Produksi Beras Sumut Hingga April Diprediksi 1,15 Juta Ton

Oleh: Juli Etha Ramaida Manalu 23 April 2018 | 17:34 WIB
Produksi Beras Sumut Hingga April Diprediksi 1,15 Juta Ton
Ilustrasi./Bisnis

Bisnis.com, MEDAN — Produksi beras di Sumatra Utara hingga April 2018 diprediksi akan mencapai 1,15 juta ton yang berasal dari panen lahan seluas 381.119,8 hektar (ha).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumatra Utara (Sumut)  Dahler menyebutkan panen lahan seluas 381.119,8 hektar tersebut menghasilkan lebih dari 1,98 juta gabah kering giling.

“Sekitar 144.729 ton gabah kering giling di antaranya digunakan untuk kepentingan seperti bibit, pakan ternak, bahan baku industri bukan makanan, juga termasuk gabah yang susut atau tercecer,” katanya, Senin (23/4/2018).

Dengan demikian, produksi GKG yang bisa diolah menjadi beras adalah sebesar 1,83 juta ton yang kemudian menghasilkan beras sebanyak 1,153 juta ton.

Kendati demikian, tidak seluruhnya beras tersebut dialokasikan untuk kebutuhan penduduk Sumatra Utara yang mencapai 14,26 juta orang. Sekitar 1.960 ton akan digunakan sebagai pakan unggas, 7.610 ton untuk industri bukan makanan, dan perhitungan beras yang tercecer atau susut sebesar 28.827 ton.

Selain produksi sendiri, Provinsi Sumatra Utara juga menerima pasokan beras dari luar provinsi sebesar 331,8 ton dari beras impor sebanyak 7.725,4 ton. Dengan demikian, ketersediaan beras untuk konsumsi penduduk saat ini mencapai 1,12 juta ton.

Adapun Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut Zubir Harahap menyebutkan konsumsi penduduk per kapita per tahun di kabupaten ini mencapai 124,89 kilogram atau mencapai 579,252 ton.

“Dengan demikian, terdapat surplus sebesar 543.479 ton,” katanya.

Bahkan, menurutnya, tanpa adanya pemasukan  beras dari daerah lain, ketersediaan beras di Provinsi Sumatra Utara masih cukup bahkan berlebih bila dibandingkan dengan kebutuhan atau konsumsi penduduk.

Namun, dalam kesempatan berbeda, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatra Utara Azhar Harahap mengemukanan di balik potensi surplus yang ada di Sumatra Utara, gejolak harga masih berpeluang mengintai akibat kecenderungan produksi yang mengalir ke luar provinsi.

 “Kondisi ini saya anggap di Sumut masih surplus dari segi ketersediaan. Masih cukup untuk enam bulan ke depan apabila distribusi panen yang ada di Sumut itu didistribusikan di Sumut, tapi yang celakanya panen kita di Sumut itu didistribusikan ke provinsi lain,” jelas Azhar yang menyajikan data sedikit berbeda dengan tingkat surplus lebih besar.

Menurutnya, saat ini, Sumut menjadi salah satu penyanggah kebutuhan pangan di Provinsi Riau juga Kepulauan Riau. Sehingga, tak hanya beras, kebutuhan pangan lainnya seperti cabai dan sayuranpun kerap berpindah ke provinsi tersebut.

Untuk itu, menurutnya, ke depannya hal ini perlu diwaspadai agar Sumut bisa tetap memenuhi kebutuhan penduduknya di tengah produksi beras yang melimpah. “Ini perlu saya sampaikan dan kita waspadai,” tambahnya.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya