Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Selasa, 08/09/2009 14:22 WIB
Melirik peluang bisnis animasi
oleh :
Aditya
Animation Director of DreamARCH animation
Teknologi multimedia muncul sebagai revolusi ketiga dalam dunia teknologi informasi setelah automasi (komputasi) dan internet. Pada dasarnya teknologi informasi mempunyai kemampuan untuk menciptakan, memproses, menyimpan, mengirim, dan menyajikan data secara digital. Sebagai "evolusi" dari kemampuan ini adalah banyaknya aplikasi bermanfaat yang bisa dihasilkan untuk menunjang kualitas hidup manusia.
Secara nyata, kita bisa menyaksikan bagaimana automasi menggantikan metodologi konvesnional/manual menjadi serba terkomputerisasi. Lalu internet membuat jarak menjadi semakin tidak berarti dan memudahkan kita memperoleh berbagai informasi yang memperkaya wawasan. Sementara multimedia memadukan unsur seni/art dan teknologi yang membuat aktivitas menjadi terasa lebih mudah dan dinamis.
Dalam pengertian umumnya, multimedia didefinisikan sebagai sebuah sekumpulan elemen baik berupa teks, gambar, video/movie, suara/narasi, sound/musik dan animasi yang terangkum dalam sebuah komposisi produk. Misalnya : opening/bumper tv, flying loggo, company profile, video clip, game, iklan, hingga film. Manfaat nyata dari sebuah produk multimedia adalah penyajian informasi yang lengkap dengan memadukan sekumpulan elemen media di atas sehingga audience dapat menikmati informasi/pesan yang ingin disampaikan secara terperinci, jelas dan akurat. Ringkasnya, teknologi multimedia mampu membawa informasi audio visual secara terintegrasi ke dalam dunia digital.
Sebuah produk multimedia yang berhasil, tidak hanya baik dari sisi fungsi/usability-nya saja, melainkan harus mampu menarik perhatian pengguna untuk menikmati. Bahkan memberikan "pengalaman" (user experience) yang unik dan memikat, yang menjadi pembeda dari kebanyakan produk konvensional lainnya. Jika tujuan ini tercapai maka pengguna akan menjadi target market yang tetap/loyal. Di sinilah animasi memainkan peranan penting dalam industri multimedia.
Secara harfiah, animasi diartikan sebagai sebuah cara atau teknologi membuat hidup atau bergerak. Jadi, menganimasi suatu objek berarti membuat objek tersebut menjadi terlihat hidup. Animasi mulai dikenal secara luas sejak populernya media televisi yang mampu menyajikan gambar-gambar bergerak hasil rekaman kegiatan dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Dibandingkan objek yang diam (tidak bergerak), animasi lebih disukai penonton karena mampu membangkitkan semangat dan menggugah emosi.
Di awal-awal kemunculannya, animasi yang dibuat berbasis pada objek dua dimensi (2D Animation). Revolusioner jenis animasi ini bahkan masih sangat populer digunakan hingga saat ini. Persentase produk terbesar dari jenis animasi ini adalah film-film kartun Walt Disney, kartun Eropa hingga Anime (kartun Jepang).
Dalam beberapa kurun waktu terakhir ini, perkembangan dunia animasi komputer sudah sangat pesat. Apalagi sejak munculnya animasi berbasis tiga dimensi (3D Animation) yang mampu membuat modelling objek dan pergerakannya hampir mendekati kenyataan asli. Hanya saja objek tersebut dibuat di dunia maya (virtual reality).
Seiring dengan semakin banyaknya karya animasi yang belakangan ini makin sering dijumpai dalam berbagai tayangan di televisi, paduan antara seni dan teknologi ini ternyata menyimpan potensi bisnis yang sangat besar. Peluang pasar yang terbuka lebar adalah bisnis rumah produksi animasi (animation house) atau yang lazim juga dikenal sebagai bidang broadcast.
Di negara-negara Barat terutama Amerika, industri di bidang broadcast ini tumbuh sangat pesat. Saat ini industri film hollywood mencetak devisa yang signifikan besar bagi Amerika. Dengan kata lain, industri kreatif mulai menggeser industri yang selama ini mengandalkan sumber daya alam.
Berita paling anyar yang menarik untuk disimak adalah kenyataan bahwa hampir seluruh film-film terlaris sepanjang masa dalam satu dekade terakhir dibuat dengan menggunakan teknik animasi, baik sebagian ataupun keseluruhan film. Sebut saja film Jurrasic Park yang menggegerkan dunia karena mampu menghadirkan kembali binatang prasejarah yang telah punah. Belum lagi film fenomenal Titanic yang mampu mengkombinasikan unsur dramatik film dengan animasi kapal pesiar tenggelam yang fantastis.
Yang masih segar dalam ingatan adalah bagaimana film superhero Spiderman 1&2 mampu memukau penonton dengan menyajikan adegan-adegan yang teramat sangat mustahil untuk diwujudkan tanpa bantuan teknologi animasi komputer. Dalam film Spiderman ini, animasi mampu menghidupkan karakter-karakter dalam sebuah cerita novel ke layar lebar, contohnya adalah film Harry Potter yang diangkat dari novel laris dengan judul sama karangan J.K Rowling.
Semua kenyataan itu menunjukkan datangnya era teknologi multimedia dan animasi memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara lain di bidang teknologi informasi. Sejatinya, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Hal ini diperkuat dengan kayanya konten multimedia yang bisa digali dari kultur budaya Indonesia. Mulai dari musik, video, animasi dan produk kultural khas Indonesia lainnya, dimana semuanya berpeluang untuk diekspor dalam format digital.
Apalagi, kemampuan artistik dari tenaga-tenaga kerja kita, tidak kalah kualitasnya negara-negara lain. Namun satu hal yang membedakan dan menjadi penghambat perkembangan film animasi di Indonesia, terutama dengan Amerika dan Jepang adalah konsep industrialisasi. Di kedua negara maju tersebut, film animasi bukan lagi hasil kerja di satu ruangan secara individual, tetapi sudah menjadi sebuah industri yang dikerjakan secara profesional oleh tim dengan daya jangkau internasional.
Bisakah Indonesia mengejar ketertinggalannya? Jawabannya, sangat bisa asal ada kemauan dan tekad keras.
bisnis.com
Kolom »
-
Melirik peluang bisnis animasi
Aditya
Animation Director of DreamARCH animation
Sang Pangeran Apple Inc
Setyardi Widodo
Wartawan Bisnis Indonesia
Menikmati sukses bisnis online
Eko Purwanto
CEO WEBMEDIA Training Center
Menanti Trans Sumatra Railway
Hilda Sabri Sulistyo
Wartawan Bisnis Indonesia
Merdeka dan motivasi Mbah Surip
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Nalar India Vs Nalar China
Setyardi Widodo
Wartawan Bisnis Indonesia