PPDB 2018: 10 Sekolah di Kepri Diawasi Ketat Ombudsman

Oleh: Sarma Haratua Siregar 26 Juni 2018 | 17:35 WIB

Bisnis.com, BATAM – Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Kepri akan mengawasi 10 sekolah rawan kecurangan selama pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2018.

Sepuluh sekolah tersebut ditetapkan berdasarkan pantauan ORI pada pelaksnaaan PPDB tahun-tahun sebelumnya.

“Kami akan memastikan PPDB tahun ini harus objektif, transparan, akuntabel dan tidak diskriminatif,” ujar Lagat Siadari, Kepala perwakilah ORI Kepri, hari ini Selasa (26/6/2018).

Menurut catatan Ombudsman, beberapa sekolah yang disebut-sebut rawan adalah SMK Negeri 2 Batam dan SMA Negeri 8 Batam. Sejumlah sekolah favorit yang menjadi sasaran peserta didik juga masuk radar. Menurut ORI, sekolah favorite ini sering diburu peserta didik, sehingga potensi kecurangannya menjadi lebih tinggi.

“Ada beberapa sekolah yang tidak sepenuhnya menggunakan sistem zonasi, yang disebut sekolah rujukan Yakni SDN 006 Sekupang, SMP 3, SMP 6 dan SMP 26 Batam,” paparnya.

Selain itu ORI juga mengambil 3 sekolah dari 3 satuan pendidikan sebagai sample pengawasan. Ketiga sekolah itu terletak di Kecamatan Bengkong, Sekupang dan Batam Kota.

Selain turun langsung langsung, ORI juga akan memasang spanduk di 10 sekolah tersebut. Spanduk tersebut berisi imbauan melaporkan kecurangan-kecurangan yang ditemui sepanjang PPDB. ORI akan segera menindaklanjuti semua laporan yang masuk.

“Kami juga akan buka mata dan telinga selebar-lebarnya untuk menangkap informasi dari berbagai sumber terkait PPDB ini,” tegasnya.

ORI juga akan menyurati Gubernur Kepri dan Walikota, agar menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mengeliminir praktek kecurangan sepanjang pelaksanaan PPDB. Dengan demikian, dia berharap tak ada mall administrasi yang terjadi sepanjang PPDB.

PPDB tingkat SMA sederajat melalui sistem online di Kepri akan mulai pada 28 Juni. Pendaftaran untuk SMA akan ditutup pada 6 Juli, sementara untuk SMK akan berakhir pada 3 Juli. Khusus untuk Batam, 23 SMA dan 8 SMK akan menggunakan sistem online.  

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya