Perunggasan Sumsel : Pasok Disebut Berkurang, Harga Naik

Oleh: Dinda Wulandari 16 Mei 2018 | 15:40 WIB
Perunggasan Sumsel : Pasok Disebut Berkurang, Harga Naik
Pedagang menata daging ayam di lapaknya/JIBI-Rachman

Bisnis.com, PALEMBANG -- Asosiasi Masyarakat Perunggasan Sumsel atau AMPS menyebutkan tingginya harga ayam potong di sejumlah pasar tradisional belakangan waktu terakhir ini dikarenakan jumlah pasokan yang berkurang.

Ketua AMPS Ismaidi Chaniago mengatakan, dari rata-rata pasokan normal 100.000 ekor per hari, kini ketersediaan ayam dengan bobot ideal 1,6-1,7 kilogram per ekor hanya tersedia sekitar 30% saja.

"Saat ini kondisi ayam di kandang rentan sakit, sehingga mudah mati dan sulit mencapai bobot ideal untuk pasar," katanya saat dihubungi, Rabu (16/5/2018).

Dengan kondisi cuaca ekstrem membuat peternak kesulitan untuk mengejar bobot ideal tersebut. Apalagi, sebagian besar kandang unggas di Palembang merupakan kandang terbuka sehingga sangat berpengaruh terhadap cuaca.

"Saat cuaca panas terik dan tiba-tiba hujan seperti saat ini memang membuat ayam sulit untuk tumbuh," katanya.

Untuk harga jual di kandang sendiri terbilang bervariasi berkisar Rp28.000--Rp30.000 per ekor. Maka tidak heran jika harga di pasaran bisa mencapai di atas Rp 38.000 per ekor.

"Biasanya pedagang mengambil selisih Rp5.000--Rp6.000 per ekor. Tapi jika kondisi pasokan yang terbatas mungkin bisa lebih dari itu," katanya.

Untuk prediksi saat Ramadan, Ismaidi menambahkan, jika kondisi permintaan dan cuaca belum berubah. Maka secara garis besar kondisi harga ayam potong tidak mengalami perubahan. Apalagi, khususnya di awal Ramadan biasanya terkadi kenaikan permintaan sekitar 30%.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel, Yustianus mengatakan sampai dengan Selasa, (15/5) pantauan harga di sejumlah pasar tradisional harga ayam potong masih berkisar Rp38.000--Rp42.000 per ekor.

"Relatif masih tinggi. Kami telah menyampaikan kepada asosiasi peternak untuk membantu melaksanakan operasi pasar (OP) guna meredam gejolak tingginya permintaan di masyarakat saat ini," katanya.

Menurutnya, saat Ramadan biasanya permintaan ayam akan menurun, hal itu disebabkan operasional sejumlah konsumen besar seperti rumah makan, dan beberapa hajatan yang sering dilakukan masyarakat juga berkurang. Dengan demikian, kondisi tersebut akan mempengaruhi terhadap harga jual di masyarakat.

"Oleh karena itu kami minta masyarakat juga tidak usah panik, apalagi kan ayam bukanlah kebutuhan pokok seperti beras, gula, dan minyak goreng," katanya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya