responden menilai 70% consumer experience terbaik masih diberikan oleh kantor cabang. Di bawahnya diikuti oleh mobile banking dan internet banking.

Dari riset PwC, tercatat belum sampai separuh bank milik negara dan bank umum kelompok usaha (BUKU) IV yang memasukan strategi digital sebagai bagian dari transformasi masa depan. Hanya 38% bank BUMN yang sudah memulai transformasi digital, sedangkan total BUKU IV sebesar 44%. Hasil survei juga mengindikasikan ponsel pintar akan menjadi komponen penting.

“Namun ini indikasi yang baik, karena artinya bank-bank besar telah memulai perjalanan menuju transformasi digital,” katanya.

Sementara itu, PwC Indonesia mencatat keamanan siber akan menjadi isu bagi digitalisasi perbankan dalam 2—3 tahun ke depan. Data perusahaan dan konsumen rentan terhadap kejahatan siber yang sudah masuk fase matang.

Editor: Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkini Lainnya