Panbil Group Gandeng Perusahaan China Bangun Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Sauh

Oleh: Sarma Haratua Siregar 19 April 2018 | 11:28 WIB
Panbil Group Gandeng Perusahaan China Bangun Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Sauh
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas Kalibaru, Pelabuhan Utama Tanjung Priok di Jakarta, Selasa (13/9)./Antara-Widodo S. Jusuf

Bisnis.com, BATAM – Panbil Group dan China Communications Constructions Company Ltd. (CCCC) bekerja sama membangun dan mengembangkan pelabuhan peti kemas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Sauh. 

“Pelabuhan peti kemasnya akan kami kerjakan bersama,” ujar Managing Director Panbil Group Johannes Kennedy, Kamis (19/4/2018).

CCCC merupakan perusahaan raksasa asal China yang sudah mulai berekspansi di Indonesia sejak 1996. Salah satu proyek infrastruktur yang telah dirampungkan adalah proyek Suramadu pada 2009 dengan nilai kontrak US$308 juta.

Perusahaan ini juga ikut membangun kawasan pelabuhan di Shanghai, China; kawasan pelabuhan di Saigon, Vietnam; kawasan pelabuhan di Kamerun; pelabuhan di Sudan; dan pelabuhan di Mesir.

Baru-baru ini, CCCC menandatangani nota kesepahaman untuk turut mengembangkan KEK Bitung dan menunjukan ketertarikan untuk turut mengembangkan Kawasan Industri Kuala Tanjung di Sumatra Utara.

Rencana awal pelabuhan peti kemas Tanjung Sauh akan dibangun di atas lahan seluas 1.200 hektare (ha) dengan kucuran dana sebesar Rp13 triliun pada tahap pertama. Namun, Jhon menuturkan angka tersebut masih bisa berubah.

Saat ini, pihaknya tengah melakukan studi final untuk memastikan perkiraan teknis dan anggaran. Panbil Group juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri)), BP Batam, dan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) I. Nota kesepahaman itu akan dijadikan dasar pengajuan rencana pelabuhan kepada pemerintah pusat. 

“Berdasakan nota kesepahaman itu, kami juga sedang mengurus Peraturan Presiden (Perpres) mengenai penugasan kepada Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I sebagai pengelola pelabuhan peti kemas Tanjung Sauh,” paparnya. 

Selain pembangunan pelabuhan peti kemas, di KEK Tanjung Sauh juga bakal dibangun kawasan industri dan jembatan dari Batam menuju Bintan. Untuk kawasan industri, Panbil Group akan mencoba menarik industri yang melakukan relokasi dari China, Korea Selatan, dan Jepang.

Rencananya, KEK Tanjung Sauh akan diresmikan paling lambat pada Juli 2018 dan bakal menjadi KEK kedua di Kepri yang disetujui pemerintah pusat setelah Galang Batang. 

“Secara prinsip, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sudah menyetujui KEK Tanjung Sauh. Tetapi, ada beberapa kelengkapan yang harus dipenuhi segera. Sebelum Juli 2018 mudah-mudahan sudah diresmikan,” tambah Jhon. 

Gubernur Kepri Nurdin Basirun mengungkapkan total ada empat perusahaan yang terlibat dalam pembangunan KEK ini, yakni Panbil Group, CCCC, Pelindo I, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Keempatnya akan membentuk konsorsium.

“Nanti mereka akan atur dengan kesepakatan Bussiness-to-Bussiness (B2B),” tuturnya.

KEK Tanjung Sauh diharapkan dapat membantu meningkatkan stabilitas perekonomian Kepri dalam jangka panjang.

Adapun Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo menyatakan pihaknya akan mendukung penuh pengembangan KEK tersebut. Pasalnya, keberadaan KEK itu akan memberikan keuntungan komplementer terhadap pembangunan Batam.

Dalam nota kesepahaman yang ditandatangani bersama Pelindo I, Panbil Group, dan Gubernur Kepri ditekankan bahwa pembangunan pelabuhan peti kemas Tanjung Sauh harus mendukung perkembangan aktivitas Pelabuhan Batuampar.

“Harus saling menguntungkan,” tegasnya.

Menurut Lukita, investasi pembangunan pelabuhan peti kemas Tanjung Sauh mencapai US$4 miliar dan akan dibangun dalam tiga tahap. 

Sementara itu, kapasitasnya akan mencapai 15 juta-18 juta TEUs. Tahap pertama bakal memiliki kapasitas 6 juta TEUs, tahap kedua 12 juta TEUs, dan tahap ketiga 18 juta TEUs.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya