Pemerintah Jamin Ketersediaan Gula Jelang Ramadhan dan Lebaran

Oleh: Juli Etha Ramaida Manalu 18 April 2018 | 20:55 WIB
Pemerintah Jamin Ketersediaan Gula Jelang Ramadhan dan Lebaran
Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, MEDAN — Pemerintah menjamin ketersediaan gula kristal putih jelang Ramadhan dan Lebaran 2018, khususnya di Sumatra Utara.

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumatra Utara, ketersediaan gula kristal putih (GKP) di provinsi ini mencapai 35.991 ton per bulan dengan rata-rata kebutuhan mencapai 21.000 tom/bulan.

“Ketersediaan gula kristal putih kita ada 35.991 ton, sementara kebutuhan 21.000 ton dan stok saat ini ada 14.000,” kata Kepala Disperindag Sumatra Utara Alwin, Rabu (18/4/2018).

Selain ketersediaan stok, harga gula saat ini pun diprediksi stabil bahkan berada di bawah harga acuan pembeli yang ditetapkan sesuai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 27/M-DAG/PER/5/2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembeli di Petani dan Harga Acuan di Konsumen.

Peraturan tersebut mengatur  harga acuan konsumen berada di level Rp12.500. Namun, harga yang ditemukan di pusat pasar dalam tinjauan yang dilakukan sebelumnya masih di bawah harga acuan tersebut. Adapun harga rata-rata yang terbentuk per 12 April 2018  ada di level Rp11.917.

Selain di pasar tradisional, harga di beberapa toko ritel modern juga terpantau aman. Dalam tinjauan yang dilakukan pihak Kementerian Perdagangan, Kepala Bulog dan sejumlah pejabat terkait pada Selasa (17/4/2018), harga gula di dua toko ritel modern di Medan masih sesuai dengan harga acuan konsumen yakni pada level Rp12.500.

Kendati harga terpantau stabil, pemerintah tetap menugaskan Bulog agar bisa menggelontorkan stok gula demi menjaga agar pasokan di masyarakat tetap aman dan harga tidak merangkak naik jelang bulan puasa di mana permintaan biasanya meningkat.

Benhur Ngkaimi pun menyatakan pihaknya siap untuk menjalankam tugas menyalurkam gula seiring dengan stok yang memadai di gudang Bulohg. Menurutnya, saat ini stok Gula pasir di gudang Bulog mencapai 6.000 ton dan akan bertambah sekitar 9.000 ton dalam waktu dekat.

"Rencananya akan ada stok hingga 21.000 ton untuk kebutuhan Ramadhan dan Lebaran 2018," katanya.

Menurut dia, Bulog siap menjual gula ke distributor dengan harga jauh lebih murah sehingga distributor dan pengecer tetap untung.

Selain di gudang Bulog, pasokan Gula di salah satu gudang swasta yang digunakan PT Medan Gula Nusantara yang ada di Medan juga terpantau cukup. Manager PT Medan Gula Nusantara, Aan megatakan saat ini, sesuai dengan kebutuhan di pasar, pihaknya mengeluarkan rata-rata 500 ton gula per hari dari gudang tersebut.

Jumlah ini diprediksi akan meningkat sebesar 30%-40% jelang dan saat Puasa serta Lebaran nanti. Kendati demikian, pihaknya optimis bisa mengakomodasi peningkatan tersebut lantaran stok gula harian yang mereka miliki rata-rata mencapai 8.000 ton bahkan lebih pada hari-hari tertentu ketikan pengiriman pasokan gula bisa lebih cepat.

“Kalau pengangktan cepat, di sini bisa nggak muat, kita sewa gudang lain lagi. Kadang bisa sampai 15.000-20.000 ton, tapi kalau stok stabil sekitar 8.000 an,” katanya.

Sejauh ini, menurut Aan, satu satunya penyebab stok berkurang adalah jika pengiriman pasokan gula terhambat. Pasalnya, produksi gula yang dipasok dari PTPN 2 tidak mencukupi. Oleh karena itu, pihaknya pun mendatangkan pasokan dari dua daerah lan yakni Jawa dan Lampung.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Karyanto Suprih pun mengemukakan hal yang sama. Menurutnya, berdasarkan keadaan yang tampak selama melakukan pantauan juga laporan dari pihak terkait, stok gula di Sumatra Utara menjelang Puasa dan Lebaran tahun ini aman. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir.

“Ini baru di sini [Gudang PT Medan Gula Nusantara], belum lagi di gudag Bulog, banyak. Jadi, gula aman, untuk Sumut aman,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kenaikan harga gula, pihaknya akan melakukan pengawasan dengan melibatkan satgas pangan agar harga gula baik di pasar tradisional maupun retail modern tidak melebihi ketentuan yang berlaku.

Selain itu, distributir D1 juga diwajibkan mendistribusikan gula ke daerah jauh-jauh hari guna menghindari kendala akibat hambatan distribusi.

“Tidak ada toleransi bagi perusahaan atau brand tertentu yang menjual di atas Het Rp12.500 per kilogram,” tegasnya.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya