Bulog Divre Sumsel Babel Terkendala Serap Gabah Petani

Oleh: Dinda Wulandari 28 Maret 2018 | 23:42 WIB
Bulog Divre Sumsel Babel Terkendala Serap Gabah Petani
Ilustrasi/JIBI

Bisnis.com, PALEMBANG -- Perum Bulog Divre Sumatra Selatan dan Bangka Belitung cenderung menyerap beras ketimbang gabah dari petani di wilayah tersebut karena keterbatasan sarana maupun prasarana dalam mengolah gabah.

Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Babel, Bakhtiar AS mengatakan pihaknya hanya menyerap sekitar 10 ton -- 20 ton gabah per unit gudang Bulog.

"Penyerapan gabah yang kami lakukan hanya di 4 unit saja, yakni di daerah Telang, Jatimulyo, Kayu Agung, dan Martapura," katanya, baru-baru ini.

Menurut Bakhtiar jumlah mesin pengolahan dan penggilingan Bulog terbatas dan kondisinya sudah tergolong tua.

Oleh karena itu, dia mengemukakan, pihaknya berencana membangun unit gudang pengolahan gabah baru di Sumsel, yakni di Kabupaten Banyuasin dan OKU Timur.

"Untuk dapat mewujudkan program pemerintah untuk lebih maksimal penyerapan gabah perlu dilakukan revitalisasi," katanya.

Dia melanjutkan pembangunan gudang tersebut sudah masuk proses tender. Pembangunannya sendiri memakan waktu 5 bulan. Targetnya, gudang tersebut sudah bisa dipakai tahun ini.

"Dengan adanya unit gudang baru ini maka secara otomatis penyerapan dan pengolahan gabah akan meningkat. Bisa sekitar 200 ton per hari," katanya.

Bakhtiar menjelaskan, untuk penyerapan beras sendiri saat ini sudah perlahan mulai dilakukan.

Tercatat sejak memasuki masa panen tahun ini sudah sebanyak 1.160 ton beras yang masuk gudang sementara kontrak yang berjalan seharusnya mencapai 1.266 ton beras.

Dari penyerapan beras itu, sudah membantu mengisi stok beras di gudang Bulog. Bahkan saat ini jumlah stok beras di gudang Bulog sekitar 15.555 ton beras atau hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar 2 bulan saja.

Bahkan diketahui, stok beras gudang di Bulog itu merupakan juga kiriman beras dari Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.

"Kondisi beras yang ada di gudang Bulog saat ini bisa dibilang cukup meski jumlah penyerapannya masih jauh target realisasi yang harusnya tahun ini mencapai 80.000 ton beras," katanya.

Dia mengemukakan, penyerapan beras yang masih rendah itu dikarenakan saat ini harga pembelian beras dari petani di pasaran cukup tinggi.

Sementara Bulog membeli beras petani sesuai dengan HPP yakni Rp7.300 per kilogram. Hanya saja saat ini, dikenakan harga fleksibilitas 10% dari HPP menjadi Rp8.030 per kg.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya